Afriantoni Al Falembani
Afriantoni Al Falembani Tenaga Pendidik

Menulis dengan hati dalam bidang pendidikan, politik, sosial, fiksi, filsafat dan humaniora. Salam Sukses Selalu.

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Dilema Gerindra dan Ambisi PKS

10 April 2018   22:21 Diperbarui: 11 April 2018   07:14 4510 3 3
Dilema Gerindra dan Ambisi PKS
(pemiluupdate.com)

Afriantoni

Saat ini kedua partai yang mengklaim sebagai oposisi yakni Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sedang mengalami pertarungan ide antar keduanya mana yang terbaik untuk muncul sebagai capres dan cawapres.

Dilema ini diawali muncul 9 nama capres dan cawapres tahun 2019 dari PKS, diantaranya: Dr Ahmad Heryawan, Lc, MA, Dr M. Hidayat Nur Wahid, M. Anis Matta, Lc, Prof Dr Irwan Prayitno, M. Sohibul Iman, PhD, Habib Dr Salim Segaf Al Jufri, Ir Tifatul Sembiring, Drs Al Muzammil Yusuf, MS, dan Dr Mardani Ali Sera.

Ternyata kesembilan nama ini juga membuat Gerinda menjadi kesulitan menentukan sikap. Deklarasi yang direncanakan akan digelar pada 11 April 2019 nanti terancam gagal. Hal ini disebabkan masih banyak pertimbangan mendasar. Jika Presiden PKS dan Fadli Zon mendorong agar deklarasi ini jadi, tetapi keputusan ada ditangan Prabowo. Namun, ia mengalami dilema.

Desakan paling lantang disampaikan oleh kader PKS Mardani Ali Sera yang berharap agar Partai Gerindra segera mendeklarasikan calon presidennya. Sebab, menurutnya, lebih cepat lebih baik. 

Soal elektabilitas Prabowo masih jauh di bawah Jokowi itu tidak menjadi masalah. Menurut Mardani elektabilitas tidak selalu menentukan kemenangan.

Disisi yang berbeda Partai Gerinda sedang mempertimbangkan segala sesuatunya untuk siap berkompetisi merebut kekuasaan dan membangun  bangsa dan negara ini. Prabowo masih menghitung dengan cermat kapan akan mendeklarasikan sebagai calon presiden.

Dorongan mereka yang pro bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin kuat, paham benar tentang  ekonomi kerakyatan agar rakyat bisa berdaulat di negeri sendiri. Rakyat tidak menjadi pembantu dan tenaga sukarela di negeri sendiri, di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan, tanah air Indonesia.

Kelambanan Gerindra juga disebabkan upaya mencari pemimpin mengerti geopolitik bangsa Indonesia agar tetap utuh, kuat dan bermartabat di mata dunia internasional. Kuat karena mampu memiliki ketahanan, pangan dan energi untuk kesejahteraan penduduknya.

Untuk itu kepercayaan seluruh Patai Gerindra ada pada Prabowo. Karena itu, gerakan #2019GantiPresiden digagas politikus PKS Mardani Ali Sera sebagai gerakan yang mengusung isu penggantian presiden dalam pemilihan umum 2019 tersirat Probowo lah skema terakhir mereka walau dalam dilema. Tetapi ambisi menjadi bagian penting dalam pemenangan Prabowo seolah sudah di depan mata PKS.

Tagar #2019GantiPresiden sudah berkembang hingga viral di media sosial membuktikan permainan ini mulai dengan pengembangan kampanye politik yang jargonis dan kurang diminta oleh masyarakat.

Padahal semestinya kompetisi Pilpres mengarah pada usul program dan antitesa dari persoalan publik dengan berpijak pada fakta dan data. Bukan dengan cara yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan hati rakyat. Salam untuk Demokrasi Indonesia.(*)