Mohon tunggu...
Adrian Chandra Faradhipta
Adrian Chandra Faradhipta Mohon Tunggu... Sehari-hari menjadi kuli di Industri Migas Indonesia dengan ketertarikan pada dunia social volunteerism, kepemudaan, dan organisasi.

Sehari-hari menjadi Kuli di Industri Migas Indonesia dengan ketertarikan pada dunia social volunteerism, kepemudaan, dan organisasi.

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Kuil Haeinsa, Permata Warisan Dunia di Tengah Gunung Gaya Korea

4 April 2019   13:11 Diperbarui: 4 April 2019   13:57 0 4 1 Mohon Tunggu...
Kuil Haeinsa, Permata Warisan Dunia di Tengah Gunung Gaya Korea
Sumber: Dokumen Pribadi

Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi

Pada 2012 lalu saya berkesempatan menjadi perwakilan pemuda Indonesia dalam Indonesia Korea Youth Exchange Programme yang digagas Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia serta Ministry of Gender Equality and Family (MOGEF) Korea Selatan. Salah satu rangkaian acaranya adalah mengunjungi Kuil Haeinsa.

Kuil Haeinsa (Haeinsa Temple) layaknya sebuah permata yang tersembunyi dalam hutan, berlokasi di tengah rimbunnya Gunung Gaya, Provinsi Gyeongsang Selatan. Dibangun pada 802 Masehi, Kuil Haeinsa sangat terkenal karena menyimpan salah satu warisan dunia yang diakui UNESCO yaitu Tripitaka Koreana. Tripitaka Koreana sendiri adalah manuskrip kitab suci Buddha yang tersusun dari ukiran tulisan di blok-blok kayu, berjumlah 81.258 buah blok kayu yang tersusun rapi dan semua tulisannya diukir dalam aksara Tionghoa (hanja) dan berumur ribuan tahun.

Perjalanan kami diawali dengan mengendarai bus ke Gunung Gaya. Suhu yang cukup dingin pada peralihan musim gugur (autumn) ke musim dingin (winter) tidak menyurutkan kami mengekplorasi keindahan kuil ini. Warna dedaunan Maple yang menguning menghiasi sepanjang jalan menuju kuil tersebut.

Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi

Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi

Setelah memarkir bus rombongan kami pun memulai pendakian ke kuil tersebut. Untuk mencapai Kuil Haeinsa pengunjung diharuskan untuk mendaki setidaknya 2 Kilometer dari tempat parkir. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keasrian kuil oleh pengelola kuil.

Sesampainya di gerbang kuil, kami disambut oleh pemandu wisata kami yang telah disiapkan oleh pemerintah Korea Selatan. Diawal perjalanan kami diajak ke tempat bermukimnya para biksu serta tempat sembahyang para umat Buddha di dalam kuil. Di sini, terdapat beberapa ruangan dan bangunan yang sangat indah didominasi dengan warna emas, hijau, merah dan hitam khas Korea. Detail yang sangat rapi dan halus pun dapat terlihat di setiap sisi kuil.

Pemandu wisata kami bercerita bahwa di dalam salah satu ruangan yang tertutup untuk umum terdapat patung Buddha yang terbuat dari emas dan dijaga dengan sistem keamanan yang sangat modern. Bahkan, jika terjadi bencana seperti kebakaran atau pun gempa bumi secara otomatis patung Buddha tersebut akan masuk ke dalam bunker penjagaan di bawah tanah yang dilindungi oleh lapisan anti panas dan kuat terhadap runtuhan gedung.

Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi

Perjalanan kami dilanjutkan ke sumber air suci kuil. Disana kami berkesempatan untuk membasuh muka serta meminum air yang sangat jernih dan segar tersebut tersebut secara langsung. Air tersebut berasal dari mata air Gunung Gaya yang konon dapat membuat awet muda dan sangat baik untuk kesehatan.

Puncak perjalanan ini dilanjutkan dengan mengunjungi tempat penyimpanan Tripitaka Koreana. Untuk menjaga kondisi Tripitaka Koreana, kami hanya diperkenankan melihat melalui celah-celah dinding kayu tempat penyimpanannya.

Sesuatu yang unik dari tempat penyimpanan ini adalah bagaimana sistem penyimpanan Tripitaka Koreana yang notabene terbuat dari kayu dapat bertahan ribuan tahun di tengah suhu yang berubah-ubah melalui empat musim serta berada di atas gunung yang cenderung lembab dan dapat dengan mudah merusak kondisi kayu. Ternyata sistem sirkulasi udara ruangan, proses pemilihan bahan kayu dan sistem ukiran serta perawatan juga lah yang menjadi kuncinya

Inilah Korea Selatan, negeri yang tetap menjaga akar budayanya di tengah pesatnya modernitas di seluruh lini kehidupannya. Jika mereka bisa melakukannya mengapa kita tidak?