Mohon tunggu...
Afifah Farah Azzahra
Afifah Farah Azzahra Mohon Tunggu... Mahasiswa - Wadah memoar dan pikiran.

dream, pray, plan, action, fly, and chuu.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Seperti Apakah Konsep Ideal Keluarga Muslim?

26 April 2021   21:40 Diperbarui: 4 Juni 2021   11:42 2417
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber : Azlizan Alias on Pinterest

Bagaimana idealnya keluarga muslim terkonsep dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam hidup, keluarga adalah unit terkecil dalam lingkup masyarakat. Keluarga terdiri dari orang tua dan anak secara sah melalui lingkup pernikahan. Islam menekankan bahwa pernikahan dan keluarga begitu penting sebagai bentuk ibadah dan sunnah dari para Nabi. Keluarga terbentuk atas dasar pernikahan dari pasangan suami dan istri secara sah. Demi keberlangsungan hidup, kehadiran anak terlahir dari pasangan suami dan istri. Kehidupan berjalan dengan semestinya, begitu pula dengan keadaan keluarga.

Konsep keluarga sakinah akan tercipta jika adanya ketenangan dan ketenteraman untuk mencetak generasi penerus yang berkualitas (Amanah, 2019:17). Keluarga sakinah juga memperhatikan prinsip saling membantu dan melengkapi dalam pembagian tugas maupun urusan anggota keluarga. Stinet dan Defrain dalam Assahmi (2018:30-31) menyatakan bahwa adanya beberapa aspek keluarga sakinah yang terkategori keluarga harmonis, yaitu sebagai berikut:

  1. Kehidupan agama tercipta.
  2. Meluangkan waktu bersama.
  3. Komunikasi yang baik.
  4. Sikap saling menghargai.
  5. Ikatan kelompok kuat dan terikat.
  6. Kemampuan menyelesaikan masalah.

Dapat disimpulkan bahwa, aspek keluarga sakinah dapat terwujud jika hubungan suami dan istri adanya rasa saling percaya dan menerima kenyataan, menyesuaikan diri dengan memupuk rasa cinta, melakukan musyawarah dan memaafkan, serta berperan untuk kemajuan bersama di dalam keluarga.

Ariskaita dalam Dwipandayani (2017:20-21) menyatakan bahwa adanya beberapa indikator keluarga sakinah, yaitu sebagai berikut:

  1. Suami, istri, dan anak, yaitu hubungan yang perlu dijaga untuk saling mengerti dan menjaga nama baik, saling menyayangi dan menghormati, dan membantu satu sama lain.
  2. Keagamaan, yaitu kewajiban seorang ayah, istri, dan anak perlu dijalankan dan dilaksanakan dengan hati yang ikhlas sesuai dengan perintah agama.
  3. Ekonomi, yaitu mata pencaharian yang didapat halal, kehidupan dilakukan dengan menabung, bersedekah, dan tidak mudah bergantung pada orang lain.
  4. Psikologi, yaitu keadaan bahagia, tenteram, dan harmonis untuk perasaan dicintai dan dipedulikan oleh anggota keluarga, serta kepada Allah SWT.
  5. Hubungan sosial, yaitu jalinan hubungan dengan keluarga lainnya, baik tetangga, teman kerja maupun sekolah, dan tempat lainnya.

Dapat disimpulkan bahwa, indikator keluarga sakinah dapat dilihat juga dari kesetiaan dengan pasangan hidup, menepati janji, memelihara nama baik, saling pengertian, dan berpegang teguh pada agama.

Seiring dengan perkembangan zaman, keluarga sakinah tentu adanya perkembangan pula. Mustofa (2008:240) memaparkan bahwa adanya perbandingan keluarga sakinah dengan konsep keluarga budaya masyarakat kontemporer, yaitu terlihat dalam tabel berikut.

screenshot-798-60b9a8928ede482923215b92.png
screenshot-798-60b9a8928ede482923215b92.png
Setelah terlihat adanya perbandingan antara keluarga sakinah dengan keluarga budaya masyarakat kontemporer. Lalu, bagaimana dengan profil keluarga sakinah dalam sejarah manusia? Hal ini berkenaan dengan beberapa hal, yaitu keluarga Rasulullah SAW, keluarga Nabi Ibrahim a.s., keluarga Nabi Nuh a.s., dan keluarga Imran.

Profil keluarga sakinah menunjukkan keluarga yang taat beribadah, jauh dari kemarahan, dan dihiasi oleh kasih sayang. Sama halnya dengan Rasulullah SAW, suami harus mampu menyenangkan hati istri. Sebagaimana firman Allah SWT pada QS. Ali Imran ayat 33.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masing-masing)”.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun