Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Seorang pecinta literasi, pengagum psikologi science, dan pengikut nilai-nilai mulia spiritualitas

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Pemblokiran Medsos dan Puasa Digitalnya "Netizen"

23 Mei 2019   07:08 Diperbarui: 23 Mei 2019   07:22 0 2 1 Mohon Tunggu...
Pemblokiran Medsos dan Puasa Digitalnya "Netizen"
Ketiadaan akses berselancar di medsos bukanlah akhir dari segalanya (Ilustrasi gambar : https://telset.id)

Berapa kali dalam sehari kita membuat update status di media sosial (medsos) kita? Seberapa sering kita melakukan chatting atau komunikasi menggunakan aplikasi whatsapp, facebook messeger, atau yang lainnya? Hampir setiap saat kita tidak terpisahkan dengan dunia digital ini. Sedari bangun tidur hingga tidur lagi berselancar di dunia maya adalah sesuatu hal yang biasa. Kita adalah citizen sekaligus netizen.

Sebagai bagian dari netizen, tanggal 22 Mei kemarin barangkali menjadi salah satu "ujian berat" yang mesti dilalui. Hari-hari yang biasanya dihabiskan untuk membuat update status di medsos seketika terhenti. 

Waktu-waktu yang biasanya dipenuhi dengen fokus pandangan ke layar smartphone tiba-tiba hilang begitu saja karena tidak bisa melakukan obrolan via chatting sebagaimana biasa. 

Iya, pemblokiran medsos yang dilakukan oleh pemerintah membuat suasana begitu berbeda dari biasanya. Tidak ada pembaharuan status medsos, tidak ada perang kata-kata, tidak ada kegaduhan medsos seperti biasanya. 

Mungkin kebijakan yang dimaksudkan sebagai penangkal provokasi terkait aksi di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) ini disatu sisi membatasi hak netizen berselancar di dunia maya, namun disisi lain juga bisa meredam situasi yang tengah memanas pasca pengumuman hasil pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Barangkali kemarin (atau bahkan hingga sekarang) pemerintah memberikan kita kesempatan untuk "berpuasa".

Saat berpuasa, lisan kita mungkin bisa menahan keluarnya kata-kata yang buruk dan menyakiti hati orang, perbuatan kita barangkali juga terlihat berada dalam kendali.

 Namun apakah tulisan-tulisan atau update status yang kita buat juga demikian halnya? Terlebih ketika terdapat isu seperti aksi di depan kantor Bawaslu yang sangat rentan untuk dipelintir pemberitaannya. 

Sebuah situasi yang tentunya berpotensi menimbulkan kegaduhan publik dan menciptakan suasana kurang kondusif. Sehingga sangat penting juga bagi kita untuk ikut menjaga status di medsos serta etika di dunia maya. 

Sebenarnya jika kita semua dengan bijak memanfaatkan internet serta menjadi warga net yang baik, bisa jadi pemblokiran seperti ini tidak perlu dilakukan. Sudah tidak aneh lagi kita menemukan posting yang bersifat provokatif, sesuatu yang selama beberapa waktu terakhir begitu masif terjadi. 

Laman facebook kita penuh dengan perang kata-kata, broadcast messege tidak jarang berisi seruan yang penuh provokasi, dan lain sebagainya. Oleh karena itulah langkah-langkah preventif perlu dilakukan sehingga hal-hal yang tidak diinginkan bisa dicegah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2