Mohon tunggu...
Farah Fadhilah
Farah Fadhilah Mohon Tunggu... Freelancer

sedang belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Curahan Hati Malam Ini (Bagian 2)

11 Februari 2020   23:20 Diperbarui: 11 Februari 2020   23:39 32 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Curahan Hati Malam Ini (Bagian 2)
pexels.com

Suara sedih Rossa membawa ingatan yang menyedihkan. Terpikir ibu di rumah. Aku ingin menelepon, tapi takut membangunkannya. Aku ambil HP-ku dan mengetikan pesan singkat menanyakan Ibu sudah tidur atau belum.

Ting!

'Belum' jawab Ibu singkat. Ibuku salah ketik lagi. Huruf N, seharusnya U. Ibuku orang yang gagap teknologi, berusaha sangat keras belajar menggunakan handphone supaya bisa menghubungi anaknya yang tak tahan tinggal di rumah.

Aku mengetik dengan cepat menanyakan apa Ibu sudah makan. Aku menunggu hingga lagu Tega selesai, belum menerima balasannya. Suara yang terdengar dari radio kecil berwarna hitam berantena, kembali lagi menjadi instrument piano Kiss The Rain menjadi latar belakang suara merdu Eric.

"Kembali lagi dengan Eric. Masih di Curahan Hati Hari Ini. Sebelum membaca pesan yang masuk. Eric mau curhat. Hari ini, ini melihat kecelakan tragis. Dengan kedua mata Eric sendiri. Dua motor berlawan arah saling bertabrakan. Jusss. Braaak. Otomatis Eris langsung turun dari sepeda motor dan menolong orang bertabrakan itu. Eric melihat darah segar berwarna merah seperti kolam di jalan aspal. 

Eric yang gak punya pengetahuan medis tidak berani untuk menyentuh. Soalnya, mereka tak bergerak sedikit pun. Takut-takut salah bisa meninggal. Karena itu parah sekali. Untung di sana ada yang menoloh mengatakan dia dokter dan melakukan penolongan pertama pada mereka. Eric bantu meminggirkan kendaraan yang sudah hancur. Melihat penangan korban dan memikirkan kecelakaan. Eric lupa tadi Eric sama Ibu Eric. Eric cari Ibu Eric ternyata duduk di pinggiran jalan dan pucet habis melihat kecelakaan. Langsung deh Eric pulang. Karena Eric gak mau menambah korban di TKP. Hehehe"

'Belum' tulisan yang kubaca dari layar Hp. Ini salah satu alasan kenapa aku sangat berat meninggalkan rumah. Kata orang, dulu Ibu sangat periang, masa depan sangat cerah dari lulusan Teknik Kimia universitas ternama. Dia memilih menikah dengan kekasihnya daripada mencari pekerjaan. Setelah menikah, dia tak diperbolehkan bekerja oleh Ayah. Sosok asli Ayah terungkap, kebahagian Ibu mulai runtuh. Ibu berubah menjadi sangat pendiam dan mudah menangis. Sedangkan Ayah adalah orang yang sangat arogan. Apa-apa harus sesuai dengan keinginannya dia. Perkataan Ayah adalah hukum di rumah.

"Hikmahnya hampir mirip sama yang curhat satu. Hidup ini hanya sebentar. Kita tak tahu kita kapan mati. Jadi kita harus menghargainya dan menghabiskan untuk hal yang berarti. Salah satunya dengan orang tersayang. Next, curahan hati siapakah."

"Salam Kak Eric. Namaku, sebut saja Y. Kak, aku ingin bunuh diri. Eh, WHAT? Bentar ya, aku baca ini dulu." Terdengar suara Eric menguman.

Bunuh diri? Siapa orang yang curhat mau bunuh diri di radio? Pikirku antara heran dan kasihan.

Jangan-jangan dia hanya cari perhatian. Aku curiga. Atau dia tidak punya tempat curhat selain di radio? Pikirku dengan rasa iba.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x