Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Seorang pecinta literasi, pengagum psikologi science, dan pengikut nilai-nilai mulia spiritualitas

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Setop Mencampuri Keyakinan Beragama Mereka

24 Juni 2019   11:32 Diperbarui: 25 Juni 2019   12:05 0 6 1 Mohon Tunggu...
Setop Mencampuri Keyakinan Beragama Mereka
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nonaktif Ma'ruf Amin (kanan) saat megimami Sholat Maghrib Artis Deddy Corbuzier (kedua kiri), Ulama Gus Miftah (ketiga kiri) dan Ulama Yusuf Mansur (keempat kiri) di kediamannya di Jakarta, Jumat (21/6/2019). Kedatangan Deddy Corbuzier menemui Ma'ruf Amin untuk meminta doa sekaligus agar lebih mengenal islam usai Deddy Corbuzier resmi memeluk agama Islam. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

Tanggal 21 hari yang lalu banyak media masa yang memberitakan perihal Deddy Corbuzier yang memutuskan untuk menjadi sorang muallaf. Namun tidak berselang beberapa lama setelah ia mengikrarkan syahadat dan kemudian ikut menunaikan sholat lima waktu berjamaah yang diikuti dengan beredarnya foto ketika Deddy menunaikan salat, ada saja netizen yang berkomentar atas caranya mengerjakan sholat. 

Sebuah sikap yang menurut penulis sangat tidak perlu dilakukan. Mengapa kita sampai perlu merasa untuk mengoreksi orang lain yang menunaikan ritual agamanya?

Ketika masa kampanye pemilihan presiden (pilpres) dulu tengah gencar-gencarnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun tidak terlepas dari sasaran kritik para netizen yang tidak sepakat dengan aktivitas ritual keagamaan beliau. 

Saat menjadi imam sholat dikritik, saat beribadah ke masjid dianggap pencitraan, dan lain sebagainya. Bapak Prabowo Subianto pun sebenarnya juga tidak terlepas dari kritik serupa. 

Malah mungkin kita sebenarnya harus mengelus dada tatkala membanding-bandingkan satu orang dengan orang lain dalam menjalankan ibadahnya. Yang satu dianggap tulus, yang lain dianggap pencitraan, dan sebagainya. Patut untuk kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, sebegitu berhakkah kita menilai keyakinan beragama orang lain? 

Sebegitu tinggikah ilmu agama kita hingga mampu menilai orang lain tidak berilmu agama, kafir, dan sejenisnya? Pernahkah kita menanyakan kualitas ibadah kita sendiri? 

Jika untuk sholat lima waktu saja masih bolong-bolong, tidak perlulah menilai sholat orang lain. Apabila sebatas mengetahui satu dua hadits saja, tidak perlulah menilai berlebihan orang lain. Apakah kita sudah lebih layak menilai kualitas ibadah seseorang dibandingkan malaikat Raqib dan Atid yang setiap saat selalu siap sedia mencatat amal ibadah kita?

Dalam beberapa kesempatan saya menyadari bahwa terkadang melihat adanya publik figur yang tengah menjalani ibadah berdasarkan keyakinannya dalam beragama seperti ada hasrat yang menggelitik untuk berkomentar, untuk menilai, atau bahkan mengkritik. Memang kita semua memiliki persepsi serta pemahaman masing-masing. 

Akan tetapi menganggap bahwa semua pemahaman yang kita miliki adalah mutlak kebenarannya adalah sebuah sikap yang jauh dari bijaksana. Merasa paling tahu, tidak berarti menjadikan seseorang paling berpengatahuan. 

Ada beberapa hal yang mesti kita nilai dari diri kita masing-masing. Berada dalam kuadran manakah diri kita, mengetahui bahwa diri kita tahu? Mengetahui bahwa diri kita tidak tahu? Tidak tahu bahwa diri kita tahu? Atau kita tidak tahu bahwa diri kita sebenarnya tidak tahu? 

Sebaik-baik orang yang berpengetahuan, berilmu, bukanlah mereka yang banyak bicara dan sibuk menilai orang lain. Pertanyaannya, sebagai orang seperti apakah diri kita?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2