Mohon tunggu...
M Affan Asyraf
M Affan Asyraf Mohon Tunggu... Mahasiswa Strata 1 Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada

Residence of UK (Utan Kayu)

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Sumbangsih Ilmu Antropologi Pada Paradigma Pendidikan Sekolah Menengah di Indonesia

13 Desember 2020   11:40 Diperbarui: 13 Desember 2020   11:43 198 2 0 Mohon Tunggu...

Mengulas permasalahan pendidikan sekolah menengah di Indonesia cenderung tidak akan menghasilkan signifikansi. Selain karena akan menjadi lagu lama, sejatinya perkara yang membuat pendidikan Indonesia kurang mempunyai esensi, ironisnya, ialah semakin memudarnya dimensi 'didik' dalam sistem sekolah pendidikan di Indonesia.

Pendahuluan: Refleksi Permasalahan Pendidikan Sekolah Menengah Indonesia

Sebagai seorang penyintas, lulusan jenjang sekolah menengah atas negeri di ibukota, perihal yang sangat saya sesali ketika sedang dididik' disana ialah penyadaran akan bagaimana sedikitnya 'pelajaran di sekolah' yang relevan bagi kehidupan setelah lulus. 

Penyadaran lantas bermuara pada kesimpulan bahwa segala 'ilmu' yang didapatkan di sekolah tidak dapat mengakomodir kehidupan, dalam konteks ini, perkuliahan. Hal ini dinilai sangat tidak wajar karena jurusan saya di sekolah dan kuliah yang cukup relevan, SMA: Jurusan Ilmu budaya dan bahasa, sedangkan kuliah: antropologi budaya. 

Sampai saat ini sulit bagi saya untuk menemukan nilai hidup dari institusi pendidikan sekolah menengah yang dapat saya terapkan dan membantu saya menavigasi kehidupan di tengah persoalan perkuliahan.

Hal itu semakin nyata apabila memandang penilaian makro pendidikan di Indonesia itu sendiri. Sebagaimana dilansir CNN (04/04/20) berdasarkan survei PISA (Programme for International Student Assessment) skor kompetensi pelajar di Indonesia umur 15 tahun dalam bidang literasi, matematika dan sains setiap tahun semakin menurun. 

Bahkan literasi Indonesia mengalami penurunan yang paling besar, yaitu 371. Jauh dari rata-rata kemampuan membaca negara yang tergabung dalam The organisation for economic co-operation and development (OECD) yang mana berada pada skor 487. 

Tapi disini kembali ditekankan bahwa permasalahan yang menghinggapi karena tidak ada ruang bagi pelajar sendiri untuk berefleksi dan menentukan apa yang esensial dalam kehidupan mereka. Aktivitas tersebut, ironisnya, cenderung hadir setelah lulus dari sekolah menengah itu sendiri. Orientasi day to day mengenai untuk apa pendidikan menjadi kabur dan tidak jelas selama berada di sekolah menengah.

Walaupun memprihatinkan, yang mendasari perkara pendidikan sekolah menengah yang kurang esensial adalah bagaimana hakikat pendidikan dalam konstitusi yang hanya dijadikan sebuah wacana. 

Tujuan mencerdaskan bangsa dalam UUD 1945 yang dijadikan landasan hadirnya undang-undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dalam penerapannya tidak direalisasikan dalam agenda konkret yang jelas. Dalam pengalaman saya, perkara pencerdasan yang digalakkan tidak pernah hadir, dalam ruang kelas, maupun pada kegiatan ekstrakurikuler. 

Secara terang-terangan tidak pernah didefinisikan mengenai apa yang dimaksud cerdas oleh institusi sekolah. Cerdas dalam konteks apa? Basisnya apa? Walaupun senantiasa tercurah secara implisit di ruang kelas bahwa cerdas itu perkara matematika dan menguasai bahasa asing. Namun secara gamblang saya ketika itu tidak pernah mengerti mengapa kita harus menghafal berbagai macam materi. Karena tidak ada analisis mengenai materi yang dihafal itu sendiri menurut saya merupakan perihal yang paling membingungkan, sekaligus menyesatkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN