Mohon tunggu...
Adiva Salsabila
Adiva Salsabila Mohon Tunggu... Mahasiswa - UPN "Veteran" Yogyakarta

Saya merupakan mahasiswi Semester 5 jurusan Hubungan Internasional UPN "Veteran" Yogyakarta yang memiliki antusias tinggi terhadap politik luar negeri, pariwisata, maupun kuliner lokal dan mancanegara.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Upaya Gastrodiplomasi Indonesia Melalui Indonesian Food Festival 2019 di Bangladesh

4 Oktober 2022   20:45 Diperbarui: 4 Oktober 2022   20:51 137 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ubud Food Festival yang dihadiri oleh wisatawan mancanegara (phinemo.com)

Makanan merupakan salah satu komponen identitas sebuah negara yang saat ini menjadi salah satu hal penarik perhatian bagi masyarakat lokal maupun mancanegara. Bahkan tak jarang sebuah makanan dijadikan salah satu objek wisata disuatu negara. Hal ini tentu saja sangat berpeluang besar lantaran dalam wisata kuliner, keotentikan sebuah makanan menjadi daya tarik apabila hidangan tersebut dapat dinikmati di negara asalnya secara langsung dan bagi yang tidak bisa menikmati dari asal negara secara langsung tetap dapat menikmatinya dengan cara membeli produk yang dijual secara komersil. 

Hal inilah yang membuat makanan dapat dijadikan sebagai alat untuk berdiplomasi. Gastrodiplomasi dapat didefinisikan sebagai ranah kebijakan dan praktik di mana aktor negara dan non-negara berusaha untuk menumbuhkan citra positif dengan nation brand yang ditunjukkan kepada publik asing, menggunakan wisatawan asing yang dinilai sebagai potensi berharga untuk dapat meningkatkan pendapatan negara serta citra negara (Hananto, 2021). Gastrodiplomasi sejalan dengan diplomasi publik yang menggunakan soft power sebagai penarik perhatian. Potensi budaya, kuliner dan parawisata menjadi sebuah jembatan baru untuk mencapai tujuan negara serta mendapatkan perhatian publik asing melalui pola kegiatan yang dilakukan oleh gastrodiplomasi. Gastrodiplomasi tak hanya memberikan cita rasa kuliner, namun juga pengalaman mengenai filosofi, pesan, dan nilai yang dimiliki oleh makanan tersebut. Contohnya adalah rendang, masakan padang yang memiliki filosofi kesabaran, kegigihan dan kebijaksanaan. Filosofi tersebut didapat dari proses memasak rendang yang memakan waktu cukup lama. Lalu, sebagai contoh berikutnya adalah pempek yang memiliki tekstur kenyal sebagai simbol fleksibel dan dinamis. Tekstur kenyal dalam pempek juga dapat ditafsirkan bahwa berarti hidup harus luwes dan peka terhadap perubahan. 

Potensi-potensi kuliner Indonesia sudah nampak memiliki peluang yang besar. Dimulai dari masuknya beberapa makanan Indonesia ke dalam kategori 50 makanan terbaik dunia versi CNN. Diantaranya rendang, nasi goreng, dan soto ayam. Belakangan, Indonesia sudah mulai menjalankan beberapa kegiatan dengan tujuan untuk menyebarluaskan potensi kuliner khas Indonesia untuk menarik perhatian publik asing. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya kegiatan festival makanan yang diikuti oleh Indonesia ataupun diadakan oleh pemerintah Indonesia sendiri melalui KBRI yang tersebar di penjuru dunia. Dalam melaksanakan festival makanan tersebut, Indonesia sering kali mendapatkan respon yang sangat baik, terlihat dari jumlah partisipan yang datang dan peningkatan penjualan masakan Indonesia di mancanegara. 

Dalam gastrodiplomasi, yang menjadi daya tarik bukanlah kuliner semata. Kemajuan ekonomi, teknologi, keindahan alam, dan  identitas negara yang merujuk kepada karakter bangsa, tradisi, budaya, serta bahasa juga menjadi daya tarik tersendiri yang muncul akibat gastrodiplomasi. Bukan hanya Indonesia saja, setiap negara pasti memiliki makanan khasnya sendiri - sendiri seperti Jepang dengan sushi atau Malaysia dengan nasi lemak. Melalui makanan khas tersebut, masyarakat secara umum dapat mengenali suatu negara melalui makanan yang khas dari negara tersebut.


Indonesian Food Festival Tahun 2019 di Bangladesh sebagai Upaya Gastrodiplomasi Indonesia

Acara Indonesian Food Festival yang digelar oleh KBRI Dhaka di Bangladesh menjadi acara yang sangat menarik bagi masyarakat Bangladesh. Berdasarkan wawancara dengan Asdrin Qiranne selaku Former Administrative and Technical Staff for Information and Social Department di Kantor KBRI Dhaka, acara tersebut sangat menarik karena tidak adanya restoran Indonesia yang ada di Bangladesh sehingga membuat masyarakat Bangladesh mendapatkan pengalaman untuk mencicipi makanan khas Indonesia melalui festival yang di selanggarakan ini. Dalam pelaksanaan festival makanan tersebut, KBRI Dhaka menyusun rangkaian acara yang setiap harinya diisi dengan penampilan - penampilan dari para penari asal Indonesia. Melalui tarian – tarian tradisional tersebut, Indonesia melakukan branding diri sehingga masyarakat Bangladesh memiliki pandangan lain tentang Indonesia selain makanan yang beragam. 

Untuk membuka Indonesian Food Festival 2019, KBRI Dhaka mengundang Duta Besar dari negara sahabat, Pejabat Pemerintah Bangladesh, Teman Indonesia di Bangladesh, dan tamu undangan lainnya pada Gala Dinner. Lebih dari 20 kuliner khas Indonesia seperti Sop Buntut, Kambing Guling, Ayam Goreng Serundeng, dan Cumi-Cumi Balado disajikan dalam Gala Dinner tersebut. Dengan diselenggarakannya acara ini melibatkan KBRI Dhaka dan Hotel Pan Pacific Sonargaon. Dari kerjasama tersebut dapat dilihat wujud dari diplomasi yang dilakukan, yaitu kerjasama antar aktor negara dan aktor non negara. KBRI Dhaka sebagai aktor negara memiliki peran sebagai penyelenggara yang menyusun rangkaian acara, sedangkan Hotel Pan Pacific Sonargon sebagai penyedia tempat yang dapat disimpulkan bahwa acara tersebut diterima oleh masyarakat Bangladesh. 


Berdasarkan beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh KBRI Dhaka melalui penampilan berbagai tarian, kemudian memberikan penjelasan mengenai makanan dan sejarahnya menjadi sejalan dengan prinsip diplomasi publik yang menggunakan soft power dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Bangladesh dengan budaya yang dimiliki oleh Indonesia, kemudian meningkatkan apresiasi masyarakat Bangladesh mengenai kuliner yang disajikan, menarik masyarakat Bangladesh untuk mengenali kuliner Indonesia secara mendalam, serta mempengaruhi perilaku sesuai dengan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. 


Adiva


Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan