Aditya
Aditya Ketum FORMADIKSI UNRI

Sang Pembidik Mimpi, Membidik Prestasi Membangun Negeri.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Politik Dagang Sapi Sang Jenderal Kardus

10 Agustus 2018   14:13 Diperbarui: 10 Agustus 2018   14:14 994 4 4
Politik Dagang Sapi Sang Jenderal Kardus
Prabowo dan jajaran partai koalisi kubu oposisi | beritasatu.com

Akhirnya setelah ratusan purnama, tarik ulur, maju mundur, diumumkan juga nama bakal calon presiden yang akan mendampingi petahana dan Prabowo Subianto di pertarungan pilpres  2019. Jokowi menjatuhkan pilihannya pada K. H. Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya.

Tidak sedikit yang kecewa atas deklarasi di Kartanegara. Prabowo secara mengejutkan menggandeng Sandiaga Uno sebagai pendampingnya. Prabowo tidak memilih Agus Harimurti Yudhoyono yang diusung oleh Demokrat, Zulkifli Hasan yang diusung oleh PAN, juga tidak memilih Salim Segaf Al Jufri dan Ustad Abdul Somad yang direkomendasikan Ijtima Ulama. Ini tentu akan mempengaruhi elektabilitas kubu oposisi mengangkat isu keumatan dengan tagline #2019gantipresiden.

Wasekjen Demokrat, Andi Arief melalui cuitannya di twitter mengatakan Prabowo sebagai jenderal kardus, beliau juga mengendus adanya pemberian mahar oleh Sandiaga Uno sebesar 500 M untuk memuluskan langkahnya mendampingi Prabowo atau yang kerap disebut politik dagang sapi.

Jika kita lihat dari sudut pandang Sosiologi maka dapat kita tilik dari teori pertukaran sosial.

Rumus pertukara sosial

Sikap = Fungsi (Kepentingan)

Inilah politik, tak ada namanya kepentingan umum, yang ada kepentingan bersama. Mari kita lihat plus minus nama-nama yang sebelumnya digadang-gadang mendampingi Prabowo.

Agus Harimurti Yudhoyono

Pada pileg 2014 dulu, Demokrat mampu meraup 12,7 juta suara pemilih. Ini jelas menjadi modal utama AHY, namun dari sisi logistik kemungkinan AHY kurang memilikinya. Ditambah alotnya perundingan antara Gerindra dan Demokrat.

Segaf Al Jufri

Ada tiga faktor yang membuat Segaf cukup potensial, pertama dilihat dari latar belakang kedaerahan, kedua faktor usia, ketiga dari latar belakang agama. Asal daerah seseorang mampu memberikan suara, hal ini dapat kita lihat dari Jusuf Kalla. Namun kendala logistik kembali menjadi penghalang untuk mendampingi Prabowo.

Ustad Abdul Somad

Salah satu ulama kondang yang begitu disegani di Indonesia dan banyak umat muslim yang menginginkan UAS mendampingi Prabowo. Dengan latar belakang ulama yang telah dikenal umat Islam di Indonesia, tentunya hal ini menjadi modal yang cukup potensial UAS jika mendampingi Prabowo di Pilpres 2019 nanti. Namun kembali logistik berbicara.

Tidak dapat kita pungkiri politik dalam pemilihan umum maupun legistalif tidak hanya berbicara tentang suara, elektabilitas, relasi, nama besar, namun juga berbicara soal logistik. Kita contohkan: jika saat pilpres 2019 nanti ada 800 TPS dan 1 TPS menghabiskan Rp. 1 jt, bayangkan saja 800 TPS menghabiskan Rp. 800 jt. Nah siapa yang akan membayar?

Artinya Prabowo juga melihat hitung-hitungan yang rasional, tidak sekadar mengedepankan emosional.