Mohon tunggu...
aditian wijaya
aditian wijaya Mohon Tunggu... Mencari

pencari keteduhan

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Lockdown, Indonesia Bisa Apa?

29 Maret 2020   23:58 Diperbarui: 30 Maret 2020   00:22 40 1 0 Mohon Tunggu...

Terlepas darihiruk pikuk lockdown, sudah sebulan terakhir, satu pertanyaan ini terusmenggantung di kepala, bila lockdown berhasil dan laju penambahan jumlah yang sakit sudah lebihsedikit dari yang sehat, lalu apa selanjutnya? 

Apakah yang work from home bisakembali bekerja? Apakah para pekerja di sector informal bisa kembali beraktifitaslagi? Atau malah akan terus di lockdown? Bila bercermin dari kebijakan kotaWuhan, setelah laju pertumbuhan yang sakit sudah sangat sedikit pun, pemerintah disanamasih galau, kegiatan ekonomi belum normal dan tampaknya tidak akan pernahnormal lagi sampai ada vaksin atau obat standard untuk covid 19. 

Saat ini china dan negara barat lainnya berpacu dengan waktu untuk keluarkan vaksin atau obatstandard yang dirasa cukup aman, dan dengan semua  tahapan uji klinis yang dipercepat pun butuhsetidaknya 6 bulan untuk mulai produksi masal, dan jangan harap Indonesia beradapada bacth pertama pengiriman produk.

Bila menunggu 6 bulan adalah hal yang harus terjadi, maka bukan kah kita sebagai manusia abad21 pantasnya malu, lumpuh tanpa solusi yang pasti selama berbulan bulan. Binatangyang katanya berbeda karena punya kebijaksanaan dan intelegensi tinggi, yang padaakhirnya dipaksa mengurung diri layaknya binatang primata lainnya.

Mengurung diridi era globalisasi adalah bunuh diri ekonomi yang akhirnya akan membunuh homosapiens sang makhluk bijak yang menciptakan sekaligus bergantung pada peranmodal atau kapital. 

Roda ekonomi yang saat ini berjalan terlalu cepat, ditopangdengan laju pertumbuhan kapital yang sudah tidak lagi rasional, akan hancurberantakan bila roda ekonomi ini tiba-tiba harus melambat secara signifikanwalau hanya beberapa bulan. 

Para kapitalis tidak akan mau berkorban, karena tidaksesuai paham mereka, katanya. Atau pun kalau harus berkorban, maka hanyamenyumbang secukupnya saja, toh jumlah itu sudah di pandang wah oleh kebanyakanorang, padahal sumbangannya tidak sampai 10% kekayaan mereka. Dan oleh karenaitu, maka bersiaplah negara-negara yang tidak punya cadangan uang dan bahanpokok yang cukup, bersiaplah untuk berhutang, karena lapar tidaknya perut tidakditentukan dari berputar atau tidaknya roda ekonomi

Tapi cerita diatas adalah anganku yang paling kelam. Saat-saat seperti ini adalah saat dimanakita perlu bersabar teman, kau yang membaca tulisan ini adalah mayoritas golonganmenengah yang bahkan kalau lockdown berjalan berbulan bulan pun, kau masihsanggup untuk bayar bahan makanan. Karena kalian masih bisa kuras uang tabungandi ATM kalian, tapi bagaimana dengan teman-teman kita yang lain? Yang kalau marekakuras pun tabungan mereka, itu hanya untuk bertahan selama 48 jam kedepan!

Percayalah cepatatau lambat lock down akan tiba, saat persediaan logistic merata, militer siapsiaga di setiap sudut area, dan aturan legal pun siap sedia. Yang membuat pusingapabila setiap dari kita berusaha berandai-andai menjadi pembuat keputusan. 

Percayalah tak ada yang mau jadi pemimpin di saat saat seperti ini, karena pada akhirnyapemimpin harus membuat keputusan berdasarkan data, dan hanya karena mereka membuatkeputusan berdasarkan data seringkali mereka di cap sebagai orang plin plan,tak berani, atau paling ekstrem sudah tak punya rasa kemanusiaan.

Tapi itulah pemimpin, mereka harus selalu berhitung. Mereka harus menghitung kemungkinankematian bukan hanya akibat corona, tapi juga kematian akibat penyakit lain yang sangat dimungkinkan akan meningkat karena mayoritas sumber daya kesehatan tersedot ke arah sana, dan belum lagi laporan kemungkinan angka kematian akibat kelaparandan penjarahan yang mungkin akan terjadi bila perencanaan dan eksekusi lockdownyang tidak matang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x