Adolf Isaac Deda
Adolf Isaac Deda Karyawan Swasta

Sarjana teknik sipil yang bekerja di perusahaan finance. Menulis untuk berbagi

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Dua Sisi Edukasi Antara Nasabah dan Pemberi Kredit

2 Desember 2018   13:44 Diperbarui: 2 Desember 2018   15:15 1069 10 5
Dua Sisi Edukasi Antara Nasabah dan Pemberi Kredit
Sumber ilustrasi: stopbrokerfraud.com

Ada istilah pepatah populer, "tak kenal maka tak sayang". Sepertinya pepatah itu berguna bagi Anda yang hendak mengajukan kredit. Dimanapun tempat yang dipilih, entah di lembaga keuangan, di lembaga pembiayaan ataupun di koperasi yang banyak tersebar, seyogianya mesti memahami hak dan kewajiban.

Sejauh mana kewajiban saya sebagai debitur dan apa hak yang saya peroleh. Demikian juga sebaliknya. Lembaga pemberi kredit sebagai kreditur juga memiliki hak dan kewajiban. Semakin formal lembaga pemberi kredit, semakin perlu mengenalinya.

Layaknya calon mempelai laki-laki dan wanita yang mengucapkan janji sehidup semati pada saat pemberkatan pernikahan, calon debitur dan lembaga pemberi kredit juga menandatangani akad (perjanjian) kredit yang di dalamnya mencakup pula hak dan kewajiban.

Jujur sebagian besar calon nasabah jarang membaca dan memahami apa yang tertuang di dalam nya. Hanya mendengar penjelasan dari PIC marketing yang menjelaskan pada saat penandatanganan kontrak. Sebagian kecil malah lebih terfokus untuk menerima barang nya (atau uangnya) dan sesudah itu cukup tahu bayar angsuran nya sekian.

Contohnya seperti kemarin siang (saat saya bertugas). Seorang nasabah laki-laki, berusia sekitar empat puluhan datang ke kantor seorang diri. Dari raut wajahnya, terlihat sedikit bingung. 

"Ada yang bisa dibantu Pak ?" tanya saya saat disilakan duduk di kursi depan meja saya.

"Gini Pak. Saya mengajukan kredit sertifikat rumah di salah satu bank, namun di data mereka saya ada tunggakan. Saya diarahkan untuk mengecek ke sini. Tiga tahun lalu kami pernah kredit di sini, namun seingat kami, saya dan istri tidak pernah membayar sisa angsuran nya sampai hari ini," ungkap si bapak itu.

Memang total outstanding nya tidak sampai satu juta rupiah, tapi mengabaikan kewajiban membayar selama tiga tahun bisa jadi pihak bank tidak akan menyetujui pinjamannya sebelum mendapatkan surat keterangan lancar dari kantor kami.

"Kok tidak dibayar sampai lama gini Pak?" tanya saya ingin tahu

"Karena kami pindah tugas ke kota lain," jawabnya

"Bukankah ada cabang kami di kota itu? Mengapa bapak dan ibu tidak melanjutkan pembayaran di sana, "jawab saya.Beliau hanya diam saja.

Mungkin contoh di atas hanya salah satu dari sekian contoh yang lain dengan kasus yang berbeda. Tipis membedakan pada contoh di atas apakah itu kesengajaan dari perilaku nasabah atau ketidaktahuan dari nasabah.

Biasanya jawaban paling aman dari nasabah pada kasus di atas adalah saya tidak pernah dijelaskan oleh PIC marketing mengenai itu. Alasan itu bisa jadi benar karena mungkin marketingnya lupa menjelaskan pada saat penandatanganan perjanjian kredit.

Namun proses kredit itu sudah dilakukan tiga atau empat tahun yang lalu. Seandainya petugas marketing sudah menjelaskan, apakah masih di ingat oleh nasabah dan pasangannya? Yang pastinya, apabila nasabah sudah menandatangani berkas perjanjian, dianggap bahwa nasabah sudah memahami hak dan kewajibannya, termasuk di dalam nya konsekuensi dan resikonya.

Kembali ke jawaban nasabah di atas, bagi saya itu jawaban yang luar biasa... hehe. Tidak pernah diinfokan, lantas selama tiga tahun tidak pernah membayar apakah tidak merasa (dalam hatinya) ada sesuatu yang salah dengan kewajibannya.

Seandainya tidak ada mengajukan pinjaman yang besar ke bank, bisa jadi tidak muncul dan terpikirkan "dosa masa lalu" itu. Surat keterangan lunas yang dibutuhkan itu ibarat surat pengampunan dosa. . hehe. Bila di asosiasikan ke bahasa sehari-hari: maafkan kami Pak, kami mau melunasi sekarang, please bantu kami buat surat keteranganya agar bank mencairkan pinjaman kami yang ratusan juta itu.

Dua Sisi Tanggung Jawab Edukasi 

Industri pembiayaan dan lembaga pemberi kredit tumbuh dengan subur karena supply dan demand. Rilis OJK per September 2018, jumlah perusahaan pembiayaan yang ada di Indonesia mencapai 255 perusahaan (sumber databoks.co.id). Itu terdiri dari 188 perusahaan pembiayaan, 65 perusahaan modal ventura dan 2 perusahaan pembiayaan infrastruktur.

Pembiayaan terbesar yang diberikan oleh lembaga pembiayaan ke masyarakat adalah pembiayaan multiguna dan pembiayaan investasi. Ragam pembiayaan multiguna dan investasi itu seperti apa, mungkin nanti akan di share di tulisan berikut nya

Edukasi ke nasabah atau calon nasabah itu penting. Seandainya perusahaan pemberi kredit itu adalah subjeck, maka obyeknya adalah nasabah. Boleh dikata ada simbiosis mutualisme.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2