Mohon tunggu...
Advertorial
Advertorial Mohon Tunggu... Akun resmi Advertorial Kompasiana

Akun resmi Advertorial Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Teknologi Digital Membuat Media Cetak Lebih Hidup

22 Maret 2017   11:21 Diperbarui: 22 Maret 2017   11:41 520 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Teknologi Digital Membuat Media Cetak Lebih Hidup
Talkshow “Teknologi Digital Membuat Media Lebih Hidup” | dok Sinyal Magz

Era teknologi digital mengharuskan semua pelaku bisnis dapat beradaptasi. Tak terkecuali pada perusahaan media, terutama media cetak, agar bisa bertahan di antara tumbuhnya teknologi online. Kemunculan media online menekan industri media cetak karena keleluasaan dalam menghasilkan konten dan distribusi yang massal dan instan. Inilah tantangan media cetak karena harus menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen sambil terus melakukan inovasi bisnis.

Tabloid Sinyal telah terbit selama 12 tahun lebih di bawah naungan Kompas Gramedia, Group of Magazine. Kini, Tabloid Sinyal lahir kembali dengan nama Sinyal Magz. Untuk menandai kemunculannya kembali (reborn) Sinyal Magazine mengadakan talkshow bertempat di Djakarta Theater XXI Jakarta (16/3). Talkshow ini mengambil tema “Teknologi Digital Membuat Media Lebih Hidup”. Hadir sebagai pembicara dalam acara ini Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informasi, MerzaFachys,Ketua ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia) sekaligus CEO Smartfren, dan DahlanDahi,Executive Director Kompas Gramedia Majalah.

“Kehadiran kami dengan bentuk majalah dengan tampilan baru diharapkan mampu memenuhi kerinduan para pembaca yang ingin mendapatkan ulasan  lebih dalam  seputar teknologi, gadget dan telekomunikasi . Di sisi lain, kami juga melakukan integrasi dengan tren teknologi yang sedang berkembang,” ungkap Moch. S. Hendrowijono, Pemimpin Redaksi Sinyal Magz.

Menurut Menkominfo Rudiantara,teknologi digital kini sudah menjadi subyek bagi industri media cetak karena kini informasi makin cepat, akurat, dan dapat diakses dimana saja berada. Media cetak butuh adaptasi pada kemajuan teknologi digital.

“Yang dibutuhkan media cetak saat ini adalah economic of scaledan mesti dikelola secara professional,” ungkap Chief RA, panggilan akrab Rudiantara.

Bagi media cetak yang masih berjaya harus menyesuaikan konten yang relevan ke pembacanya. Menurut Dahlan Dahi, berbagai data dari online perlu dilihat seperti 91 persen pengguna online datangnya dari mobile. Perlu ada penyesuaian ketika konten dialirkan lewat smartphone. Adaptasi terhadap perilaku konsumen menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar agar informasi yang disajikan dapat dinikmati oleh kebanyakan pengguna.

Industri media cetak harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen sambil tetap melakukan inovasi bisnis. Pendapat Robert G. Pickard, professor bidang ekonomi media dan manajemen sekaligus peneliti senior di Reuters Institute, University of Oxford yang menyatakan bahwa industri media cetak tidaklah mati karena gempuran digital ternyata relevan.

Merza Fachysmenyatakan bahwa ia meyakini masih ada ceruk pasar yang dapat dimanfaatkan oleh media cetak. “88% responden dari suatu penelitian melihat bahwa membaca produk cetak akan mendapatkan pengetahuan lebih mendalam daripada online. Sementara 64% pemasang iklan belum mau meninggalkan media cetak,” kata Merza.Menurut Merza, media yang menekankan perlunya media cetak melakukan integrasi dengan dunia digital. “Printing jadi jendela online, sebaliknya online juga jadi jendela printing,” tambahnya.

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh pebisnis media cetak adalah bagaimana menjadikan teknologi digital menjadi cara baru dalam mengoperasikan bisnis serta menjadi peluang untuk berkembang dan tumbuh. Karena itu butuh visi yang jelas untuk menjadikan teknologi digital mampu membuat media cetak hidup lebih berwarna. Pada saat yang sama, butuh  tebaran optimisme  bahwa adanya teknologi digital adalah keniscayaan dan menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan cerdik dan kreatif.  

Untuk dapat beradaptasi dan dapat terus bertahan sejumlah tahapan perlu dilakukan melalui transformasi bisnis. Pendapatan yang diperoleh untuk kelangsungan bisnis media adalah dari konsumen dan pengiklan. Konsumen punya banyak pilihan dalam berlangganan misalnya dapat berlangganan versi digital tanpa perlu menggerus versi cetaknya.

Transformasi bisnis media cetak tidak hanya melibatkan perusahaan media tetapi juga orang, organisasi, dan budaya perusahaan. Kebutuhan pada analis data dan mengintegrasikannya ke dalam organisasi contohnya akan membawa perusahaan dapat mengambil keuntungan dari analisis data terkait bagaimana mengakusisi pelanggan, dan melakukan monetisasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x