Mohon tunggu...
Ady Setyawan
Ady Setyawan Mohon Tunggu... Penulis

Penulis Buku : Benteng Benteng Surabaya ( 2015 ) Surabaya Di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu ? ( 2018 )

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sejarah Perkembangan Lampu Jalan di Surabaya, dari Lampu Minyak, Gas, hingga Listrik

3 Desember 2019   15:14 Diperbarui: 3 Desember 2019   15:26 0 1 0 Mohon Tunggu...
Sejarah Perkembangan Lampu Jalan di Surabaya, dari Lampu Minyak, Gas, hingga Listrik
Lampu penerangan dari bawah viaduk Tugu Pahlawan. Gedung sisi kanan kini menjadi Bank Indonesia dan di kejauhan nampak menara gereja Kepanjen. (KITLV)

Malam di kota Surabaya adalah malam yang penuh gemerlap lampu. Bukan hanya sekedar lampu penerangan jalan, tapi juga pijar lampu dari pertokoan yang berjajar, hotel, minimarket dan juga papan-papan iklan yang bertebaran di penjuru kota. 

Jalan Tunjungan yang terpasang lampion dan lampu warna-warni, monumen-monumen yang dibangun untuk mengenang heroisme pertempuran Surabaya mendapat sorotan lampu yang terang benderang , bahkan Kalimas pun dipasang lampu hias dan lampion yang melintang pada beberapa bagian ruas sungai.

Sulit dibayangkan bahwa dua abad lalu, Surabaya adalah kota yang senantiasa diliputi kegelapan ketika malam tiba. Toko-toko tutup seiring tenggelamnya matahari dan memang tidak ada aktivitas berarti yang bisa dilakukan ketika malam. Masa bulan purnama menjadi sangat dirasakan kehadirannya ,menjadi hiburan sederhana yang tersendiri.

Ketika memang dibutuhkan untuk keluar rumah maka lentera atau obor digunakan sebagai penerang. Orang-orang kulit putih membawa budaknya yang disuruh berjalan didepan dengan membawa penerangan. Kejahatan saat malam hari merupakan ancaman serius dari situasi yang serba gelap ini. 

Seperti pada umumnya kolonialisme orang kulit putih diberbagai belahan dunia, mereka melakukan politik segregasi. Orang kulit putih sebagai kasta tertinggi dan kasta terendah tentu saja ditempati oleh pribumi. Politik segregasi dan masalah keamanan saat malam tiba melahirkan sebuah aturan: Penduduk pribumi wajib berjalan membawa obor/lentera saat malam. Aturan ini baru dicabut pada 1 Maret 1864.

Generasi awal penerangan jalan di Surabaya adalah dibangunnya lampu penerangan dengan bahan bakar minyak kelapa. Kontrak pekerjaan untuk menyalakan maupun mematikan lampu minyak dipercayakan kepada kelompok cina, mereka mendapat kontrak senilai 230 gulden perbulan untuk pekerjaan itu.

Tapi kemudian pemerintah kolonial Belanda berpikir bahwa kelompok Cina terlalu diuntungkan dengan pekerjaan ini, mereka pun mencari akal. Akhirnya ditemukan jalan keluar: Belanda memanfaatkan tenaga para narapidana untuk menyalakan, mematikan, merawat dan membersihkan lampu-lampu penerangan jalan. Dipekerjakan 20 narapidana dibawah pengawasan ketat aparat untuk menjalankan program ini. Dengan demikian kontrak dengan kelompok Cina berakhir pada tahun 1863.

Periode kedua penerangan jalan di kota Surabaya dimulai pada 1864 ketika pemerintah kolonial menganggarkan nilai sebesar 2.500 gulden guna pengadaan seratus lampu jalanan. Tetapi jumlah ini masih jauh dari harapan, jalan-jalan penting seperti Simpang, Kayun, Kaliasin, Keputran , Kupang dan Embong Malang masih saja gelap gulita ketika malam tiba.

Operasional dari pengadaan lampu-lampu baru yang menggunakan petrol ini tidak ditangani langsung oleh pemerintah, tetapi ditangani oleh kontraktor sebagai pihak ketiga. Si kontraktor juga membuat instalasi lampion dengan nyala yang begitu terang, tergantung di atas jalan. Orang-orang seketika heboh dengan pemandangan baru ini.

Lampu penerangan di taman kota (KITLV)
Lampu penerangan di taman kota (KITLV)
Tiga tahun kemudian tepatnya tanggal 2 April 1867, terjadi peristiwa yang menggegerkan. Seluruh lampion tidak ada yang dinyalakan, kontraktor menuntut dana operasional yang lebih besar dan pernyataan mereka dikenang sebagai sebuah pepatah sederhana pada masa itu : "geen geld...geen licht !!" ..."tak ada uang, tak ada penerangan !!".

Masalah penerangan menjadi masalah yang cukup serius bagi kota Surabaya. Sebuah tulisan dimuat oleh Soerabaja Courant tertanggal 5 September 1865 menuliskan sebuah puisi :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x