Mohon tunggu...
Farah Fadhilah
Farah Fadhilah Mohon Tunggu... Freelancer

sedang belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Curahan Hati Malam Ini (Bagian 1)

11 Februari 2020   22:14 Diperbarui: 11 Februari 2020   22:38 27 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Curahan Hati Malam Ini (Bagian 1)
Classic Grey Stainless Steel Cb Radio on Brown Wooden Table | pexels.com

Apa artinya sebuah keluarga?

Instrumen musik piano Yimura mengalun dari radio di sudut mejaku. Musik itu adalah intro salah satu program radio yang sangat aku tunggu. Curahan Hati Hari Ini. Alasanku mendengar program ini sangat klise. Aku suka mendengar orang mengelu tentang kehidupannya. Semua yang tampak baik-baik saja dari luar. Bisa begitu kompleks di dalam.

Aku menyadari dalam hidup, manusia tidak bisa mendapatkan kehidupan sempurna di bumi ini. Seindah apapun kebahagiaan yang tersuguhkan di TV. Senyum yang selalu terpasang di bibir mereka. Kita sama-sama tahu, itu hanya ada di TV.

"Selamat malam, sobat malam. Apa kabar? Semoga baik-baik saja ya. Kalau tidak, kalian boleh curhat. Di CH2I, Curahan Hati Hari Ini! Masih tetep bersama saya, Eric. Di malam gerimis ini, Tak usah galau sendiri. Bagikan kegalauan kalian semua pada Eric. Ditunggu curhatannya, Guys." Penyiar meninggikan nadanya di akhir kalimat. Lagu Dealova mulai terdengar.

Gerimis?

Aku berdiri. Melangkah 2 kali untuk membuka jendela. Benar, gerimis. Hujan ringan. Di dalam ruangan terasa pengap, terasa sedikit sejuk. Rambut warna hitam yang aku gulung sedikit basah oleh keringat. Titik keringat di dahiku yang sangat panas, mulai mendingin terkena angin hujan. Jika aku tinggal di rumah, aku tidak akan pernah kepanasan.

Aku melewatkan makan malam lagi. Sejak tinggal sendiri, aku memang jarang makan malam. Malas keluar. Hanya air putih menganjal perut perih. Memikirkan makan malam, membuatku terpikir Ibuku dan Adikku di rumah. Mereka makan apa? Apa perut mereka sudah kenyang oleh makanan hangat?

Kamar kos kecilku, tempat yang bagus meski jauh dari kata nyaman. Tembok tergambar bentuk gelombang basah dan lembab. Kamar ini hanya muat dengan satu lemari berwarna cokelat, meja berwara orange, kursi berwarna biru dan sebuah kasur lipat berwarna merah muda. Semua warnanya tak selaras sama sekali dengan tembok berwarna turquoies atau yang sering orang kampung bilang warna telur asin. Berbeda dengan rumahku yang harus memanggil desainer interior rumah hanya untuk menggantung cermin.

Jika aku mau memakai meja dan kursi, maka harus melipat kasurnya. Sebenarnya ada kamar kos yang lain, yang kasurnya ada dipan. Tapi, tak ada kursi yang ada sandarnya. Aku yang sedang mengerjakan skripsi dan menghadap layar laptop selama berjam-jam. Sangat membutuhkan sandaran pada punggungku yang mudah lelah. Berbeda dari kamar yang lain, ada sesuatu spesial di kamar ini, yang hanya dimiliki oleh kamar pemilik kost dan kamarku. Ada jendela berframe cokelat yang bisa dibuka. Memandang orang-orang berlalu-lalang di luar sana membuatku tidak sesak.

"Apa sudah pada tidur? Baru masuk satu curhatan malam nih. Langsung Eric baca. Selamat malam, Kak Eric. Namaku Sofia. Aku mau curhat. Aku baru putus dengan pacar pertamaku. Rasanya sakit. Aku nangis dua hari di kamar. Alasannya gak jelas dia mau putus. Kenapa dia mau pacaran denganku? Kalau akhirnya putus. Aku jadi benci banget sama dia. Salam buat Kak Eric. Aku mau request. Jangan putar lagu tiiit malam ini. Lagu itu banyak kenangan dan aku gak mau mengenang dia malam ini. Buseeet dah"

"Eric baru pertama kali denger. Orang request gak mau dengar lagu tertentu. Tapi untuk Sofia, malam ini Eric gak putar lagu itu. Eric juga pernah putus sama pacar pertama Eric. Cie-cie, Eric juga curhat. Waktu itu alasan kita putus karena kita jalan di tempat. Cinta begitu-begitu aja, bosen juga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN