Mohon tunggu...
Advertorial
Advertorial Mohon Tunggu... Akun resmi Advertorial Kompasiana

Akun resmi Advertorial Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Sebuah Tekad dari Ujung Barat Indonesia

20 Mei 2019   15:36 Diperbarui: 20 Mei 2019   15:41 0 1 2 Mohon Tunggu...
Sebuah Tekad dari Ujung Barat Indonesia
sumber: Humas LPDB-KUMKM

Angin dari samudra hindia berhembus hangat ke sela-sela kapal yang sedang menggantungkan nasibnya pada laut. Pagi itu sudah bersandar kapal-kapal berisi harapan untuk keluarga di rumah. Indonesia memang kaya akan hasil laut, terbukti pada tahun 2018 hasil laut Indonesia menyumbang 30% pada pendapatan nasional. Sebagai negara maritim, setidaknya tahun ini, Indonesia kini telah dilabeli negara eksportir tuna terbesar di dunia.Tercatat hingga tahun 2017, Indonesia menghasilkan 198.132 ton ikan tuna senilai 659,9 juta dolar AS.

Provinsi Aceh menjadi salah satu penghasil tuna berkualitas ekspor di Indonesia. Terutama untuk tuna jenis sirip kuning hasil tangkapan nelayan lokal ini, menjadi idola untuk pasar mancanegara. Salah satu pengusaha lokal yang telah mengekspor hingga ke jepang dilakukan oleh Muslim, pemilik UD Nagata Tuna di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam.Usaha yang dirintisnya sejak pasca bencana tsunami Aceh tersebut berkembang pesat, inilah penggalan tekad dari ujung barat Indonesia.

Nagata Tuna awalnya hanya mengolah lobster yang dipasarkan ke Medan. Beriring dengan permintaan pasar, ikan tuna menjadi komoditas utamanya, apalagi pada saat itu ada kesempatan untuk memasarkannya ke Singapura dan Malaysia.

"Jadi awalnya ditawarkan, mau tidak dikirim ke Singapura, karena kualitasnya yang bagus, Aceh ini kaya dengan hasil lautnya," kata Muslim saat tim dari LPDB berkunjung melihat operasional usahanya.

Muslim mengakui bahwa memang sebagai provinsi yang dikelilingi laut dari bibir pantai barat hingga timur memberikan potensi maritim yang tinggi, bahkan kini Nagata Tuna pun merabah ke ikan-ikan kecil seperti ikan Cakalang, ikan Layang, dan ikan karang lainnya. Kendala yang dihadapi saat itu adalah sulitnya modal, apalagi lembaga bank juga sulit diakses karena memang perikanan menjadi sektor yang berisiko besar.

"Pada saat itu kami butuh dana, dan bank tidak mempercayai kita, karena bank disini belum percaya dengan perikanan"," kata Muslim.

Di tengah sulitnya akses modal tersebut, ditawarkanlah Muslim untuk mengakses dana bergulir LPDB-KUMKM. Ketertarikannya karena imbal jasa yang murah, yakni hanya lima persen per tahun menurun.

"Jadi saya dengar, ada dana bergulir LPDB, bunganya ringan, jadilah saya ajukan proposal usaha ini ke Jakarta.," ucap Muslim.

Dalam proses pengajuannya, Muslim merasakan LPDB tidak hanya sekadar memberikan permodalan saja namun juga pembinaan, terbukti kini administrasi yang dilakukan sudah lebih rapi dan lengkap dibandingkan sebelumnya.

"LPDB buat saya sangat profesional, tadinya kami tulis pembelian ikan di sobekan kardus rokok, sekarang sudah tertib administrasi, semua diketik menggunakan computer," ujar Muslim sambil tertawa menceritakan awal pengajuan dana bergulir LPDB.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x