Mohon tunggu...
Afandri Adya
Afandri Adya Mohon Tunggu...

Afandri Adya, penulis lepas yang juga aktif di dua organisasi nirlaba : SCALA Institute dan SCALA Foundation

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Penghijrahan Orang Minang ke Kuala Lumpur

25 Maret 2015   17:45 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:02 1916 0 1 Mohon Tunggu...

[caption id="" align="aligncenter" width="321" caption="Restoran Nasi Padang di Kuala Lumpur (sumber : gomakan.com)"][/caption]

Kaum Minangkabau merupakan salah satu kelompok etnis yang banyak bermukim di Semenanjung Melayu. Mereka menyebar merata ke seluruh Semenanjung dan telah beranak pinak dari generasi ke generasi. Salah satu penempatan mereka yang cukup penting ialah ibu kota negara : Kuala Lumpur. Tak ada waktu yang pasti, kapan perantau Minang tiba dan menetap di kota ini. Namun menurut J.M. Gullick, sekurangnya pada tahun 1850-an sudah dijumpai para peneroka Minang yang membuka hutan dan mengusahakan pertambangan timah di Kuala Lumpur. Masa ini sejalan dengan waktu berakhirnya Perang Paderi (1803-1838) yang berkecamuk hebat di Sumatera Barat. Begitu populernya Kuala Lumpur ketika itu, sehingga istilah : “poi ka Kolang” (pergi ke Klang) sering terdengar di tengah-tengah percakapan remaja Minang yang hendak pergi merantau.

Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi penghijrahan mereka ke Kuala Lumpur. Beberapa diantaranya ialah faktor ekonomi, yakni adanya peluang usaha dagang yang menjadi okupansi utama masyarakat Minang di perantauan. Selain itu ialah terbukanya kesempatan untuk menambang timah. Dimana ketika itu pemerintah kolonial Inggris sedang giat-giatnya mengusahakan pertambangan timah yang sedang laku dipasaran. Berdirinya pusat kolonial British di Kuala Lumpur pada tahun 1874, juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebab pada masa itu pemerintah Inggris membutuhkan tenaga-tenaga terdidik untuk mengurus administrasi kerajaan. Dan salah satu kelompok etnis yang paling siap mengambil peluang itu adalah kaum Minangkabau.

Selain alasan merantau, hal lainnya yang perlu dicermati dari penghijrahan orang Minang ke Kuala Lumpur ialah mengenai daerah asal mereka. Menurut laporan Selangor Journal, ada beberapa nagari di ranah Minang yang banyak mengirimkan para perantaunya ke Kuala Lumpur. Pada paruh kedua abad ke-19, kebanyakan mereka berasal dari nagari-nagari yang paling kuat terkena dampak Perang Paderi. Orang Pasaman dari Bonjol, Rao (Rawa), Talu, dan Air Bangis, berada di peringkat pertama. Diikuti oleh kelompok masyarakat Tanah Datar, terutama dari nagari-nagari di seputaran Batusangkar. Orang Luhak Limapuluh Kota dan Agam berada di peringkat selanjutnya. Memasuki abad ke-20, Kuala Lumpur juga ikut diramaikan oleh para perantau dari Pariaman, Solok, Sawahlunto-Sijunjung, dan Pesisir Selatan. Selain dari Sumatera Barat, orang-orang Minang di perantauan, seperti dari Batu Bara, Kampar, Kuantan, Kerinci, Negeri Sembilan, Malaka, Perak, Johor, dan Pulau Pinang, juga ikut mengadu nasib di kota ini.

