Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Founder Sang Penggagas; Penulis Buku Powerful Life; Seorang Pecinta Literasi; Bisa dihubungi di agilseptiyanhabib@gmail.com

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Era "Big Data" dan Algoritma Penyeleksi Jodoh

17 Juli 2019   08:50 Diperbarui: 17 Juli 2019   12:27 0 3 0 Mohon Tunggu...
Era "Big Data" dan Algoritma Penyeleksi Jodoh
Era big data membantu seseorang memilih psangannya yang paling sesuai | Sumber gambar : Martin Dimitrov/Getty Images

Dunia digital telah berkembang begitu pesat. Teknologi informasi sudah demikian canggih memasuki berbagai sektor kehidupan. Proses transaksi yang dulunya harus dengan bertatap muka, kini cukup bermodalkan media sosial atau aplikasi chatting saja sudah bisa diselesaikan. 

Cara pemasaran (marketing) yang sebelumnya harus melalui promosi di tempat-tempat strategis dan diketahui banyak orang kini sudah semakin menyasar segmen-segmen tertentu yang dianggap sebagai pangsa pasar sesuai melalui promosi khusus berbasis data. 

Bahkan pemilihan calon pemimpin suatu negara pun kini sudah tidak asing lagi dengan data, khususnya data statistik melalui mekanisme survei yang dimotori oleh lembaga survei. 

Saat ini hampir semua bidang mulai dari industri, ekonomi, sosial, maupun politik menjadikan data sebagai dasar dalam merumuskan strategi atau menentukan suatu keputusan.

Saat ini, didalam dunia marketing tengah populer istilah precision marketing atau pemasaran berbasis data. Facebook ads merupakan media pemasaran yang saat ini sangat diandalkan para pelaku bisnis online untuk mempromosikan bisnis mereka kepada kalangan tertentu dengan kriteria-kriteria yang dianggap sesuai. 

Pemasaran produk akan menyasar pada orang-orang yang dianggap tepat, sehingga goal dari marketing lebih mungkin untuk tercapai. Prinsip kerja precision marketing sendiri adalah dengan memanfaatkan big data atau data pengguna media sosial berikut segala aktivitas yang dilakukan selama menjelajah dunia maya. 

Pada saat kita mengakses Facebook, status yang kita like atau informasi yang kita share akan terekam sebagai aktivitas kita. Seiring waktu kita menjalankan aktivitas di dunia maya, klik like pada beberapa status, mengunjungi beberapa situs, berkomentar pada beberapa informasi yang tersebar, dan sejenisnya semua hal itu terekam sebagai bagian dari data kita. 

Setiap pengguna internet memiliki rekam jejaknya masing-masing yang pada satu titik tertentu memungkinkan untuk dianalisis terkait kegemaran, kecenderungan, ataupun minat kita terhadap suatu hal tertentu. Jikalau dipaparkan dalam wujud grafis, maka akan terlihat "penampakan" big data kita.

Kita sebagai pengguna teknologi internet dan pengunjung berbagai situs mungkin sudah tidak asing lagi saat diminta menginformasikan nama, nomor telepon, dan email sebelum men-download suatu video atau e-book

Setelah menerima notifikasi via email kemudian kita bisa melakukan unduhan. Hal ini sebenarnya merupakan bagian dari pengumpulan data yang dilakukan oleh penyedia layanan untuk mempromosikan produk-produknya secara langsung kepada orang-orang yang tepat.

"Big data" untuk mendapatkan jodoh?
Sekarang dan pada masa yang akan datang kita akan semakin larut menjadi bagian dari eksistensi big data. Ketika hampir semua lini kehidupan saling terkoneksi satu sama lain, kehidupan seseorang lebih memungkinkan untuk dianalisis dengan menggunakan semua data itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4