Farida Chandra
Farida Chandra

praktisi, pemerhati hukum ketenagakerjaan budidaya ikan lele dan pisang kepok pelestari dan usaha batik tulis madura

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Sido Muncul, Sudah (Benar-benar) Siapkah Anda “Open House”?

8 April 2015   21:01 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:21 170 1 1

Beberapa hari lalu saya mengikuti acara sebuah komunitas rempah yang salah satu agenda acaranya adalah mengunjungi Pabrik Jamu Sido Muncul Semarang. Acara diikuti oleh para petani dan pengusaha rempah termasuk eksportir dari berbagai wilayah di Indonesia. Sumatera (Kepri, Lampung, dll), Jabar, Jateng sebagai tuan rumah dan Jatim serta Sulawesi (Kendari) dan akademisi dari Makassar dengan total 70-an orang.

Serangkaian acara dilaksanakan tanggal 4 dan pada tanggal 5 April 2015, yang salah satu pembicaranya adalah manager Sido Muncul. Presentasi oke dan komunikatif. Saya makin antusias ketika beliau menyatakan akan menjelaskan lebih detil segala sesuatunya di lokasi pabrik keesokan harinya.

Hari Senin-nya tanggal 6 April jadwal kunjungan ke pabrik Sido Muncul. Karena kami di-inap-kan di hotel di daerah Bandungan, dan para peserta dari luar kota/luar pulau khususnya tidak membawa kendaraan sendiri, panitia mengantar-jemput kami. Sekitar jam 9 pagi kami berangkat konvoi sekitar 10-12 mobil dan tiba di lokasi pabrik sekitar jam 09.45 WIB.

Kami semua turun dari kendaraan, konon untuk di-recheck jumlah peserta di kantor security setempat. Tunggu punya tunggu, lebih dari 30 menit kami puluhan orang berdiri bergerombol di bawah pepohonan sepanjang jalan masuk pabrik, tidak tahu harus menunggu di mana? Menjelang siang, terbayang ‘kan panasnya terik matahari Semarang? Bagaimana juga jika saat itu hari hujan?

Tidak ada tanda-tanda kami diperkenankan masuk area pabrik dan kami bertanya kepada panitia acara, “ada apa?” Katanya, sedang menunggu PIC pihak pabrik. Hmmm…

Sekitar jam 11 siang kami diperkenankan masuk area pabrik. Tidak ada sambutan senyuman sama sekali dari PR apalagi sekedar welcome drink, it’s okay-laaahhh! Alasan mereka, kami harus menunggu hampir 1 kam karena jumlah rombongan yang belum lengkap sesuai yang terdaftar.

Entah apa yang diterangkan oleh sang PR wanita itu? Suara TOA yang nyaring ngiiinggg sehingga beberapa peserta lebih pilih pemandangan yang lebih menarik, mesin-mesin untuk proses pembuatan botol pupuk. Tentu disemprit. Dilarang memotret!!!!

Beralih ke gudang rempah. Gudang tertata rapi. Tapi PR wanita yang satu ini, wiii….maapp kata, jauh lebih jutexdaripada yang sebelumnya! Maapp, wajah hitam tidak manis itu semakin berasa asem tanpa senyum dan sangat tidak ramah.

Salah kami juga jika akhirnya Sang PR itu makin galak ketika kami lebih suka mengalihkan perhatian pada rak stok aneka rempah yang menjulang tinggi dan berbincang dengan para ibu bagian pen-seleksi bahan baku yang jauh lebih ramah.

Sesaat kemudian alarm tanda waktu istirahat karyawan Sido Muncul berdering nyaring. Sang PR berkali-kali menyatakan para karyawan sedang istirahat, ruang kosong sehingga kami tidak dapat melihat secara langsung proses produksi. Sekalipun itu proses packing, kami hanya bisa melihat kemasan kardus bertumpuk2 di sepanjang koridor. Atau sekedar jajaran mesin pres kemasan di ruang Kuku Bima Ener-G! O-ouw!

Demikian juga saat kami berjalan menyusuri koridor ruang laboratorium R&D yang katanya cukup canggih tapi kosong hampir tidak ada aktifitas. Bla bla bla dan akhirnya kami diarahkan ke pendopo yang berada di lokasi Agrowisata.

Ya…sudahlah. Meski tanpa kehadiran manager yang kemarin berjanji akan menerangkan lebih detil segala hal terkait rempah hasil produk kami. Kata Sang PR, beliau harus mendampingi tamu (yang lebih) penting (daripada kami).

Pemandangan beberapa ekor harimau dan segelas Cola Mill dingin plus 2 (dua) buah snack cukuplah bagi kami bahwa kunjungan ini tetaplah berharga apalagi dapat oleh-oleh sekantong kecil produk Sido Muncul. Terima kasih! Dan saya pribadi juga mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak berkenan selama kunjungan.

Dan perkenankan saya urun saran agar jadi lebih baik:

1.Evaluasi kembali acara “open house” pabrik Anda

Jika Anda siap buka pintu pagar rumah, berarti Anda dan seluruh “penghuni” siap dengan segala kemungkinan, termasuk menghadapi tamu, dia sahabat atau justru “penjahat” bagi Anda?

Selektif kepada para calon tamu itu bagus tapi jika sudah diperkenankan masuk, sambutlah tamu sebaik mungkin karena mereka adalah duta perusahaan Anda.

Pilah kembali area yang diperkenankan bagi tamu : sebatas pintu pagar dan serambi saja, atau hingga ruang tamu saja atau seluruhnya hingga ruang privat seperti kamar tidur? Tanpa perlu sibuk menghardik “dilarang memotret!!!”. Apakah Anda siap jika suatu saat security harus merampas kamera kami…eh kami tidak berniat “mengintip” yang tidak nampak, koq!

2.Seleksi ketat dan tempatkan karyawan penerima tamu mulai dari pos security yang telah dibekali dengan kemampuan public relation dan communication skill yang memadai

mengingat tamu Anda dari berbagai golongan masyarakat dengan tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial yang berbeda. Sebersih apapun pabrik Anda, secanggih apapun teknologi dan sebaik apapun produk Anda, jangan berharap berdaya jual tinggi dan image yang baik jika menempatkan karyawan yang kurang sesuai kebutuhan masyarakat. Kami datang permisi dan Anda mempersilakan kami masuk sebagai tamu Anda. Bukan sebagai karyawan Anda.

Orang pintar, minum tolak angin. PR pintar, tetap mampu menguasai segala kondisi dan keadaan dengan senyuman.