Para Peneroka dan Pemimpin Kaum

Seperti halnya di bagian lain Semenanjung Melayu, di Kuala Lumpur kaum Minang juga hidup mengelompok berdasarkan daerah asal mereka. Setidaknya ini berlangsung hingga kemerdekaan Malaysia di tahun 1957. Karena hidup mengelompok inilah, maka lahir beberapa tokoh yang menjadi ketua kelompok masyarakat yang dikenal dengan istilah Datuk Dagang. Ketua kelompok tersebut biasanya datang dari para peneroka atau pihak yang ditunjuk oleh kerajaan. Ada beberapa tokoh masyarakat Minang yang cukup terkenal di Kuala Lumpur. Salah satunya ialah Haji Mohammad Taib, salah seorang saudagar yang berasal dari Rao-rao dekat Batusangkar. Sebelum pergantian abad ke-20, ia merupakan salah seorang terkaya di Kuala Lumpur. Menurut Gullick, ia mempunyai banyak properti, perkebunan, dan beberapa tambang timah di sekitar Kuala Lumpur. Di Semenyih, ia memiliki tanah seluas 25 hektar serta beberapa kedai di pusat kota. Berdasarkan catatan Nelmawarni Bungo dan Nordin Hussin, Haji Mohammad Taib memberikan sumbangan cukup besar bagi kemajuan Kuala Lumpur. Ia telah meneroka kawasan Kampung Baru dan Chow Kit, sebagai tempat bermukimnya orang-orang “Melayu”. Untuk mengenang jasa-jasanya, kini beberapa lorong di daerah Chow Kit telah dinamai dengan nama Lorong Haji Taib.

Haji Utsman bin Abdullah merupakan ulama Minangkabau yang menjadi kadi pertama Kuala Lumpur. Ia berasal dari Batusangkar dan merupakan saudara dari Muhammad Saleh al-Minangkabawi, mufti Kesultanan Perak. Utsman merupakan salah satu ulama yang bijak. Ia sering menyelesaikan berbagai persoalan silang sengketa di tengah-tengah masyarakat. Ia tak hanya menjadi pemimpin bagi masyarakat Minangkabau, namun juga bagi umat muslim di Kuala Lumpur. Selain sebagai ulama, Utsman juga terlibat dalam perniagaan. Dia salah seorang pengusaha Minang yang memiliki tanah cukup luas. Di Kuala Lumpur, ia pernah memiliki tanah yang terletak diantara Mesjid Jamek hingga Putra World Trade Centre sekarang ini.

Haji Abdullah Hukum juga disebut-sebut sebagai peneroka awal Kuala Lumpur. Ia telah menginjakkan kakinya di kota ini pada tahun 1850, mengikut ayahandanya yang berasal dari Kerinci. Abdullah yang bernama asli Muhammad Rukun semula bekerja sebagai pengolah tanah dan pedagang kain. Kemudian ia mendapatkan izin dari raja muda Selangor untuk membuka kawasan Pudu, Bukit Nanas, dan Sungai Putih. Di Sungai Putih inilah ia bermukim hingga pulang ke Sumatera pada tahun 1929. Untuk mengingat jasa-jasanya, kini salah satu pemukiman di dekat Jalan Bangsar telah dinamai dengan Kampung Haji Abdullah Hukum. Haji Abdullah Hukum mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Haji Mahmood. Mahmood juga mengikuti jejak ayahnya berniaga kain. Sebelum Jepang menginvasi tanah Melayu, kabarnya ia merupakan salah seorang saudagar Melayu yang cukup sukses.

Di permulaan abad ke-20, tokoh Minang yang bersinar di Kuala Lumpur ialah Khatib Koyan. Dia adalah seorang saudagar yang melakukan penambangan timah di sepanjang Sungai Gombak hingga Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur tanahnya cukup luas, yakni dari Batu Dua (Chow Kit) hingga ke Batu Sembilan. Karena keprihatinannya terhadap perkembangan Islam di kota ini, ia mendirikan Mesjid Jaminul Ihsan di kawasan Setapak. Disamping itu beliau juga telah mendirikan sebuah Madrasah ar-Rahmaniah di Jalan Khatib Koyan, Kampung Baru.

Kawasan Penempatan Orang Minang

Jurnal Pertanika terbitan Universiti Putra Malaysia mencatat, bahwa menjelang abad ke-20 Kuala Lumpur secara umum terbagi menjadi dua wilayah penempatan etnis. Kawasan utara yang meliputi : Kampung Baru, Chow Kit, Bukit Nanas, dan Kampung Datuk Keramat, banyak dihuni oleh kaum Melayu yang sebagiannya datang dari ranah Minang. Sedangkan di bagian selatan Kuala Lumpur mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa. Tak seperti daerah rantau lainnya, di Kuala Lumpur banyak nama kampung yang mengikuti daerah asal mereka di ranah Minang. Selain Kampung Kerinci di Bangsar Selatan, ada pula Kampung Palimbayan yang terletak di bagian barat Kuala Lumpur. Ya, kampung ini mayoritas dihuni oleh masyarakat asal Palembayan, salah satu nagari di Luhak Agam. Konon katanya, hingga tahun 1970-an bahasa pergaulan di kampung ini masih menggunakan Bahasa Minangkabau. Satu lagi nama kampung yang mengikuti nama daerah asal penduduknya ialah Kampung Rawa. Namun setelah pemerintah Kuala Lumpur melakukan pembenahan kota, kampung yang kini berada di sekitar Jalan Melayu itu terpaksa harus dilenyapkan. Masyarakat Rao, Pasaman yang sebagian besar telah menghuni daerah tersebut lebih dari 50 tahun, harus berpindah ke kawasan lainnya.

Karena sebagian besar perantau Minang berprofesi sebagai penggalas, maka hingga hari ini-pun kita masih bisa menjumpai kedai-kedai milik orang Minang di pusat kota Kuala Lumpur. Para saudagar itu pada umumnya menjual aneka barang kelontong, sepatu, songkok, kain, tailor, dan membuka gerai rumah makan. Jalan Tuanku Abdul Rahman (dulu Batu Road), Lorong Haji Taib, Jalan Melayu, Jalan Mesjid India, dan Jalan Pudu, merupakan tempat dimana banyak terdapat kios-kios milik pengusaha Minang. Begitu pula Jalan Raja Muda Musa dan Jalan Raja Alang di Kampung Baru, yang merupakan tempat berpusatnya para pedagang makanan asal Minangkabau. Di tempat inilah para perantau Minang mendirikan berbagai perkumpulan, seperti Persatuan Penduduk Melayu Minangkabau dan Persatuan Seni Silat Cekak Kampong Bharu. Dari perkumpulan inilah -- beserta organisasi masyarakat Jawa, Bugis, dan "Melayu" lainnya, terwujudlah partai politik UMNO yang kini menjadi wadah politik bagi puak Melayu di Malaysia.

Gombak dan Setapak juga menjadi basis utama para perantau Minang di Kuala Lumpur. Kampung Changkat di distrik Gombak, merupakan tempat bermukimnya banyak perantau asal Pariaman. Kampung ini pertama kali dibuka pada dasawarsa 1880-an oleh Maha Raja Ula Haji Mohammad Arshad atau yang dikenal dengan Datuk Kuning. Tak jauh dari situ, ada pula Kampung Simpang Tiga yang dibuka oleh Datuk Kah, serta Kampung Changkat Kiri dan Kampung Tengah yang merupakan tempat bermukimnya masyarakat Batang Kapas dan Bonjol. Di Kampung Kuang, masih di kawasan Gombak, kita juga bisa menjumpai kelompok masyarakat Minangkabau yang datang dari berbagai daerah, diantaranya dari Lubuk Sikaping, Rao, Tambusai, Bonjol, Pariaman, Padang, Batang Kapas, Kerinci, Kampar, Indragiri, dan Kuantan. Namun menurut Farida binti Thalib, dari sekian banyak orang Minang yang bermukim disini, yang terbesar berasal dari Batang Kapas, Pesisir Selatan.

Selain di kota Kuala Lumpur, orang Minang juga meneroka beberapa kawasan di sekitarnya. Salah satunya ialah Serendah di distrik Hulu Selangor, utara Kuala Lumpur. Disini banyak diantara mereka yang telah beranak pinak hingga empat generasi. Beberapa kampung di Serendah yang banyak dihuni oleh kaum Minangkabau antara lain Kampung Tuk Pinang dan Kampung Gunung Runtuh. Di kedua kampung itu banyak bermukim masyarakat asal Air Bangis. Di distrik Hulu Selangor banyak pula para pengusaha Minang yang mengusahakan pertambangan timah. Salah satunya ialah Haji Abbas bin Haji Abdul Samad, yang memiliki tujuh hektar tanah di kawasan Pertak.

Ke arah utara Serendah, tepatnya di Kuala Kubu Bharu juga banyak ditemui pemukiman masyarakat Minang. Diantaranya ialah Kampung Kalumpang dan Pekan Kalumpang yang ramai dihuni oleh masyarakat asal Rao. Di Kuala Kubu Bharu terdapat pula Kampung Gumut dan Kampung Sejantung. Jika Kampung Sejantung diteroka oleh Haji Said asal Kampar, maka Kampung Gumut dibuka oleh Panglima Kanan dan Haji Shahabudin asal Rao, Pasaman. Menurut Dzulkifli Datuk Haji Buyong dalam Sejarah Kalumpang : Riwayat, Keturunan, dan Tokoh (1883-2003), dinyatakan bahwa Panglima Kanan bersama Khatib Yunus telah membantu Mat Kilau dalam mempertahankan Selangor dari serangan tentara Inggris. Panglima Kanan yang bernama asli Haji Salam Bin Datuk Berkanun, sebelumnya juga pernah membantu sultan Selangor dalam mengamankan Sabak Bernam dari serangan bajak laut, serta membunuh panglima Pahang semasa terjadi Perang Pahang-Selangor.

