Mohon tunggu...
Ady Setyawan
Ady Setyawan Mohon Tunggu... Penulis

Penulis Buku : Benteng Benteng Surabaya ( 2015 ) Surabaya Di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu ? ( 2018 )

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sejarah Panjang Prostitusi di Surabaya

5 Desember 2019   01:21 Diperbarui: 5 Desember 2019   07:46 0 4 0 Mohon Tunggu...
Sejarah Panjang Prostitusi di Surabaya
Buku karya William Barrington

Pada masa kepemimpinan F.J Rothenbuhler sebagai Gezaghebber van den Oosthoek , dia meninggalkan catatan memoar bertanggal 21 Juni 1809 : 

"Saat saya datang disini (Surabaya), kerumunan pengemis ditemui diberbagai sudut kota, di jalan, jembatan. Keberadaan mereka mengganggu aktivitas para pejalan kaki. Kadang mereka juga berjalan melewati rumah-rumah. Saya segera membangun komplek penampungan dari bambu yang bagus dengan kamar luas dikawasan terpencil, di sisi cabang sungai yang membentang ke arah Pegirian. Semua pengemis dikumpulkan disana".

Ditempat ini mereka diberi makan, dirawat, bagi yang menderita sakit jiwa tidak diizinkan meninggalkan komplek penampungan hingga sembuh. 

Ini adalah langkah Rothenbuhler untuk memerangi pengemis , gelandangan dan juga para pelacur yang terinfeksi penyakit kelamin di Surabaya. Sebuah tempat yang bukan hanya dilengkapi perawat tapi juga dukun jawa.

Tempat penampungan ini berdiri atas nama yayasan yang memang diinisiasi oleh Rothenbuhler dengan dana patungan dengan warga kota yang seide dengan dia. Tapi rupanya aksi Rothenbuhler ini ibarat menggarami air laut. Pengemis dan gelandangan tetap saja menjadi pemandangan umum di Surabaya.

Sebuah artikel di surat kabar tahun 1874 memberitakan : "Pada hari minggu, kerumunan besar pengemis berkumpul disini. Sebagian besar dari mereka dengan luka dan cacat tubuh yang mengerikan, datang dengan berharap belas kasihan penduduk. Mungkin pemandangan ini menarik bagi dokter, tapi bagi orang awam hanya menimbulkan perasaan bergidik dan jijik."

Polisi tidak berdaya menghadapi mereka, tetapi jika para pengemis ini ada yang bertindak kasar maka mereka akan diusir dengan kekerasan. Tindakan yang bisa membuat mereka pergi, tapi hanya untuk sementara waktu. Mereka akan segera kembali dan lingkaran permainan dimulai lagi.

Kasus prostitusi pun sama merajalela, Roorda van Eysinga dalam bukunya berjudul "Verschillende Reizen en Lotgevallen" ( Perjalanan dan Nasib Yang Berbeda ) tahun 1830 menuliskan : "Perempuan pribumi yang menawarkan diri naik keatas kapal yang bersandar". 

Eysinga bagaimanapun melihat hal ini sebagai hal yang positif, lebih lanjut dalam catatannya ia menuliskan "Kelakuan jahat ini masih bisa ditoleransi, daripada para pelaut turun meninggalkan kapal memasuki pemukiman mereka sambil menenggak minuman keras".

Mengingat Komisi Pembangunan Pelabuhan Surabaya yang baru dibentuk pada 1903, maka bisa dipastikan praktik prostitusi yang dituliskan Eysinga tentunya dilakukan di jalur pelayaran Kalimas

Van Eysinga mencatat pula kengerian dari penyakit yang diderita para pelaut ini : "Sebagian dari mereka menderita penyakit dari konsekuensi pelacuran, beberapa mati dan dilempar kelaut dengan kondisi jasad yang terlalu terkontaminasi untuk santapan hiu maupun buaya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN