Muda

Ikhlas?

7 Mei 2018   22:31 Diperbarui: 7 Mei 2018   22:52 273 1 0

Saya pribadi, jujur sampai sekarang tidak pernah bisa memahami definisi kata "ikhlas". Karena bagi saya, "ikhlas" bukan semata mata sebuah ucapan ataupun tindakan nyata. Dan untuk saat ini, "ikhlas" hanya bisa saya jabarkan, "bagaimana hati terasa", terasa senang, terasa sakit, dan terasa berbicara. Dan bagi saya "bagaimana hati terasa" itu, hanya diri sendiri dan Tuhan yang mengetahui.  Bagi saya, disatu sisi orang orang tidak mudah percaya bahwa saya "ikhlas" hanya dengan pembuktian ucapan ataupun tindakan, tapi disatu sisi orang orang akan menilai bahwa saya "ikhlas" dengan cara ucapan dan tindakan saya. Bimbang? Tentu.

Kenapa saya mengangkat kata "ikhlas" pada tulisan ini? Karena saya masih pada posisi kebimbangan, kebingungan dan tanya tanda besar dan tak akan pernah tahu kapan saya menemukan jawaban dan berakhir. Ya, usia muda menuju kematangan saat ini adalah awal dari ketidak ikhlasan yang saya alami. 

Dan saya tidak menyangkal bahwa ketidak ikhlasan saya ini terkait dengan "GAGAL" nya keinginan saya untuk menjalani kehidupan yang serius bersama seseorang Wanita yang benar benar saya inginkan, idamkan, dan perjuangkan. Gagal "MOVE ON"? Tidak. Karena saya tidak pernah menjalani hubungan dengan "status" sebelumnya. Apakah di "TOLAK"? Saya jawab dengan tegas "IYA".

Semua berawal dari kisah kehidupan bertetangga. "Masa kecil", berteman akrab dengan segala kisah permainan dan pengenalan latar belakang sifat masing masing. Kisah permainan ala "Super Hero America", game tradisional, obrolan ringan khas anak anak, dan ala ala "cinta monyet" pun pernah saya alami bersama dia (dia : wanita idaman saya). Hari demi hari, dan tahun pun berganti, sampai pada akhirnya masa "Pubertas" itu datang, yang bisa dikatakan menjadi awal renggangnya pertemanan saya dan dia. 

Bukan karena sesuatu hal, tetapi karena masa "Pubertas" ini, setiap anak baik saya maupun dia pasti mempunyai dunia lain diluar sana. Sekolah baru, teman baru, kesibukan baru, menjadi kisah yang sama dengan anak anak pada umumnya. Dan secara tidak langsung masa itu sedikit demi sedikit seperti memutus komunikasi pertemanan saya dan dia. Ada semacam "gengsi" dan "jaim" bahkan "malu malu" pada kita masing masing apabila saling bertemu pada masa itu. Dan hari berganti tahun secara terus menerus dan akhirnya saya dan dia benar benar hilang kontak (padahal rumah kita tak jauh, masih satu RW).

Ramainya jejaring Media Sosial macam Facebook, bisa dibilang awal dari terjalinnya kembali komunikasi saya dan dia. Ada Status, posting Foto, dan akhirnya saling berkomentar dikolom yang tersedia menjadi wadah baru bagi saya dan dia menjalin kembali komunikasi berteman. Dan akhirnya kita bertukar Pin BBM, dan saya dan dia semakin intens berkomunikasi. 

Mulai dari obrolan ringan sampai pada saling curhat kehidupan pribadi. Dan saking seringnya, saya seperti terbawa perasaan, selalu ingin tahu tentang dia. Dan saya pun selalu menanti "chat" dari dia. Tapi saya juga menyadari posisi dia saat itu yang semasa kuliah sedang menjalani hubungan dengan seorang laki laki. Dan saya merasa senang hati mendengar kisah cintanya dengan segala problemnya (ya meskipun tidak semuanya dia ceritakan).

Dan awal dari saya merasa naksir, tertarik, dan mengidamkan dia, berawal dari curhatnya dia ingin "berhijrah". Saya merasa salut, kagum, dengan niatan berhijrahnya dia tersebut. Banyak "chat" setiap hari dengan diskusi niatan hijrahnya, dan saya semakin terbawa perasaan dan saya berpikir bahwa ini wanita yang ideal dan layak diperjuangkan (karena diwaktu itu juga saya sedang posisi down karena putusnya hubungan saya dengan pacar saya karena adanya pihak ketiga). Hari demi hari, dia dengan proses berhijrahnya dan saya dengan proses saya memperbaiki diri.

Dan masa Wisuda dia tiba saatnya, dan selesai kuliahnya. Saya "chat" dia, kasih ucapan selamat dan akhirnya berlanjut pada obrolan lain. Dia bercerita bahwa dia telah putus dengan pacarnya. Dia merasa belum siap dengan niat baik pacarnya yang diutarakannya pada waktu wisuda, bahwa sang pacar dia berniat melamarnya seusai wisuda. 

Dan setelah obrolan itu, saya berpikir, mungkin ini bisa jadi awal kesempatan saya untuk memulai pendekatan (karena saya berkeyakinan tidak ada yang mustahil). Saya coba perlahan lahan, hari demi hari dengan "chat"seperti biasanya. Dan pada suatu hari, setelah sekian lamanya (dan ini menjadi pertemuan pertama setelah sekian lama, dan terakhir kalinya), saya berhasil bertemu dengan dia. Empat mata, tatap muka berdua kembali dengan dia pada momen Buka Puasa. 

Kita berbuka dan dengan membicarakan banyak hal. Dan selanjutnya sampai suatu hari setelah beberapa bulan, lewat "chat", pertama kalinya saya beranikan berbicara bahwa saya "tertarik"sama dia. Dan apa yang dia jawab? Dia hanya menjawab dengan "tertawa". Kenapa dia tertawa? Karena dia berpikir saya bercanda. Karena pernyataan saya "tertarik" sama dia, berawal dari obrolan iseng, dia menanyakan siapa yang sedang saya taksir saat itu, (karena dia menangkap dari status yang saya tulis di Facebook) dan saya jawab "Aku tertarik sama kamu". 

Dan dia menanyakan alasan kenapa bisa tertarik, dan saya hanya menjawab, "saya tertarik dengan kamu karena proses berhijrahmu, saya merasa salut dan kagum dengan niatanmu". Dia menjawab dengan bahasa yang bijak, dia menilai bahwa saya mungkin berlebihan, dan dia juga berbicara bahwa dia tak sebaik yang dilihat.

Dan dia berbicara juga, bahwa dia belum ingin menjalani hubungan serius kembali, masih ingin fokus dengan karir dan kedua orang tuanya. Dan pembicaraan saya dan dia selesai waktu itu. Dan dia berpesan tidak ingin membicarakan hal itu lagi.

Tapi semua usaha saya memperjuangkan dia kembali tidak berhenti begitu saja. Saya coba menetralisir suasana dengan dia dengan obrolan dan diskusi ringan kembali dan sebisa mungkin tidak membicarakan "hal serius" itu lagi (tetap lewat media chat, karena untuk bertemu sangat sulit). Hari demi hari, saya dan dia menjalani kehidupan masing masing. 

Dia akhirnya berprofesi sebagai pengajar, dan saya dengan rutinitas biasa. Sampai suatu ketika, saya bertemu dengan seseorang yang membawa saya dalam tempat yang tenang, orang orang yang taat dan berilmu disekeliling saya, saya merasa membutuhkan pemahaman untuk memperbaiki diri. Dan saya berpikir, mungkin dia (wanita idaman saya) menginginkan sosok pendamping yang baik yang bisa menuntunnya. 

Maka tak ada salahnya saya mencoba memperdalam keimanan dan pemahaman saya. Ditempat yang baru itu, Abah (guru saya) dan orang orang yang ada didalamnya, sangat "welcome" pada siapa saja yang bergabung. Hari demi hari saya berusaha memperbaiki pemahaman saya. 

Dan atas saran Abah (karena saya juga menceritakan niatan serius saya terhadap wanita idaman saya), saya coba berusaha dengan memperbanyak ikhtiar dan amalan amalan. Kebiasaan "chat"dengan dia tidak sesering dulu, ya mungkin karena kesibukan masing masing, tapi itu sama sekali tidak mengubah niat baik saya terhadap dia.

Setelah kurang lebih 2,5 tahun saya berusaha berikhtiar, lewat "chat" kembali, saya kembali beranikan untuk berbicara tentang niat baik saya untuk melamarnya dan menikahinya. Tapi untuk kedua kalinya dia menjawab dengan jawaban yang sama. Belum ingin menjalani hubungan serius, dia ingin fokus karir dan menambahkan bahwa dia ingin menunjukkan bakti pada orang tua. Ya penolakan untuk kedua kalinya. Dan untuk usaha saya kali ini, saya benar benar kecewa dengan hasil yang saya dapat. 

Ditambah dengan tanda tanya besar apa maksud dari kata "menunjukkan bakti pada orang tua". Dan setelah beberapa bulan, saya menemukan jawaban dari kata "menunjukkan bakti pada orang tua" (dari Bu Dhe saya dan diperkuat dari omongan tetangga sekitar), ya dia telah memilih untuk berbakti, memilih calon pasangan yang "kata tetangga" adalah hasil pilihan orang tua alias dijodohkan. 

Dia (wanita idaman saya) akhirnya dilamar sebelum Puasa Ramadhan 2017 tahun lalu, dan akhirnya pada September 2017, dia sah menyandang status istri orang. Dan setelah menikah dia menetap di luar kota mengikuti suaminya. Dan semua akses komunikasi saya terhadap dia selesai sudah. Dia tutup akses komunikasi, dan mungkin ini cara dia agar saya tidak mengharapkan segala apapun dari dia.

Ya, dengan segala yang telah terjadi, jujur saya masih belum bisa ikhlas. Masih sangat belum ikhlas. Banyak  menenangkan saya dengan kata kata bijak, dan selalu bilang "ikhlaskan ikhlaskan" dan banyak orang men"judge"saya, oke silahkan karena anda tidak mengalami, karena berbicara itu mudah, dan semua orang bisa berbicara. 

Ya, Maafkan hambamu ini yang masih belum bisa menerima apa yang telah engkau kehendaki. Dan saya juga sadar sesadarnya, saya yakin bahwa engkau mempunyai rencana yang baik bagi hambamu ini kelak dikemudian hari.