Di Hulu Langat, sebelah tenggara Kuala Lumpur, banyak pula perantau Minang yang membuka kampung pemukiman. Sebagian besar mereka berada di kawasan Kajang, Ulu Langat, Ulu Semenyih, Semenyih, Beranang, dan Cheras. Menurut catatan David Radcliffe, di abad ke-19 tak kurang dari 80% masyarakat Hulu Langat berasal dari Sumatera yang sebagian besarnya adalah orang Minangkabau. Ada beberapa catatan Selangor Journal (28 Mei 1897) yang bisa kita ambil sebagai bahan rujukan mengenai pembukaan awal kawasan Hulu Langat. Dari jurnal tersebut tertera bahwa kawasan Cheras telah dibuka pada tahun 1857 oleh Khatib Rawi asal Rembau, Negeri Sembilan. Namun menurut keterangan Yap Wei Kiong, kawasan Cheras baru diteroka pada dekade 1870-an oleh lima orang tokoh yang datang langsung dari ranah Minang. Mereka adalah Abdul Rashid bin Haji Abdul Wahab, Haji Talib bin Ngah, Said Yahya, Ahmad Kerling, dan Haji Dahlan. Pada tahun 1864 di Beranang ada pula kampung yang dibuka oleh peneroka asal Rembau, Negeri Sembilan dan yang langsung datang dari Minangkabau. Untuk membedakannya maka kampung itu dinamai Kampung Sesapan Bukit Rembau dan Kampung Sesapan Bukit Minangkabau.

Adat Istiadat yang Tak Lekang

Melihat banyaknya “perkampungan Minang” di Kuala Lumpur dan sekitarnya, kita bisa berkesimpulan bahwa selain Negeri Sembilan dan utara Malaka, kawasan tersebut juga merupakan koloni utama orang Minang di Semenanjung. Namun berbeda dengan masyarakat Negeri Sembilan yang masih menjalankan Adat Perpatih dalam kesehariannya, di Kuala Lumpur hampir sebagian besar mereka tak lagi menjalankan adat tersebut. Padahal jika kita melihat pertautan mereka dengan ranah Minang, perantau di Kuala Lumpur masihlah menjalin keakraban dengan karib keluarga mereka di Sumatera. Ini berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat Negeri Sembilan yang telah kehilangan kontak dengan sanak saudara mereka di Payakumbuh atau Batusangkar. Tetapi mengapa justru perantau yang datang terakhir inilah yang tak lagi mengekalkan resam Adat Perpatih. Adakah ini karena dorongan ajaran Islam pasca Perang Paderi, atau karena tak ada lagi pengaruh Pagaruyung terhadap perantauan mereka? Wallahualam bi shawab.

Meski dalam pembagian harta warisan tak dikenal lagi pusaka rendah dan pusaka tinggi, namun sebagian besar masyarakat Minang di kota ini masih menjalankan adat istiadat khas Minangkabau. Dalam pesta perkawinan misalnya, masih banyak gadis-gadis Minang yang dengan senang hati mengenakan sunting dan baju kurung. Pelaminannya-pun ada yang menggunakan ornamen gonjong dengan warna merah atau kuning sebagai warna khas Minangkabau. Tak ketinggalan ketika menjalani prosesi lamaran, banyak diantara mereka yang masih setia memakai seremoni pasambahan dan manjapuik. Satu lagi yang menjadi ciri khas orang Minang yang masih terus diamalkan di perantauan ini adalah acara berkumpul-kumpul. Salah satu wadah yang menaungi perkumpulan tersebut ialah Pertubuhan Ikatan Kebajikan Masyarakat Minangkabau Kuala Lumpur. Rencananya organisasi ini akan mendirikan Rumah Gadang di kawasan Gombak, yang nantinya akan berfungsi sebagai sekretariat organisasi.

VIDEO PILIHAN