Agil S Habib
Agil S Habib Writer

Sebuah perubahan dimulai dari kebulatan tekad, kekuatan niat, dan kemantapan hati.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Fast Decision Smart Decision, Sebuah Kompetensi Society 5.0

22 Maret 2019   08:47 Diperbarui: 24 Maret 2019   13:54 254 5 2
Fast Decision Smart Decision, Sebuah Kompetensi Society 5.0
Kita butuh memutuskan sesuatu dengan cepat dan tepat (Ilustrasi gambar : www.dailyasianage.com)

Dunia yang semakin cepat memaksa kita untuk mengikuti ritmenya. Perubahan terjadi begitu singkat dan seringkali tidak disangka-sangka. Apabila kita tidak mampu menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi ini dengan segera, maka kemungkinan besar kita akan tertinggal jauh oleh arus perubahan itu. 

Tergerus oleh masa, terbawa arus waktu, dan tenggelam oleh realita yang terus berubah adalah keniscayaan bagi siapapun yang tidak adaptif terhadap perubahan. 

Kemampuan diri untuk beradaptasi sangat ditentukan oleh kecakapan dalam mengambil keputusan secara cepat namun juga tepat. Sekadar cepat dalam mengambil keputusan tetapi tidak tepat dapat menimbulkan efek negatif di kemudian hari. 

Sedangkan keputusan tepat namun tidak cepat dalam menentukannya hanya membuat kita ketinggalan momentum. Akhirnya keputusan tersebut hanya menjadi sesuatu yang sia-sia saja.

Kita terlanjut menerima paradigma don't judge book by it's cover. Sehingga dalam mengambil sebuah keputusan kita cenderung memperlama pengamatan kita, mengumpulkan referensi yang lebih banyak, dan menganalisa lebih lanjut baru kemudian menentukan keputusan akhir. 

Pertimbangan kita terkesan begitu lama demi menghindari kesalahan dalam menilai. Di sisi lain, waktu tidak pernah melambat sedikitpun. Bahkan arus zaman bergerak lebih cepat daripada sebelumnya, dan kita pun semakin terkungkung oleh paradigma yang dipahami secara tidak tepat.

Perkembangan zaman telah menuntut kita untuk bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Termasuk di antaranya adalah dalam menentukan pengambilan keputusan. Keputusan harus diambil secara cepat dan tepat. Kita harus mampu menilai kualitas sebuah "buku" hanya berdasarkan pada "sampul" saja. 

Penglihatan kita yang sekilas terhadap sesuatu diharapkan dapat menjadi sumber terpercaya dan valid dalam mengambil kesimpulan. Bisakah? Malcolm Gladwell melalui buku Blink memberikan penjelasan rinci bahwa sebuah keputusan tepat ternyata dapat diambil hanya berdasar pada petunjuk-petunjuk tipis nan samar. 

Seorang pakar kuliner dapat menilai kualitas keseluruhan suatu makanan hanya dengan mencicip sekecap saja. Seorang top executive dapat menyimpulkan sebuah prospek bisnis cerah atau tidak dengan hanya membaca selembar laporan saja. 

Talent scout dapat menilai seorang pemain bola punya bakat luar biasa melalui pengamatan di satu babak pertandingan saja. Namun, fast decision smart decision ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, terlebih oleh mereka yang awam terhadap sesuatu hal.

Ada beberapa persyaratan yang harus kita penuhi agar memiliki kemampuan mengambil keputusan secara cepat namun juga tepat ini. Bukanlah suatu kemustahilan bagi siapapun untuk dapat judge a book by it's cover. Berikut adalah dua persyaratan utama yang harus kita penuhi:

Memperluas Wawasan Luas di Suatu Bidang
Seorang pakar kuliner sekalipun tidak akan memiliki kemampuan untuk menilai pemain muda berbakat dalam permainan sepak bola sebaik yang dimiliki oleh talent scout yang sudah memahami seluk beluk permainan ini sekian lama. Wawasan yang dimiliki ahli kuliner tidaklah sebanding dengan wawasan talent scout yang sehari-harinya menggeluti olah raga ini. 

Begitu juga sebaliknya, seorang talent scout tidak akan setara kapasitasnya dalam menilai kuliner dibandingkan pakar kuliner tadi. Masing-masing memiliki wawasan dengan ranah atau bidang yang berbeda. Spesialisasi atau preferensi setiap orang bisa jadi berbeda-beda satu sama lain, sehingga kemampuan mereka dalam menilai pun akan berbeda-beda pula.

Ketika kita setiap hari bergelut dengan data statistik dan angka-angka, maka secara alamiah kita akan lebih peka dalam menilai sebuah data sejenis yang disajikan kepada kita. Prinsip serupa terjadi di berbagai bidang yang lain dengan catatan penting bahwa wawasan kita haruslah menyeluruh terhadap bidang tersebut. Bukan sekadar wawasan parsial semata. 

Tokoh detektif fiktif, Sherlock Holmes, berpandangan bahwa otak seseorang ibarat sebuah atap rumah dengan pengetahuan yang disimpan dalam memori sebagai genting rumahnya. Apabila pengetahuan baru masuk, maka ia akan menggantikan pengetahuan lama yang sudah ada di otak kita seperti halnya sebuah genteg baru yang akan bisa dipasang apabila melepas genteng yang lama terlebih dahulu. 

Bertumpuknya informasi di dalam otak seseorang di satu sisi memberikan keuntungan, namun di sisi lain juga menimbulkan kerugian. Keuntungannya mungkin kita memiliki wawasan yang beragam, sedangkan kerugiannya adalah kita tidak memiliki wawasan yang mendalam. Orang-orang yang punya kapasitas mumpuni menilai sebuah bisnis adalah mereka yang telah berkecimpung lama di sana. Seperti halnya talent scout atau pakar kuliner yang menghabiskan sebagian besar kehidupannya berkecimpung pada bidangnya masing-masing.

Kontinuitas Mengasah Informasi
Menanamkan pengetahuan dalam satu bidang tertentu dalam durasi lama membuat seseorang memiliki feel tertentu. Dalam artikel saya sebelumnya, Membuat Keputusan Berdasarkan "Feeling", sebagian sudah saya singgung bahwa kunci utama seseorang agar memiliki kemampuan mengambil keputusan secara tepat adalah kualitas wawasan yang tersimpan di alam bawah sadarnya. Storage informasi di alam bawah sadar memiliki kemampuan luar biasa dalam mendukung kita ketika butuh memutuskan sesuatu secara cepat. 

Apabila kita menginginkan hasil keputusan cepat tersebut juga menjadi keputusan yang tepat, maka kita harus mengisi storage informasi di alam bahwa sadar kita dengan informasi-informasi valid yang memiliki korelasi erat dengan sesuatu yang diputuskan tersebut. 

Di sinilah arti penting memilih dan memilah informasi mana saja yang perlu untuk disimpan dan mana yang tidak perlu. Jangan sampai basis data yang tersimpan di dalam sistem bawah sadar kita justru saling bertolak belakang satu sama lain. Akhirnya kita menjadi berlama-lama dalam mengambil keputusan.

Mengasah kemampuan dalam bidang tertentu haruslah dilakukan dari waktu ke waktu. Mau tidak mau kita dituntut untuk menjadi seorang spesialis apabila menginginkan kemampuan lebih dalam menilai. Sehingga tidak jarang kita jumpai orang-orang yang berkonsultasi dalam bidang hukum, konsultasi psikologi, konsultasi bisnis, dan lain sebagainya kepada orang-orang yang dianggap expert di bidangnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2