Agil Nanggala
Agil Nanggala Mahasiswa

Semangat Meritokrasi

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Brand Politik Seorang Pemimpin

13 Februari 2018   20:58 Diperbarui: 14 Februari 2018   20:17 349 0 0
Brand Politik Seorang Pemimpin
Dr. (H.C). K. H. Abdurrahman Wahid (sufipedia.id)

Saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempengaruhi setiap sendi kehidupan umat manusia, rasanya saat ini tidak bisa hidup tanpa bantuan teknologi, sehingga teknologi telah menjadi kebutuhan hidup umat manusia, hal tersebut wajar jika penggunaan teknologi dipergunakan sesuai peruntukannya. Begitupun dengan kehidupan politik suatu bangsa, berita politik akhir-akhir ini menjadi hidangan lezat masyarakat, hal tersebut tidak luput dari faktor kemajuan teknologi, sehingga dengan handphone,di manapun dan kapanpun berita politik selalu bisa kita update

Kembali pada hidangan lezat berupa “berita politik”,  fenomena yang tumbuh hari ini adalah, masyarakat seolah menjadi pengamat politik, karena berita para politisi itu terdeteksi oleh masyarakat, hal ini menandakan bahwa masyarakat semakin cerdas dalam memahami perubahan zaman, dan membuat politisi harus berhati-hati, karena setiap tindakan politik yang mereka ambil akan menimbulkan sebuah persepsi publik.

Dengan kemajuan teknologi, seorang politisi yang ingin menjadi seorang pemimpin, memiliki beberapa tantangan tertentu, seperti bagaimana politisi tersebut membangun sebuah citra publik, meningkatkan elektabilitas, mensosialisasikan dirinya, sehingga pada akhirnya membangun sebuah “brand politik”, mengapa hal tersebut harus dilaksanakan, karena dengan masyarakat yang sudah cerdas, kecenderungan mereka untuk digiring melalui arus politik, menjadi tidak efektif lagi, hal tersebut dipengaruhi oleh persepsi dari setiap individu. 

Oleh karenanya politisi harus saling berlomba untuk merebut persepsi publik yang baik, karena semakin politisi tersebut mendapat persepsi yang baik, maka semakin cepat brand politik akan terbangun, dan dengan brand politik yang baik maka akan meningkatkan peluang politisi meraih kemenangan dalam pemilihan umum.

Berbicara tentang politik tentu kita berbicara mengenai kekuasaan, Harold D. Laswell, berpendapat bahwa politik adalah “siapa mendapat, apa, kapan dan bagaimana”, bukan tanpa sebab, karana politik berbicara bagaimana seorang mendapatkan kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan merebut kekuasaan, lumrah, karena pada akhirnya manusia mencari kemuliaan, proses mendapatkan, mempertahankan, atau merebut kekuasaan, tidaklah semudah yang dibayangkan, diperlukan seni mempengaruhi orang lain, karena masyarakat yang menentukan siapa yang berkuasa, sehingga memenangkan hati masyarakat merupakan harga mati bagi seorang politisi. 

Kemajuan teknologi ini bisa menjadi peluang ataupun bumerang bagi politisi, karena setiap perilaku politik mereka dapat diketahui oleh masyarakat, tentu dengan hal itu politisi haruslah berhati-hati dalam bersikap, terutama sikap tercela yang sangat dibenci bangsa seperti korupsi, memang pembuktian bersalah atau tidaknya itu tergantung keputusan dari aparat hukum atau pengadilan, tetapi, sanksi sosial yang diberikan oleh masyarakat lebih terasa, bahkan bersentuhan langsung dengan harga diri atau nama baik, kiranya inilah yang harus diperhatikan, jangan sampai perilaku kita merugikan orang lain, terlebih lagi politisi yang sejatinya menjadi tokoh publik, haruslah menjadi teladan bagi masyarakatnya.

Merebut kekuasaan dengan cara yang beradab, setiap golongan memiliki kepentingan politik yang berbeda-beda, karena kepentingan politik tergantung dari agenda golongan politik, setiap orang pernah di atas dan pernah di bawah dalam  kehidupannya, hal tersebut berlaku dalam politik, ada golongan yang berkuasa, ada juga golongan yang tidak berkuasa, biasanya ikut berkoalisi menjadi bagian penguasa atau menjadi penyeimbang sebagai oposisi, kiranya pembagian peran sebagai koalisi dan oposisi itu baik, karena peluang penyalahgunaan kekuasaan cenderung akan sedikit kemungkinannya. 

Perebutan kekuasaan secara sah dalam politik dapat dilaksanakan pada saat pemilu, konsep pemilu yang menggunakan sistem “one man one vote”, mengharuskan politisi berjibaku dengan politisi lainnya untuk merebut suara mayoritas masyarakat, berjibaku idealnya dilaksanakan dengan mengadu program kerja, meningkatan brand politik, dan hal positif lainnya, membuat masyarakat ikut terlibat dalam menilai atau memberi tanggapan.

Pendidikan politik memang nyata terjadi dalam masyarakat, keliru jika berjibaku menggunakan politik yang tidak beradab atau yang kita kenal sebagai “kampanye hitam”, seperti menggunakan isu suku, agama ras dan antar budaya, penjatuhan nama baik, dan yang lainnya, meskipun berpolitik, tetap kepentingan bangsa dan negara ada di atas segalanya. Seorang politisi yang telah memiliki brand politik yang baik, dan telah menjadi ciri khas, tentu memiliki nilai jual yang lebih, tinggal bagaimana caranya konsisten dengan brand politiknya untuk meyakinkan masyarakat.

Kesejahteraan dan peningkatan kecerdasan masyarakat harus menjadi prioritas dalam berpolitik, walaupun politik berbicara tentang kekuasaan, tetapi tujuan akhir politik harus berbicara mengenai kebaikan masyarakat, karena penguasa diberi mandat oleh konstitusi untuk menjalankan roda pemerintahan, esensi yang tidak boleh dilupakan oleh seorang politisi, dibutuhkan seorang politisi yang pembaharu, yang tidak membuat jemu. Inilah dunia politik, kadang menjadi drama yang dikonsumsi oleh publik, di mana selalu terlibat dengan kekuasaan, kepentingan dan kadang kemunafikan.