Mohon tunggu...
Adi Triyanto
Adi Triyanto Mohon Tunggu... Buruh Sebuah Perusahaan swasta Di Tambun

Lahir Di Sleman Yogyakarta Bekerja dan tinggal Di Bekasi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Doa, Antara yang Rasional dan Tidak

1 April 2020   05:27 Diperbarui: 1 April 2020   05:20 11 1 1 Mohon Tunggu...

" Tuhan aku sudah melakukan semua usaha yang aku bisa. Aku sudah melakukan yang terbaik, yang aku mampu. Aku sudah belajar siang dan malam. Sekarang, semua aku pasrahkan padamu hasilnya. Aku minta padamu untuk ikut campur". Itu petikan doa seorang anak yang mau ujian. Ujian yang akan menetukan masa depannya.

Sekilas doa anak itu terlihat biasa. Seperti doa orang orang lain umunya. Tetapi kalau diperhatikan lebih mendelaam , akan terlihat bedanya. Dalam doa tersebut, ada sebuah kesempurnaan usaha . Ada porsi yang harus dikerjakan oleh manusia. Dan Ada porsi dimana tangan Tuhan harus berperan. 

Bukan doa yang meminta Tuhan untuk membuat keajaiban. Bukan Doa yang membujuk Tuhan membuat mukjizat . Doa yang tidak meminta , Tuhan melanggar hukum sebab - akibat, Hukum buatan Tuhan sendiri.

Di dunia ini berlaku hukum Alam. Hukum yang Tuhan siapkan untuk mengatur semua kemungkinan yang akan dimunculkan oleh kemampuan manusia menggunakan potensi akalnya. 

Dan keberhasilan manusia di dunia, tidak ditentukan oleh hak istimewa (previleg ) Tuhan, untuk mengabulkan setiap doa hamba-Nya. Meski yang berdoa itu hamba yang paling sholeh sekalipun. Karena di dunia ini , semua hal terjadi menurut hukum yang berlaku di alam..Hukum yang dibuat Tuhan sendiri. Jadi keshalehan kepada Tuhan, kesalehan individual, tidak akan berhasil mengubah sesuatu di dunia. Kesalehan baru akan mendapat tempat di alam yang serba abadi , alam setelah dunia yang serba fana ini berakhir .

Dan seorang anak sekolah yang mau ujian di atas , bisa dilihat lebih ke dalam lagi, Logikanya, satu mata pelajaran dengan materi ujian satu buah buku setebal 159 halaman , dengan 10 bab. 

Si anak tersebut harus, mengusai seluruh isi bab di buku tersebut . Dan doa yang harus dipanjatkanya pun , hanya minta diberikan kemudahan untuk mengerjakan. 

Diberi kemampuan untuk mengingat seluruh materi dalam buku Dan materi yang diujikan pun harus berada di antara 10 bab tersebut. Itulah doa yang rasional, yang Tuhan akan hadir untuk memberikan ruang yang seharusnya Tuhan memainkan tangan kekuasann-Nya. 

Bila si anak tersebut , hanya belajar 6 bab dari sepuluh bab yang harus dikuasai, kemudian berdoa, diberi kemampuan menjawab soal soal yang diujikan dari seluruh bab. maka itu merupakan doa yang tidak rasional. Dan tidak memberi ruang kepada Tuhan memainkan perannya lewat tangan kekuasannya. Dan memaksa Tuhan melanggar hukum alam-Nya sendiri. Hukum yang hadir untuk membuat semua keteraturan di dunia ini.

Dalam sejarah manusia, dimana Tuhan hadir untuk memainkan tangan kekuasaan-Nya, selalu didahului oleh sebuah usaha dunia yang maksimal. Bahkan keajaiban yang datang kepada manusia manusia yang dekat dengan Tuhan, yang bertugas sebegai utusan-Nya pun , masih membutuhkan agar disempurnakannya persyaratan hukum dunia. Tidak bisa langsung , memanggil kehadiran Tuhan tanpa usaha maksimal dunia dipenuhi . 

Tongkat Nabi Musa yang membelah Laut Merah pun, terjadi ketika, Musa dan pengikutnya sudah memberikan usaha maksimal yang bisa dilakukan. Keajaiban yang dialami Nabi Nuh pun sama. Nabi Nuh dan kaumnya selamat dari banjir super dahsyat , setelah menyempurnakan usahanya dengan membuat perahu sebaik mungkin yang tahan terhadap terjangan banjir besar yang datang. Hal yang sama terjadi juga untuk utusan Tuhan terakhir di bumi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN