Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Seorang pecinta literasi, pengagum psikologi science, dan pengikut nilai-nilai mulia spiritualitas

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Wahai Pengendara Motor Kalian Bukan "Rider" MotoGP!

21 Mei 2019   14:15 Diperbarui: 22 Mei 2019   11:00 0 11 2 Mohon Tunggu...
Wahai Pengendara Motor Kalian Bukan "Rider" MotoGP!
Sepeda motor di belokan atau tikungan| Sumber: Picture Newsletter

Dalam beberapa kesempatan berkendara di jalan raya pernahkah kalian menjumpai seseorang yang memacu kendarannya dengan laju begitu kencang, terkadang meliuk-liuk menyalip pengendara motor lain, dan saat berbelok di tikungan melakukan manufer dengan "merobohkan" sepeda motornya layaknya rider MotoGP yang tengah berbelok di tikungan melibas lawan-lawannya. 

Apa yang kalian rasakan tatkala disebelah kalian ada seseorang yang berkendara seperti itu? Biasa saja? Khawatir jika terjadi kecelakaan? Atau masa bodoh dengan hal itu? Apapun pandangan kita kepada mereka, satu hal yang pasti bahwa cara berkendara seperti itu berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintang yang bisa jadi menelan korban jiwa.

Mengendarai motor cc besar seperti para rider MotoGP memang dikesankan keren. Sehingga tidak mengherankan banyak geng motor yang terbentuk atas dasar mereka yang sama-sama menggunakan motor seperti itu. Bahkan hal ini sampai diangkat dalam cerita sinetron di televisi dengan rating yang cukup tinggi. Artinya, mengendarai sepeda motor ala rider MotoGP ini memang cukup digandrungi masyarakat, khususnya kawula muda.

Terkait dengan cara berkendara di jalan raya yang ingin mengesankan keberadaan jiwa rider didalamnya, hal ini sebenarnya kurang tepat untuk dilakukan. Bagaimanapun juga jalan raya adalah hak semua pengguna jalan, bukan monopoli beberapa orang semata. Terlebih mereka yang memiliki motor cc besar saja. Mengesankan diri agar terlihat laksana seorang rider MotoGP dengan cara berkendaranya mungkin bagi si pelaku dianggap wajar, keren, atau biasa-biasa saja.

Akan tetapi bagi pengguna jalan yang lain belum tentu demikian. Pengguna jalan raya bukan hanya menggunakan sepeda motor saja, ada yang mengendarai mobil, ada yang menyetir container, ada angkutan kota (angkot), dan lain sebagainya. 

Dengan situasi jalanan yang serba tidak menentu, melakukan manufer bak pebalap profesional adalah sebuah tindakan penuh risiko. Bagaimana kalau selip? Bagaimana kalau rem blong? Bagaimana kalau menyenggol kendaraan atau pengendara lain? Setiap orang hanya punya satu nyawa saja. Sekali terjadi musibah, maka nyawa yang melayang tidak akan pernah kembali lagi. Hanya penyesalan yang datang menghinggapi.

Buat apa punya motor kenceng tapi tidak dioptimalkan potensinya? It's ok. Asalkan tidak kebablasan dalam berkendara tidak menjadi masalah. Salah satu yang disebut berlebihan disini di antaranya meniru manufer ala rider sewaktu melaju di tikungan. Tidakkah kita melihat seperti apa rider MotoGP yang jatuh terseret motornya ketika ia mengalami selip di tikungan? Mereka terlihat tidak mengalami masalah apa-apa kerena memang sudah memakai baju safety pebalap.

Lalu bagaimana jika hal itu terjadi pada mereka yang berkendara di jalan raya tanpa dilengkapi perlengkapan keamanan berkendara yang mumpuni? Sekadar helm ber-SNI saja tidak akan cukup untuk melindungi diri pengendara. Lecet, luka gores, atau bisa jadi patah tulang sangat berpotensi terjadi.

Bahaya ini harus disadari oleh setiap pengendara motor. Karena saat ini cukup sering dijumpai mereka yang berkendara dengan gaya rider MotoGP, meski sebenarnya motor yang mereka pakai masih seperti sepeda motor kebanyakan. Hanya gaya mereka saja yang mengesankan diri bak pebalap profesional.

Berkendara di jalan raya harus lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan pribadi dan orang lain (Ilustrasi gambar : https://elangjalanan.net)
Berkendara di jalan raya harus lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan pribadi dan orang lain (Ilustrasi gambar : https://elangjalanan.net)
Motivasi di balik cara berkendara ala rider
Apa sih sebenarnya motivasi orang-orang ini mengendarai sepeda motornya dengan cara demikian? Buru-burukah? Ingin terlihat keren kah? Pamer kah? Entah apapun motif yang melandasi mereka itu sebenarnya tidak memiliki urgensi apapun. 

Jikalau atas dasar diburu waktu, maka mengapa tidak berangkat saja lebih awal daripada harus tergesa-gesa yang malah mungkin bisa mencelakakan nyawanya sendiri? Apabila hanya demi gengsi apa gunanya jika sampai harus mempertaruhkan keselamatan diri sendiri? Sungguh motivasi ini sangat tidak tepat untuk dijadikan alasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2