Afriantoni Al Falembani
Afriantoni Al Falembani Tenaga Pendidik

Menulis dengan hati dalam bidang pendidikan, politik, sosial, fiksi, filsafat dan humaniora. Salam Sukses Selalu.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kelulusan "Liar" di Era Revolusi Mental

5 Mei 2018   22:40 Diperbarui: 5 Mei 2018   22:50 727 0 0

Beberapa hari lalu saya kaget karena menyaksikan cara generasi now dalam menyambut dan merayakan kegembiraan kelulusan mereka menyelasaikan studi SMA dan SMP. Miris menyaksikan cara mereka larut dalam meluapkan kegembiraan. Bayangkan, hampir  setiap tahunnya pasti ada korban, dan ekspresi jalanan mereka seperti manusia yang tak pernah mengenyam pendidikan.

Satu kata untuk kelulusan tahun ini revolusi mental masih dipertanyakan. Bayangkan perilaku pelajar yang baru lulus ini seolah di luar norma kebiasaan. Bayangkan, video yang memperlihatkan beberapa siswa dengan baju dicorat-coret menari di lingkungan sekolah viral di media sosial. Beberapa orang menilai tarian tersebut tidak pantas dilakukan di lingkungan sekolah. Beberapa siswi bahkan menari dengan menggoyangkan pinggul layaknya penari tiang. (tribun.medan.com).

Tidak hanya itu, ada diantara mereka menggunakan jilbab. Jelas, sesungguhnya jilbab tidak mencerminkan sifat kepribadian sendiri. Fungsi jilbab sama dengan baju yaitu menutup aurat yang sesuai dengan kaidah Islam (QS:Al Ahzab: 59). Jilbab tidak mencerminkan kepribadian, apakah semua ini benar. Pantaskah?.

Banyak bertanya sekolah dimana itu ?, berjingkrak-jingkrak tidak karuan di tiang bendera !!!. Sungguh memalukan dan beretika dan sopan santun !!!. Silahkan menilainya sendiri?. Buang kebodohan secepatnya tanamkan sifat yang bersih.

Sungguh sangat mengejutkan perilaku mereka dengan gaya goyangan yang mengundang birahi. Sangat tidak etis. Padahal, baik di rumah maupun sekolah  tidak ada yang mengajari mereka.  Tentu bukan salah ibu yang telah mengandung dan memberikan makanan. Dan juga bukan salah guru mendidik tapi kalian adalah seseorang yang tidak pernah bersyukur serta tidak bisa mengenang, menghargai jasa-jasa pahlawan yang bersumpah darah demi NKRI untuk memperkuat budaya lokal. 

Sekali perilaku mereka tidak pantas dimanakah letak pikiran mereka seperti tidak punya pendidikan di bawah bendera sang merah putih, serta tidak bisa memberi contoh yang baik buat adik-adik di sekolah.

Bahkan menurut pantauan www.tribun-medan.com dari akun facebook Eris Riswandi pada Jumat (4/5/2018) sekitar pukul 13.30 WIB, video ini telah disaksikan lebih dari 353 ribu kali, bahkan di bagikan lebih 1400 warganet.

Perilaku mereka tidak pantas dimanakah letak pikiran mereka seperti tidak punya pendidikan di bawah bendera sang merah putih, serta tidak bisa memberi contoh yg baek buat adik-adik di sekolah.

Bahkan menurut pantauan www.tribun-medan.com dari akun facebook Eris Riswandi pada Jumat (4/5/2018) sekitar pukul 13.30 WIB, video ini telah disaksikan lebih dari 353 ribu kali, bahkan di bagikan lebih 1400 warganet.

Mana revolusi mental yang selama ini begitu menggema di seantero nusantara?. Memamg tidak semua generasi seperti ini. Banyak dari mereka sedang berjuang untuk menyiapkan masa depannya termasuk masa depan bangsa menjadi lebih baik.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Gurukah? Kepala sekolah?. Pemerintah (lurah, camat sampai Presiden termasuk Kepala Dinas Diknas sampai menteri?. Bagaimana dengan orang tua, ayah dan ibu? Kemudian masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama?. Mana semua peran mereka?.

Terakhir, untuk situasi saat ini, semua pihak introspeksi untuk ikut bertanggungjawab sesuai porsi dan posisi masing-masing. Bukan saling menyalahkan atau mencari kambing hitam.

Sekecil apapun peran dan tanggungjawab. Mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah harus bersinergi membangun bangsa ini melalui pendidikan. Kesadaran semua pihak akan pentingnya pendidikan bagi santri adalah sebuah keniscayaan.(*)

Afriantoni

Peneliti Public Association Social and Religius Life