Mohon tunggu...
Aditya
Aditya Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa Sosiologi

Mengharap semua orang senang dengan pikiranmu adalah utopis. Keberagaman pikiran adalah keniscayaan yang indah.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Membumikan Literasi

17 Maret 2020   08:30 Diperbarui: 17 Maret 2020   11:41 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diantara tumpukan kata. sumber gambar: @afiramadhan

Mahasiswa dikenal sebagai agent of change, agent of control, dan agent of social, setidaknya itu yang melekat pada mahasiswa. Mahasiswa juga identik dengan aksi demonstrasi ketika ada kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat, serta memperjuangkan idealisme yang menjadi barang mewah. Terbukti mahasiswa mampu menggulingkan penguasa yang otoriter, korupsi, kolusi, nepotisme pada tahun 1998, dan peristiwa itu dikenal sebagai reformasi.

Reformasi tak mungkin terjadi jika mahasiswa tidak memiliki daya pikir yang kritis terhadap keadaan sosial yang dialami, dan berpikir kritis lahir dari budaya membaca buku, menulis dan berdiskusi. Karena membaca buku adalah salahsatu cara menjaga akal sehat, menulis mengasah daya kritis individu mahasiswa dalam sebuah tulisan dan agar tidak terjebak dalam absolutisme dalam berpendapat maka dibarengi dengan berdiskusi. 

Hal ini dilakukan agar daya kritis mahasiswa tumbuh dan terus terjaga, bahkan sebelum menggelar aksi demonstrasi Badan Eksekutif Mahasiswa juga perlu melakukan kajian ilmiah.

Sebagai kaum intelektual, mahasiswa diharuskan menulis karya tulis ilmiah seperti jurnal, skripsi, disertasi, maupun tesis, dan hal ini telah mengakar di Dunia akademisi, serta menjadi salahsatu syarat kelulusan bagi mahasiswa. Ubaidillah dalam Wibawanto mengatakan sebenarnya, bagi mahasiswa untuk bisa menulis, tidak perlu memiliki banyak modal. Sebab untuk menulis, seseorang hanya membutuhkan tiga hal, yaitu, ilmu pengetahuan, inspirasi, dan kemauan (Wibawanto, 2013).

Salahsatu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan ialah dengan membaca buku, kampus menyediakan buku-buku di perpustakaan sebagai lumbung ilmu pengetahuan. Setiap mahasiswa bebas mengaksesnya untuk keperluan akademik maupun non akademik. Untuk inspirasi sebenarnya dapat diperoleh dimana saja, pada apa saja, kapan saja dan pada siapa saja. Kemudian perihal kemauan menjadi persoalan penting, sebab tanpa kemauan mahasiswa untuk membaca buku maka mahasiswa tidak memiliki modal ilmu pengetahuan untuk menulis karya ilmiahnya.

Indonesia di kancah internasional dinobatkan oleh UNESCO sebagai negara dengan urutan kedua dari bawah soal literasi dunia. Menurut data UNESCO minat membaca Indonesia sungguh memprihatinkan sebab hanya 0,001% artinya dari seribu orang hanya satu yang rajin membaca. Kemudian riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State University bertajuk World's Most Literate Nation Ranked menunjukkan indonesia menduduki posisi ke 60 dari 61 negara soal minat baca. Ini tentu sebuah tamparan keras, bagaimana sebuah negara yang kaya akan sumber daya alam namun minat membacanya sangat ironis.

Degradasi literasi di kalangan mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor, salahsatunya ialah kemajuan teknologi. Dimana teknologi seperti tombak bermata dua, teknologi mempermudah aktivitas manusia dalam kehidupan namun dilain sisi teknologi juga membuat mahasiswa kehilangan daya pikir kritisnya. teknologi tak melulu menyediakan informasi, namun juga menawarkan fitur permainan dan mahasiswa kerap terjebak di fitur ini. 

Bermain hingga subuh hanya demi mengejar target angka, menyianyiakan waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membaca maupun mengakses beragam jurnal guna kepentingan kuliah.  

Hal lainnya yang perlu menjadi perhatian bersama ialah begitu mudahnya mahasiswa terpapar oleh hoaks yang beredar di sosial media, mahasiswa menerima informasi tanpa menyaring terlebih dahulu lalu membagikan informasi tersebut tanpa tahu kebenarannya. Seperti yang telah disinggung diatas, mahasiswa kehilangan daya pikir kritisnya. 

Mahasiswa yang dikenal sebagai kaum intelektual begitu mudah dipengaruhi oleh informasi-informasi hoaks, dan ini adalah salahsatu bukti degradasi literasi. Salahsatu cara melawan hoaks yang tidak dapat ditawar ialah dengan membiasakan diri dengan literasi, membaca buku bagi mahasiswa haruslah menjadi sebuah kebiasaan. Membaca bagi sebagian mahasiswa memang menjadi hal yang menbosankan, bahkan ada yang mengatakan obat mujarap untuk orang-orang insomnia adalah dengan membaca buku.

Selama ini membaca buku terutama di perpustakan merupakan kegiatan yang membosankan, seperti membaca dengan pendingin ruangan, meja dan kursi untuk membaca, buku-buku yang tersusun di rak, serta peminjaman secara mandiri tidak lagi menjadi daya tarik perpustakaan untuk menarik minat mahasiswa untuk membaca. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun