Mohon tunggu...
Mohamad Adriyanto
Mohamad Adriyanto Mohon Tunggu...

A tech freak, a fan of Disney-Pixar movies, a blog writer, a teacher, a retired school principal, a lecturer, a management facilitator, and above all a father. Fulbrighter of 2000. Google+ 1st Generation User. TEDx Organizer. Now going back to school once again.. Meet me at http://bit.ly/adriyanto

Selanjutnya

Tutup

Bola

5 Alasan Indonesia Harus Meninggalkan FIFA

19 Oktober 2015   13:01 Diperbarui: 19 Oktober 2015   20:03 496 1 4 Mohon Tunggu...

Menyaksikan euphoria pimpinan bangsa dan masyarakat di Piala Presiden 2015 membuat kita makin yakin dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Semangat ini harus jadi momentum untuk mengevaluasi lagi masa depan sepakbola bangsa kita, terutama dalam hubungannya dengan FIFA. Semakin banyak alasan untuk berpisah dari FIFA, semakin kuat juga argumentasinya. Berikut 5 alasan terkuat yang saya rangkum dari berbagai sudut pandang.

(1) FIFA sendiri terbukti sangat bobrok dan korup. Tidak rela rasanya negeri kita diatur dan dilecehkan oleh orang-orang yang ternyata penuh skandal seperti Sepp Blater dan Jérôme Valcke. Bisa jadi kebobrokan PSSI selama ini justru ditularkan oleh virus dari induknya sendiri yaitu FIFA. Atau ada conspiracy theory dimana FIFA memang secara sistematis "melemahkan" organisasi sepakbola negara-negara anggotanya agar bisa diatur untuk melanggengkan kekuasaan mereka. "Diktator" Sepp Blatter berkuasa dengan tangan besi selama 17 tahun dan masih ngotot mau memperpanjang masa tugasnya. Apa bedanya dia dengan diktator lain seperti Khadafi di Libya? Castro di Kuba?

(2) Kita tiru saja Amerika Serikat yang membuat "liga dunia" di basket, baseball dan berbagai oleharaga lain di negaranya sendiri yang memang sudah sangat besar. NBA isinya hanya klub dari Amerika Serikat & Kanada, the rest of the world bukan bagian dari liga elit tesebut. Indonesia hampir sama besar dengan mereka, mengapa kita tidak buat saja liga sepakbola sendiri? Buktinya Piala Presiden 2015 diikuti banyak tim besar dari seluruh pelosok negeri dan mampu menarik penonton lebih besar dari Liga Spanyol atau Italia, mampu menarik talenta pemain hebat dari manca negara. Belum euphoria yang luar biasa di masyarakat, menunjukkan betapa tingkat kegilaan terhadap sepakbola di Indonesia jauh melebihi negeri top seperti Jepang dan Korea Selatan. Belum lagi potensi keuntungan komersialnya. Kita bisa undang negera tetangga yang juga tidak seberuntung kita di kancah dunia seperti Malaysia, Timor Leste, Filipina, dkk dalam liga ini. Pasti seru dan bisa mengalahkan euphoria turnamen antar negara sekelas Pra Piala Dunia misalnya.

(3) Sejarah membuktikan bahwa secara alamiah (dan juga nasib) Indonesia tidak berhasil mencetak prestasi bagus di kancah sepakbola internasional. Bisa jadi karena kondisi fisik yang tidak cocok dengan olahraga ini, bisa juga karena budaya dan struktur mental yang membuat kita kalah terus dalam sistem pertandingan yang dipakai dalam sepakbola. Jadi memang sulit sekali mengalahkan tim negeri lain yang memiliki fisik jauh lebih besar dan kuat dibanding kita serta mental dan kepercayaan diri yang kuat. Sehebat apapun kita berusaha maka kita akan tetap seperti negara Mauritius, Mongolia, Andorra, dll yang selalu berada di ranking 5% terbawah FIFA. Jika kita ingin berprestasi hebat di level internasional, ada baiknya kita fokus saja ke hal yang memang kita punya potensi seperti bulutangkis, olimpiade matematika/sains, dll.

(4) Sebagai negara dengan populasi penggemar sepakbola terbesar dunia, tidak mungkin bagi sponsor komersial besar seperti Nike, Adidas, Coca-Cola, dll memalingkan muka dari Indonesia sekalipun jika kita memisahkan diri dari FIFA. Buktinya saat petinggi FIFA bermasalah dengan hukum, mereka ramai-ramai menghindar. Sponsor murni berpikir bisnis. Pasti mereka akan mendukung Indonesia yang punya potensi pasar ratusan juta penggemar bola fanatik, pasar sangat menggiurkan bagi produk mereka. Dengan dukungan sponsor raksasa seperti itu, kita bisa buat liga hebat sendiri di negeri kita yang maha luas ini.

(5) Piala Presiden 2015 membuktikan bahwa bangsa kita bisa lebih nyaman dan aman menikmati suguhan kompetisi sepakbola jika sifatnya lokal, yang tidak terlalu menyakitkan hati jika tim kesayangan harus kalah. Sebagai fans Persija misalnya, kalah dari Putra Samarinda pastilah tidak sesakit jika tim nasional kalah dari dari Malaysia. Walaupun tetap ada hooliganisme, tetapi semua masih dalam taraf yang bisa ditolerir. Persatuan bangsa juga makin terpupuk dengan adanya kompetisi nasional yang mengharuskan setiap tim keliling nusantara untuk bertanding dan saling silaturahim. Ekonomi bergerak dinamis dengan adanya liga besar yang diputar secara profesional di dalam negeri sendiri.

Tunggu apa lagi Pak Jokowi para pimpinan bangsa? Kita luncurkan revolusi perubahan mental di dunia sepakbola tanah air, dari mentalitas mengekor kemasyhuran FIFA, menuju pembentukan legacy kita sendiri. Sepakbola diciptakan untuk dinikmati, mana mungkin dinikmati jika kita kalah terus di kancah internasional? Kita buat "liga dunia" kita sendiri di negeri yang luar biasa luas dan besar ini.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x