Mohon tunggu...
Aditya Rahman
Aditya Rahman Mohon Tunggu... Komunitas Ranggon Sastra

Perjalanan adalah upacara menyambut perpisahan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Rumah

29 Januari 2020   12:47 Diperbarui: 29 Januari 2020   13:00 34 0 0 Mohon Tunggu...

Rumah kecil ini terbentuk, kemudian terbentur, dan terus terbentuk, sehingga menjadi bentuk yang terbentur, sekarang. Rumah kecil ini berumur hampir lima tahun. Namun, kejelasan dari dibuatnya rumah ini, baru saja terpapar. Hampir-hampir rumah ini hancur. 

Agaknya, rumah ini tidak lagi menjadi tempat berteduh yang baik, atau memang tidak baik, entah. Penghuni rumah ini pun satu-persatu pergi, sehingga membuat kerapuhan pada beberapa sudut bangunannya. Padahal, mereka sendiri yang bersatu membuatnya. Awalnya, rumah ini dibangun berlandaskan pertemanan. 

Sampai akhirnya, rumah ini pun nyaris hancur karena pertemanan pula. Yang jelas, rumah ini tetap kokoh hingga sekarang, meski terus dibentur angin dan perawatannya pun tidak terlalu serius, karena kesibukan beberapa orang yang merawatnya mulai membeludak. Bersyukur masih ada orang yang bersedia merawatnya. 

Empat tahun lalu, bulan Mei, hari ke sebelas. Rumah ini dirancang dan berhasil berdiri, kemudian. Nama rumah ini pun dipahat besar dalam ingatan. Rumah ini, beratap langit, bertembok gunung lengkap dengan empat puncak, berdiri di atas tanah, berlantai air, bersenjata kujang, serta berselimut dua lingkaran. Satu lingkaran besar dan satu lingkaran kecil yang di tengahnya bertuliskan nama besar rumah ini. 

Tiga orang tersisa dari berpuluh orang yang merawat rumah ini. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan masing-masing. Mereka, orang-orang sisa tersebut, terus menanam benih-benih baru di halaman. Dan benih itu lah yang nantinya akan menopang tiap jengkal dinding rumah ini. Beberapa tahun berjalan, benih-benih itu tumbuh.

Menimbulkan wajah-wajah barunya ke permukaan tanah. Harapan-harapan baru pun mulai bermekaran. Menyejukan rumah dan orang sisa yang sedang duduk di halamannya. Tiga orang sisa tersebut pun tersenyum memandang cakrawala, membuat cemburu burung-burung camar di mega-mega. 

"Rumah ini, harus terus terjaga." Ucap  orang sisa pertama. 

"Semoga tiap orang yang singgah dapat sungguh menetap, ya. " Orang kedua pun melempar kalimatnya. 

Orang ketiga hanya tertawa, merekam pernyataan kedua temannya itu. Mengelus dada dan sedikit anggukan kepala.

Keesokan harinya matahari menetapkan sinarnya. Anehnya, burung-burung tak ada yang bernyanyi di ranting pohon. Tikus-tikus keluar sarang. Kucing-kucing bersembunyi pada gua kelewawar dekat jurang. Detik itu juga, pawana memporak- porandakan seantero jagat raya. Hujan turun, ketika matahari tepat berada di atas kepala. 

Rasanya semerti kiamat. Guntur berteriak tak putus. Pohon jati, cendana, karet tumbang di hutan. Seketika, lingkungan rumah itu pun porak poranda.  Ajaibnya, hanya satu tumbuhan di halaman rumah yang tumbang, sedangkan lainnya bertahan. Tiga orang sisa keluar, menengok tumbuhan lain yang bertahan. Tumbuhan itu beraneka rupa setelah terhantam hujan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x