Mohon tunggu...
Afif M Taftazani
Afif M Taftazani Mohon Tunggu... Dosen - Lecturer, professional

Pemerhati financial, valuasi, manajemen risiko

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Transfer Risk Vs Mitigation Risk: Studi Kasus Pembuatan ATM Baru di Bank BNI

21 September 2022   10:52 Diperbarui: 21 September 2022   11:09 2064 2 49
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Finansial. Sumber ilustrasi: PEXELS/Stevepb

Selasa, 20 September 2022 pukul 8 pagi saya ke BNI cabang pembantu Galaksi, Bekasi untuk mengurus dan mengganti ATM yang hilang.  Setelah antrian yang cukup panjang akhirnya tiba giliran saya.  

Petugas menjelaskan untuk dapat mengganti ATM, saya harus membawa buku tabungan dan KTP dengan catatan KTP harus dapat dideteksi oleh alat detector kartu. Jika tidak, maka saya harus minta surat kehilangan dari Kepolisian.  Dikarenakan KTP saya pernah terendam banjir, chip sepertinya rusak dan tidak terdeteksi sehingga akhirnya saya ke kantor kepolisian untuk meminta surat keterangan kehilanagan ATM BNI.

Diatas adalah sepenggal kisah yang belum lama ini terjadi pada saya.  

Proses yang dilakukan bank tersebut pada dasarnya adalah prosedur mitigasi risiko, dikarenakan bank berupakan salah satu entitas yang erat bersinggungan dengan risiko. 

Transaksi keuangan yang sangat beragam dan komples, kapasitas pengelolaan dana yang besar, melibatkan jumlah pengguna/nasabah yang sangat banyak, tuntutan untuk memberikan layanan yang terupdate serta ketatnya regulasi dari OJK dan BI memaksa Bank harus memiliki system manajemen risiko yang tidak hanya handal tetapi juga efektif diterapkan.  

Hal ini dikarenakan sebagai financial services, kepuasan pengguna marupakan unsur utama yang harus dipenuhi.  Sistem layanan yang cepat, simple, efektif dan mungkin juga fleksibel namun tetap aman merupakan appetite dari setiap nasabah di bank manapun.

Masih segar dalam ingatan kita, kejadian risiko dalam dunia perbankan.  Kisah Melinda Dee yang melakukan tindakan fraud dengan memanfaatkan kepercayaan nasabah CitiBank. 

Nasabah diminta menandatangani blanko kosong yang kemudian dipergunakan untuk melakukan pembobolan rekening mereka mencapai lebih dari 40 miliar rupiah dalam kurun waktu tiga tahun sampai terbongkar tahun 2011.  Melinda Dee tentu tidak bekerja sendirian, tetapi melibatkan persekongkolan dengan beberapa pegawai dibawahnya. 

Kasus lain adalah Pencairan deposito berjangka milik PT Elnusa Tbk (ELSA) di Bank Mega tanpa sepengetahuan manajemen Elnusa sebesar 111 miliar rupiah tahun 2011. Pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kasus ini adalah Direktur Keuangan PT. Elnusa, Kepala Cabang Bank Mega Jababeka, Direksi PT. Discovery, Komisaris PT. Har, dan staf dari PT. Har.  

Motif pembobolan (pencairan ilegal deposito) adalah pemalsuan tanda-tangan Dirut Elnusa yang dengan dokumen tersebut dilakukan pencairan deposito sebesar 111 miliar rupiah untuk kemudian ditempatkan di beberapa perusahaan investasi.   

Berkaca kasus-kasus tersebut, jika kita cermati, ada benang merah antara kedua kasus fraud diatas, yaitu berpangkal pada proses securitisasi/autentifikasi/uji validitas dokumen yang tidak clear, meskipun dalam hal ini ada peran orang dalam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan