Mohon tunggu...
Adolf Isaac Deda
Adolf Isaac Deda Mohon Tunggu... Menulis untuk berbagi

Sarjana teknik sipil,bekerja di perusahaan finance.

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Bandara Sentani, Ujung Tombak Transportasi di Ujung Timur Indonesia

15 September 2019   17:43 Diperbarui: 15 September 2019   17:49 0 1 1 Mohon Tunggu...
Bandara Sentani, Ujung Tombak Transportasi di Ujung Timur Indonesia
Sumber: dokpri 2015

Mendengar kata Sentani, jauh di mata dekat di hati. Kedua orang tua saya berasal dari Suku Sentani dan meski sudah lama tidak pulang, saya masih mengingat kampung -kampung dan distrik yang letaknya berdekatan dengan bandara terbesar di ibu kota Papua itu. Ada Kampung Yahim yang dulunya jalan masih jalan tanah, Distrik Hawai yang lebih dulu dilewati sebelum ke bandara.

 Beberapa kampung di tengah Danau Sentani yang masuk dalam wilayah Sentani barat seperti Putali, Ifar Besar, Atamali dan beberapa kampung yang lain, biasanya untuk mencapai kampung-kampung tersebut warga mesti melewati Kampung Yahim menuju pelabuhan di pinggir kampung tersebut untuk menumpang perahu motor atau mendayung sendiri menuju kampung -kampung tersebut. Terakhir tahun 2015 saat saya pulang, wilayah sekitar Bandara sudah banyak berubah.

 Banyak pertokoan, gedung -gedung pemerintah sudah dibangun. Dan jalan di Kampung Yahim sudah beraspal. Wajar memang, sebuah bandara harus memberi memberi akses positif terhadap wilayah sekitarnya secara khusus dan berdampak terhadap perkembangan ekonomi. 

Saya kurang tahu sejak kapan Bandara Sentani dibangun. Sejak saya lahir dan tumbuh di masa kecil, orang tua sudah sering membawa saya melewati bandara karena banyak keluarga dan kerabat yang tinggal di distrik -distrik yang berdekatan dengan bandara. Beberapa teman masa kecil , yang kebetulan orang tuanya berdinas di AURI( Angkatan Udara Republik Indonesia) juga sebagian pindah ke sekitar bandara karena sebelumnya pangkalan AURI di Komplek Angksapura di Jayapura Utara di pindahkan ke sana.

 Hal yang dikengenin dulu semasih komplek perumahan dan kantor AURI masih di Angkasa adalah rutinnya melihat pesawat helikopter milik TNI AU mendarat dengan suaranya yang khas di atas landasan beton di kompeks AURI itu. Kini sudah banyak berubah setelah dipindahkan ke sana di akhir sembilan puluhan. 

Tugas perjalanan dinas ke Jakarta hari ini membuat memori saya berputar ke Bandara Sentani. Di hotel tempat saya menginap sore ini, sebuah buku yang berjudul 296 Bandara Gerbang Indonesia mengulas bandara -bandara yang ada di Indonesia, termasuk salah satunya Bandara di samping kampung halaman saya itu. Bandara kelas I Utama dibawah pengelolaan unit penyelenggara Bandar Udara Kementerian Perhubungan ini memiliki luas lahan 284 hektar  dan memiliki runway (landas pacu) 3000 meter kali 45 meter. Dengan run way sepanjang itu Bandara Sentani mampu didarati pesawat berbadan lebar untuk rute -rute jalur utama. 

Rute keluar papua seperti ke Ambon, Manado, Denpasar dan kota besar lainnya. Untuk rute dalam propinsi yang juga penting sebagai jalur transportasi adalah dari Jayapura ke Biak, Timika, Merauke, Wamena dan beberapa kota lain di tanah Papua. Selain rute domestik, untuk pelayanan sosial seperti pelayanan misionaris juga menggunakan bandara ini. Khusus pelayanan misionaris, sudah dari jaman saya masih kecil. Adalah hal yang biasa bagi saya dan juga warga Papua di Jayapura melihat para 'pace mace bule' ini naik dan turun di pesawat misionaris , yang sudah pasti berukuran kecil pesawatnya dibanding pesawat komersial. 

Tradisi dan budaya orang Papua yang suka makan sirih pinang, turut mendorong pengelola bandara untuk menggalakan program bersih -bersih bandara dari ludah sirih pinang. Memang sudah dari sananya, budaya sirih pinang mengakar di masyarakat. Pergi bertamu atau sialhturahim kerumah saudara atau keluarga, biasa disuguhkan sirih pinang, lengkap dengan kapurnya. Tidak ada yang salah karena kearifan lokal dan tradisi yang turun -temurun harus dijaga dan dilestarikan.. Namun kadang -kadang terlalu asyik makan sirih pinang, ludah nya bisa kemana-mana. termasuk bila sedang duduk mengantar saudara ke bandara atau menanti keluarga yang datang. 

Sumber: dokpri 2015
Sumber: dokpri 2015

Untuk menjaga lingkungan bandara tetap bersih, pengelola bandara Sentani memasang tanda larangan "dilarang makan buah pinang'. Maksudnya boleh saja makan, asalkan ludah dan ampasnya dibuang ke tempat sampah yang memang disediakan di bandara. 

Rencana jangka panjang yang sudah disiapkan untuk bendara ini adalah pekerjaan pembebasan jalur hijau seluas empat hektar dan lanjutan pembebasan tanah ke arah danau sentani seluas lima hektar. Latar belakang dari rencana ini adalah terpilihnya Papua sebagai tuan rumah PON tahun 2020 yang tentunya akan banyak penerbangan dan arus penumpang masuk dan keluar bandara selama pelaksanaan PON berlangsung nanti. Tentunya untuk perluasan ini membutuhkan dana dari APBN. Selain itu pemindahan area DPPU untuk perluasan terminal. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2