Mohon tunggu...
Xerpihan
Xerpihan Mohon Tunggu... Penulis - Start-up Perbaikan Teks Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Xerpihan adalah perusahaan start-up tentang Artificial Intelligence untuk perbaikan teks Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Website kami dapat diakses di xerpihan.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ekonomi dan Kemampuan Bahasa, Berpengaruh?

9 April 2021   11:02 Diperbarui: 9 April 2021   11:29 504
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Semakin mapan ekonominya, semakin pintar orangnya? (Wikimedia Commons/Andrzej Otrębski)

Kemudian bahasa dengan penutur terbanyak berikutnya, yang lagi-lagi bukan bahasa Inggris – karena bahasa Inggris merupakan bahasa dengan penutur terbanyak ketiga di dunia. Bahasa Spanyol merupakan bahasa yang tidak cuma dianut oleh Spanyol saja. Nyaris semua negara di wilayah Amerika Latin (Meksiko ke selatan) berbahasa Spanyol, selain juga sebagian kecil negara di Afrika seperti Guinea Khatulistiwa. Bahasa Spanyol juga merupakan bahasa dengan penutur terbanyak kedua di AS.

Bahasa Spanyol menyebar luas ke sebagian besar benua Amerika berkat penjelajahan samudra yang dilakukan Spanyol mulai akhir abad ke-15. Mereka menguasai daratan yang mereka temui dan memperkenalkan bahasa Spanyol pada penduduk setempat. Kini bahasa Spanyol menjadi bahasa resmi (de facto dan/atau de jure) di 20 negara dengan total penduduk sekitar 442 juta jiwa. Rata-rata negara-negara tersebut merupakan negara-negara berkembang, tentu saja dengan mengecualikan Spanyol sebagai negara maju di Eropa.

Bahasa lain yang juga banyak digunakan adalah bahasa Prancis. Bahasa Prancis telah lama dijadikan sebagai bahasa resmi di berbagai organisasi internasional. Kolonialisme Prancis di Afrika membuat banyak negara di Afrika menggunakan bahasa Prancis, dan membuatnya naik status sebagai bahasa internasional. Tidak semua negara-negara berbahasa Prancis merupakan negara maju: selain Prancis dan Belgia, rata-rata merupakan negara berkembang hingga miskin.

Perlu diketahui kalau sebetulnya tidak ada definisi yang pasti mengenai “negara maju” dan perbedaannya dengan “negara berkembang”. Beberapa parameter dikembangkan untuk mengukur kepantasan suatu negara dalam kategori negara maju, seperti Indeks Pembangunan Manusia, klasifikasi pendapatan tinggi dari Bank Dunia, hingga data anggota Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Ekonomi Mempengaruhi Kemampuan Bahasa?

Benarkah ekonomi mempengaruhi kemampuan bahasa? Kalau benar, berarti semakin kaya orangnya semakin ia pintar bahasa asing dong? Berati pantas dong orang-orang kaya bahasanya keminggris, dan tidak pantas untuk kita yang missqueen? Wkwk :D

Sejumlah penelitian telah mencoba mengaitkan antara status sosial ekonomi seseorang dan keluarganya terhadap kemampuan belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris. Sayangnya, hasil riset tersebut menunjukkan kalau keduanya memang berkaitan.

Contohnya adalah penelitian oleh M. Obaidul Hamid di tahun 2011 dalam jurnal Bangladesh e-Journal of Sociology. Riset bertajuk Socio-economic Characteristics and English Language Achievement in Rural Bangladesh kali ini meneliti sebuah subdistrik pedesaan di Bangladesh, di mana karakteristik sosial ekonomi keluarga siswa sekolah menengah dicoba dihubungkan dengan prestasi akademik mereka di mata pelajaran bahasa Inggris. Hasilnya, siswa dengan tingkat pendidikan orang tua dan pendapatan keluarga yang lebih tinggi cenderung memperoleh nilai bahasa Inggris yang lebih tinggi pada tes kecakapan serta ujian sekolah.

Penelitian serupa juga dilakukan dalam disertasi Walid Salameh tahun 2012 dari The British University of Dubai di Dubai, Uni Emirat Arab. Dalam disertasi berjudul The Impact of Social and Economic Factors on Students’ English Language Performance in EFL Classrooms in Dubai Public Secondary Schools ini Walid mengidentifikasi hubungan antara pendidikan terakhir, status keuangan, dan pekerjaan orang tua terhadap kinerja bahasa Inggris siswa-siswa di empat sekolah menengah negeri di Dubai. Hasilnya tidak jauh beda: siswa-siswa dengan status ekonomi yang mapan (dan latar pendidikan orang tua yang tinggi) berdampak pada nilai mata pelajaran bahasa Inggris yang lebih tinggi dibandingkan siswa-siswa dengan status ekonomi dan latar pendidikan orang tua yang rendah.

Faktor ekonomi menjadi salah satu alasan penting akan tingginya nilai bahasa Inggris (terutama di negara-negara yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa asing) karena beberapa sebab. Status sosial ekonomi yang tinggi memungkinkan orang tua siswa menginvestasikan lebih banyak energi untuk kemampuan bahasa Inggris yang lebih memadai. Misalnya les bahasa Inggris, yang tentu saja membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan hanya belajar di sekolah. Dalam disertasi Walid, sebanyak 41% siswa kelas 10, 51% siswa kelas 11, dan 44% siswa kelas 12 percaya soal faktor ini.

Selain itu, orang tua dengan tingkat pendidikan lebih tinggi atau dengan kemampuan bahasa Inggris mumpuni berdampak pada penguasaan bahasa Inggris yang lebih baik. Orang tua dari kelas sosial tinggi memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang lebih luas dibandingkan orang tua dari kelas sosial yang rendah. Kemungkinan, pendidikan tinggi membuat seseorang mampu bekerja dengan lebih terencana, sehingga peluang naik ke tingkat ekonomi yang lebih tinggi menjadi besar.

===

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun