Mohon tunggu...
Aditya Mulyawan
Aditya Mulyawan Mohon Tunggu... Jack of All Trades

Ingredients : 93% anxiety, the rest is eternal love and deep-dish pizza. Full-time (copy)writer, part-time jukebox selektor, and got no time for unrequited love.

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Ramen "Rahasia" yang Kini Tak Lagi Jadi Rahasia

17 September 2019   16:01 Diperbarui: 18 September 2019   04:30 0 9 2 Mohon Tunggu...
Ramen "Rahasia" yang Kini Tak Lagi Jadi Rahasia
Semangkuk ramen hangat, meneduhkan setiap jiwa manusia yang gundah (Dok. Laperbanget)

"Ke ramen rahasia, yuk?"

Kalimat ajakan yang terlintas sekitar lima tahun lalu itu masih terekam jelas dalam memori. Saat itu saya masih berstatus mahasiswa magang di salah satu perusahaan majalah fashion & lifestyle yang berbasis di ibukota.

Saya sendiri mendapat rekomendasi dari dosen di kampus yang kebetulan proyek webzine-nya saya (dan teman-teman mahasiswa lain) bantu, dan kebetulan pula dirinya merangkap sebagai editor di majalah tersebut, dan lagi-lagi kebetulan, kalimat ajakan tersebut muncul darinya pasca segala urusan "perkantoran" usai kala malam menjelang.

Sebagai penggemar berat bakmi dan ramen, tentunya ajakan tersebut sungguh menggoda iman. Namun sayangnya, kelemahan iman saya berbanding lurus dengan kelemahan dompet saya kala itu. 

Gaji dari program magang dan pekerjaan paruh waktu di salah satu brand lokal yang tidak seberapa itu perlu saya olah sebijaksana mungkin untuk dapat bertahan hidup sehari-hari.

Singkat waktu, beberapa bulan pasca program magang berakhir, saya berkesempatan untuk kembali ke ibu kota bersama seorang wanita yang saat itu masih berstatus "pacar" (tolong jangan ramaikan kolom komentar dengan pertanyaan bagaimana akhirnya). 

Seiring dengan kemampuan dompet yang sedikit meningkat, kami (meski tak ada lagi kami di antara kita) memutuskan untuk menjajal ramen "rahasia" tersebut.

Setelah mendapat petunjuk dari editor saya, kami meluncur ke kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Lokasinya tepat berada di sebrang salah satu sudut Hotel Gran Mahakam, ada di lantai empat katanya. Langsung saya parkirkan mobil sesuai arahan petugas untuk kemudian turun dan masuk ke bangunan yang dimaksud.

Sejujurnya, saya setengah gemetar saat memasuki bangunan ini karena tampak sepi dan  "mati". Belum lagi saat memasuki lift-nya yang terbilang tua dan menyeramkan. Geraknya begitu lambat, lengkap dengan suara derit khas lift tua, kian menambah suasana "horor". Saya mulai bertanya-tanya, apa betul ini ramen "rahasia" yang dimaksud editor saya?

Namun, semua pertanyaan yang membuat keringat dingin saya mengalir ini pun terjawab. Saat pintu lift terbuka, rasanya saya baru saja melakukan teleportasi menuju ke sebuah sudut di kota Tokyo. Tirai khas dan rak yang penuh dengan komik-komik Jepang menjadi hal pertama yang menyambut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x