Mohon tunggu...
Brader Yefta
Brader Yefta Mohon Tunggu... Administrasi - Menulis untuk berbagi

Just Sharing....Nomine Best in Specific Interest Kompasiana Award 2023

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ketika Kita Sering Membandingkan Hidup dengan Orang Lain

1 Juli 2021   19:19 Diperbarui: 2 Juli 2021   01:00 574
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Membandikan hidup dengan kehidupan orang lain (Sumber: www.prima.co.uk)

Sayangnya mobil mahal di parkiran itu yang tadinya bikin iri 2 atau 3 orang pegawai di kantor karena merasa hidupnya tak seberuntung calon nasabah ini ternyata bukan miliknya. 

Si pria hanyalah sopir kepercayaan bosnya. Lalu siapa wanita cantik putih mulus dan tinggi ini? Dia adalah selingkuhan si bos yang tengah bermasalah dengan istri sah majikannya. 

Rumitnya lagi, BPKB mobil itu tercatat atas nama si istri sah dan sudah diagunkan sebelumnya di salah satu bank. 

Kini agunan itu masih menggantung, sama seperi hubungan cinta segitiga sang majikan. 

Sebaliknya, si sopir pun tengah bermasalah dengan istrinya juga lantaran diduga ada "main" dengan selingkuhan bosnya, yakni si perempuan ayu yang duduk membusung di kursi depan meja saya. 

Pertanyaannya mungkin, bagaimana saya bisa pelan-pelan tahu kisah bak episode sinetron ini? 

Jawabannya karena setelah pertemuan singkat di kantor, kemudian saya dihubungi ulang untuk konfirmasi kembali. Di situlah terungkap lewat curhatan. 

Di dalam tertawa pun hati dapat merana...(proverb)

Izinkan saya menggunakan contoh lain yang berangkat dari curhatan juga. 

Seorang pegawai kantoran dengan seragam salah satu perusahaan formal di tanah air, duduk santai di siang hari di sebuah cafe kecil yang menjajakan beraneka roti dan kopi. 

Manakala sedang asyik berkutat dengan laptop di hadapannya, lewatlah seorang abang tukang bakso dengan handuk kecel melingkar di leher lagi mendorong gerobak.

"Mas, bakso 2 mangkok dibungkus," terdengar suara si pelayan kafe memesan pada si abang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun