Mohon tunggu...
Afifatul Khoirunnisak
Afifatul Khoirunnisak Mohon Tunggu... Pejalan kaki

Hanya manusia biasa

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kado untuk Ibu, Menjemput Mimpi melalui Beasiswa LPDP

18 Desember 2019   17:01 Diperbarui: 18 Desember 2019   17:27 241 6 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kado untuk Ibu, Menjemput Mimpi melalui Beasiswa LPDP
Afifatul Khoirunnisak (Doc.pri)

Awalnya kejadian ini aku tutup rapat-rapat dalam memoriku. Berusaha keras melupakannya dan menganggap tidak pernah terjadi. Biarlah ku simpan sendiri. Namun, seseorang mengubah persepsiku. "Tulislah, siapa tau bermanfaat bagi orang lain."

Kubuka lagi memori itu. Menyusun satu persatu kejadian silam, membuat diriku menapaki masa lalu. Tidak, aku sudah berjanji untuk tidak bersedih ketika mengingat perkara ini.

Aku menulis bukan untuk mencari simpatik, bukan untuk pamer ataupun menyinggung perasaan orang lain. Semoga saja tulisanku bisa memberikan manfaat.

7 tahun silam. Dunia seolah runtuh, semua berubah total. Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bagaimana harta bisa merubah seseorang. Orang yang kukenal yang juga anggota keluargaku memilih pindah agama dengan alasan menikahi seorang pengusaha kaya. Dia adalah anak pertama ayah, kakakku dari ibu yang berbeda.

Kami tidak tinggal bersama sejak kecil. Ketika mendengar kabar itu, membuat kondisi kesehatan ayahku langsung drop. Mungkin banyak pikiran di kepala beliau yang tidak aku pahami. Kami harus pindah dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain yang lebih bagus fasilitasnya. Namun penyakitnya tak kunjung membaik.

Di akhir-akhir masa hidupnya, aku tahu ayah khawatir kepada kami. Sering kudengar beliau meracau tidak jelas. Ayah yang dulunya gagah dengan seragam guru kini terbaring lemah, dengan selang menancap dimana-mana. Dukungan selalu kami berikan, aku berusaha keras tidak menangis didepan ayahku.

"Tirulah Nabi Muhammad" aku tidak tahu apa makna pesan ayah saat itu. Setelah aku cerna, maksud beliau menghiburku supaya tetap tegar meskipun tanpa ayah. Ayah paham betul bahwa aku putrinya yang paling cengeng dibandingkan kakakku yang satunya. (Tenang yah, aku sekarang sudah belajar supaya tidak cengeng lagi).

Hari-hari selanjutnya kulalui dengan banyak merenung, dan lebih suka mengurung diri di kamar. Malas makan, insomnia, beban pikiran, dan lelah dengan keadaan. Butuh beberapa bulan untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Merelakan apa yang telah terjadi.

Kuputuskan untuk tetap melanjutkan hidup, bersama Ibu dan kakakku satunya. Kami memulai lagi dari nol. Terus merangkak untuk tetap bisa bertahan hidup. Karena kondisi ekonomi dan harus membiayai sekolah kedua putrinya, Ibu memutuskan bekerja menjadi buruh tani, dan buruh pabrik (Alhamdulillah tidak lama kemudian beliau resign karena menurutnya tidak ada waktu buat memperdalam ilmu agama).

Kami hanya mengandalkan uang pensiunan ayah untuk hidup sekeluarga ditambah biaya sekolah (yang menurutku sangatlah tidak cukup). Ibu selalu bilang "tidak apa-apa, yang penting uangnya barokah, jangan khawatir tidak bisa makan." Memang kalau dinalar akal, uang segitu tidaklah cukup. Sekarang aku percaya rezeki bisa datang darimana saja, dan tidak sekedar materi.

Aku tidak menyerah dengan kondisi yang ada. Di tingkat akhir SMA, aku belajar keras supaya bisa lulus dan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tidak punya cukup uang untuk les di bimbel membuatku belajar lebih keras. Bangun di sepertiga malam untuk meminta pertolongan Sang Pencipta. Alhamdulillah, dengan izin Allah aku memperoleh beasiswa S1 Bidikmisi di Universitas Brawijaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x