Mohon tunggu...
Afifah Aryani
Afifah Aryani Mohon Tunggu... Guru - Guru

Antusias pada semua hal yang berbau tulis menulis dan juga membaca

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Sudah Sore, Bagaimana Persiapan Berbuka Puasamu?

28 Mei 2022   23:48 Diperbarui: 28 Mei 2022   23:52 68 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Tidak terasa ya, Ramadan sudah tinggal beberapa hari lagi. Bagaimana kabar puasamu? Semoga selalu dimudahkan dan Allah sampaikan kita pada hari Kemenangan. Puasa memang mengajarkan kita arti kesabaran dalam menghadapi segala hal yang dianggap sebagai cobaan. Betapa tidak, cobaan itu bisa saja diukur sebagaimana kita melihat minuman segar, juga mencium bau makanan di siang hari sedangkan kita tidak diperbolehkan makan juga minum dari mulai azan subuh hingga azan magrib saat bulan Puasa. Iqbal Hariadi dalam bukunya menyatakan bahwasanya sabar bukan hanya soal menahan tapi juga bertahan, "kita perlu sabar untuk menahan tidak makan ketika berpuasa, tapi juga kita butuh sabar dalam mempertahankan Sholat lima waktu". Pada intinya, semua hal mempunyai waktunya, namun pastinya butuh kesabaran untuk sampai pada waktunya. Layaknya puasa yang mengajarkan kesabaran sampai datang waktunya berbuka.

Sudah sore, bagaimana persiapan berbuka puasamu? Pasti bingung menu apa lagi yang akan dihidangkan ya? Terkadang memang begitu, setelah bertahan mati-matian menahan puasa justru malah bingung untuk berbuka dengan apa, tapi ada juga yang sangat menuruti hawa nafsunya untuk membeli segala macam makanan dan minuman yang pada akhirnya hanya menjadi aksesoris karna tidak semuanya termakan. Perumpamaan puasa ini sama saja dengan seorang Muslimah yang sedang menunggu waktu berbuka puasa atau sebut saja penantiannya bertemu jodoh yang waktunya tidak terdeteksi oleh putaran tahun, bulan, hari bahkan jam. Puasanya bukan hanya menahan makan, minum dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, tapi juga bertahan menjaga hati untuk seseorang yang sudah termaktub di Lauhul Mahfudz.

Tidak ada tolak ukur waktu yang pasti bagi seorang Muslimah untuk berbuka dari puasa menjaga hatinya. Mungkin sekarang Allah sedang memberhentikan kita di Rest area pada sore hari untuk mempersiapkan waktu berbuka agar mendapatkan pelajaran selama perjalanan, entah itu dari sebuah cerita, buku bacaan atau memang terjadi pada diri sendiri. Percayalah, kita akan dipertemukan dengan orang yang sama-sama akan pergi ke tujuan yang sama dalam satu jalan, yaitu tak lain adalah jalan Allah, yang baik akan bertemu pasangan yang baik, begitu juga sebaliknya. Sebagaimana Allah bersabda dalam Qs. An Nur, ayat 26 "Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." Karna sorenya belum diketahui, anggap saja sore itu sudah begitu dekat jangka waktunya, hingga perbaikan diri harus terus dilakukan di setiap waktunya. Tidak ada yang menjamin tentang jodoh, mungkin saja kita akan menemuinya di alam setelah dunia, maka jika kita sudah memperbaiki diri, bisa saja kita menemuinya di Surga, Wallahu'alam.

Terlalu banyak hal yang tidak bisa diduga, Allah memang seromantis itu untuk memberikan surprise bagi setiap hamba-Nya. Tugas kita sebagai Muslimah adalah bersabar dan berusaha melakukan apapun yang di perintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tahan saja rasa yang mungkin saja kian hari kian candu namun harus terus di diamkan, meski terlanjur cinta namun hati belum siap untuk memasuki fase pernikahan, biarkan cinta itu tersalurkan dalam doa selagi kita terus memperbaiki diri dengan baik sebagai persiapan untuk berbuka, karena dikatakan oleh habib Ja'far, bahwasanya tidak ada cinta yang lebih romantis dari cinta segitiga, yaitu cinta seorang muslim dan seorang Muslimah yang akan semakin erat saat mereka semakin dekat dengan Allah. Oleh karena itu, mari bertumbuh menjadi indah dimata Allah, biar Allah dekatkan kita dengan jodoh yang juga Indah menurut-Nya. 

Proses bertumbuh kita mungkin berbeda, teringat cerita pada sebuah seminar, seorang pemateri memberi instruksi untuk menggambarkan apa pun yang mereka ingin gambar, satu diantara-nya menggambar bunga mawar di tepi jurang, lalu pemateri bertanya "kenapa gambarnya mawar di tepi jurang?" ia menjawab bahwasanya bunga mawar itu seperti kita sebagai seorang Muslimah, yang indah karena ada durinya agar tak sembarang orang bisa memetik, bahkan tempatnya pun berada di tepi jurang. Maka Sudah bisa dipastikan bahwasanya orang yang menginginkannya bukan sembarang orang, begitu katanya. Lalu setelah beberapa tahun, pemateri ini berjumpa Kembali dengan peserta yang menggambar mawar tadi, ternyata Ia sudah menikah dan sudah menjadi seorang dokter, Maa Sya Allah, kejadian ini nyata adanya. Dan begitulah Muslimah seharusnya. Menjaga untuk Ia yang berjuang bukan hanya berjanji tanpa pembuktian. Di luar sana sudah terlalu banyak bunga yang indah namun sudah sangat terlalu mudah untuk dipetik, mengapa tidak kita sebagai Muslimah saja yang menjadi mawar berduri di tepi jurang agar tidak sembarang orang bisa memetik, hanya orang yang mempunyai keberanian dan mengerti yang akan memetik.

Sepertinya kali ini memang benar-benar sudah sore, mari kita bersiap untuk berbuka puasa, selamat berbuka puasa dengan yang manis sekali pada waktunya, karna perjalanan sebelumnya sudah terlalu pahit. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan