Mohon tunggu...
Afriyanto Sikumbang
Afriyanto Sikumbang Mohon Tunggu... Penulis

Belajar mensyukuri apa yang kita miliki

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Kasus Jiwasraya dan Krisis Kepercayaan Nasabah

24 Januari 2020   16:02 Diperbarui: 24 Januari 2020   16:11 109 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kasus Jiwasraya dan Krisis Kepercayaan Nasabah
jakartaglobe.id

Perusahaan tempat saya bekerja dulu menaruh dana pensiun karyawan di Jiwasraya. Namanya Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Jiwasraya. Oleh Jiwasraya, karyawan diminta memilih instrumen investaasi apa yang akan dipilih untuk pengembangan dana pensiun tersebut.

Ada 3 pilihan yang ditawarkan. Pertama, deposito. Kedua, saham dan reksadana. Ketiga, kombinasi nomor satu dan nomor dua.

Masing-masing pilihan ada plus minusnya. Pilihan pertama minim risiko, tapi return-nya juga kecil. Pilihan kedua peluang return-nya besar, tapi risikonya juga besar. Adapun pilihan ketiga return dan risikonya fifty-fifty. Tak mau ambil risiko, saya pilih yang nomor satu.

Beberapa tahun kemudian, teman saya mengeluh. Akumulasi hasil DPLK-nya anjlok. Ternyata dia mengambil pilihan kedua. Kala itu banyak saham yang berguguran.

Untuk kasus ini, Jiwasraya tidak bisa disalahkan, karena yang memilih instrumen investasinya adalah nasabah sendiri.

Namun persoalan menjadi lain ketika Jiwasraya yang menentukan sendiri jenis instrumen investasinya, dan nasabah tinggal setor uang atau premi untuk produk asuransi yang mereka ambil. Jiwasraya harus bertanggung jawab terhadap dana nasabah yang diputar, termasuk harus membayar penuh ketika jatuh tempo.

Kebanyakan perusahaan asuransi lebih memilih instrumen investasi yang memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat, tanpa memedulikan risiko yang bakal dihadapi. Dengan kata lain, mereka ingin mengeruk keuntungan besar melalui jalan pintas.

Industri asuransi saat ini sedang diuji. Tak tanggung-tanggung, tiga perusahaan yang menanggung kerugian, yaitu Bumiputra, Jiwasraya, dan Asabri. Sudah pasti, kepercayaan masyarakat terhadap asuransi turun drastis. Masyarakat pasti akan berfikir dua kali untuk berasuransi. Perusahaan asuransi yang sehat tentu terkena imbasnya.

Oleh karena itu, sejak sekarang, masyarakat yang memiliki uang sebaiknya lebih teliti dalam memilih instrumen investasi. Kalau hanya sekadar untuk menjamin hari tua atau untuk biaya sekolah anak, tidak harus selalu bergantung pada asuransi. Masih banyak instrumen investasi lain yang lebih aman. Sebut saja misalnya properti atau emas.

Para konsultan keuangan juga banyak yang menyarankan agar masyarakat menginvestasikan dananya di properti atau emas. Karena selain aman, kedua instrumen ini nilainya cenderung terus naik.

VIDEO PILIHAN