Mohon tunggu...
A Afgiansyah
A Afgiansyah Mohon Tunggu... Dosen - Digital communication specialist

Praktisi dan Akademisi Komunikasi Media Digital dan Penyiaran. Co-Founder Proxymedia.id // Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mercubuana, Universitas Indonesia, dan Universitas Paramadina

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Analog Switch-Off! Siaran TV Jadi Digital, Ini Penjelasannya!

28 Mei 2022   19:16 Diperbarui: 28 Mei 2022   19:19 1354
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi menonton siaran TV analog. Sumber: Youtube.com/@Siaran Digital Indonesia, video "Nonton Siaran TV Digital, Biyani Sangat Senang"

Analog switch-off atau ASO, istilah ini jadi lazim beredar beberapa waktu sejak pertengahan 2021 lalu. Semua stasiun TV di Indonesia memunculkan ikon "Modi" di layar TV mempromosikan TV digital, bersih, jernih, dan canggih. Sosialisasi besar-besaran digaungkan. Apa pentingnya?

Siaran TV dengan sistem analog di Indonesia akan mati sepenuhnya pada bulan November 2022. Artinya, jika menonton TV dengan perangkat dan antena biasa, tidak ada lagi sinyal TV yang bisa ditangkap. Semua stasiun televisi di Indonesia menghentikan siarannya. Mati. Tidak ada lagi siaran TV. Kenapa? Karena seluruh siaran TV beralih ke sistem digital. Menontonnya pun harus menggunakan perangkat TV digital atau setidaknya menggunakan alat pengonversi yang disebut "setup box" atau STB. Antena TV juga harus dipastikan bisa menangkap siaran digital.

Apa pentingnya beralih ke siaran TV digital? Pertama, ini jadi kesepakatan penyelenggara siaran TV di seluruh dunia. Berdasarkan kesepakatan International Telecommunication Unit (ITU), negara di seluruh dunia wajib menghentikan siaran analog pada tahun 2015. Kedua, siaran digital memberikan kesempatan lebih besar kepada masyarakat jadi penyelenggara siaran TV. Frekuensi siaran TV merupakan sumber daya alam terbatas sehingga hanya sekelompok orang bisa menyelenggarakan siaran TV. Dengan siaran digital, kesempatan ini diperluas. Lalu ketiga tentunya untuk kenyamanan pemirsa TV menikmati siaran bersih, jernih, dan canggih seperti slogan kampanye siaran digital dari Kominfo.

Nonton Siaran TV Digital

Sebelum masuk ke penjelasan teknis, mari kita simak cerita film animasi "Nonton Siaran TV Digital, Biyani Sangat Senang". Diceritakan Biyani, gadis kecil yang tinggal di daerah pedesaan berkunjung ke rumah kawannya. Di sana Ia menghidupkan TV. Lalu muncul tayangan berbayang. "TV-mu kok banyak semutnya sih?" ujar Biyani. Lalu gadis kecil kawannya itu meminta Bapaknya untuk membenarkan posisi antena. Digambarkan Sang Bapak naik ke atap rumah sambil mengutak-atik antena luar. "Sudah belum?" ujar Sang Bapak. "Belum, belum Pak," ujar Sang Anak.

Akhirnya Biyani langsung mengajak kawannya untuk nonton TV di rumahnya saja. "Wah, bening banget," ujar kawan Biyani menonton film animasi di TV rumahnya. Lalu hujan turun diiringi petir. Kawan Biyani pun teringat, "wah Bapakku masih di atas genteng," ujarnya. Kemudian digambarkan Pak Jaya, Bapak kawan Biyani terjatuh dari atap rumah karena membetulkan antena di tengah petir. Tetangganya pun menyarankan, "makanya Pak pakai TV digital dong." Lalu ditambahkan oleh kawan Biyani, "iya Pak kayak yang di rumah Biyani." Lalu Pak Jaya menyahut, "Hah, TV digital? Mahal nggak?" Tetangganya pun menjelaskan. "Cukup sediakan setup box, murah. Banyak itu di market place." Video berdurasi hampir 4 menit ini dirilis oleh kanal Youtube "Siaran TV Digital" inisiasi Kominfo dalam rangka sosialisasi migrasi ke TV digital.

Cerita ini cukup mudah dimengerti. Masalah-masalah siaran TV seperti posisi antena, siaran berbayang, hingga gangguan cuaca digambarkan teratasi dengan siaran TV digital. Untuk beralih ke siaran digital juga digambarkan sangat mudah. Hanya dengan membeli "setup box" yang banyak dijual di internet, kita bisa menangkap siaran digital. Ini faedah nyata buat masyarakat perlunya beralih ke siaran TV digital. Semua masalah siaran TV analog teratasi.

Seperti kita ulas sebelumnya, pertimbangan peralihan ke siaran TV digital bukan hanya soal teknis. Ada soal kesempatan penyelenggara siaran TV terbuka semakin luas. Ini terkait dengan hal teknis dan penggunaan sumber daya alam terbatas.

Siaran TV analog secara teknis digunakan sejak masa awal TV mengudara sekitar dekade 1930-an di Amerika Serikat. Di Indonesia, siaran televisi bermula pada tahun 1962 bersamaan dengan perhelatan Asian Games pertama kalinya di Jakarta. Sistem siaran baik TV maupun radio menggunakan gelombang elektromagnet di udara. Rentang gelombang ini terbatas. Artinya, hanya beberapa siaran yang bisa dipancarkan. Kita bisa perhatikan keterbatasan ini ketika mencari sinyal radio atau televisi.

Contoh paling mudah ketika kita menggunakan radio di mobil. Umumnya sekarang menggunakan sistem pencarian otomatis. Jika diperhatikan, ketika mencari siaran di frekuensi FM, akan muncul angka mulai dari 88 lalu meningkat terus hingga angka 108. Setelah angka itu, pencarian akan kembali lagi mulai angka 88. Inilah rentang frekuensi radio FM. Antara 88 s.d. 108 Mhz. Hal ini juga sama dengan frekuensi televisi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun