Mohon tunggu...
Adis Setiawan
Adis Setiawan Mohon Tunggu... Mahasiswa STIT Nusantara Bekasi

Yang sering memberi teori akan kalah dengan yang sering kasih aksi.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jangan Khawatir Tidak Diterima di Sekolah Favorit

20 Juni 2019   15:01 Diperbarui: 21 Agustus 2019   18:16 0 0 0 Mohon Tunggu...
Jangan Khawatir Tidak Diterima di Sekolah Favorit
Foto dokumentasi pribadi penulis 

Dengan berkembangnya dunia pendidikan ada beberapa macam pembaharuan didunia pendidikan, Salah satunya sistem pendaftaran berbasis zona dimana sekolahan Negeri menerima siswa dari sekitar domisili, Dengan sistem baru tersebut akan menimbulkan problematika dari sekolah yang berlabel favorit dan unggulan, Karena biasanya bisa menyaring anak yang punya kemampuan diluar daerah jadi tidak bisa lagi karena adanya sistem zonasi. Dan juga dapat pertentangan dari wali murid yang tidak terima, Ingin anaknya masuk sekolah yang berlabel favorit unggulan diluar daerah tempat tinggalnya.

Saya termasuk orang yang tidak peduli dengan label sekolah favorit. Nyatanya sekarang senang-senang saja sebagai Alumni dari sekolah swasta milik ormas islam Muhammadiyah. Tidak rugi dan tak menyesal sudah menjadi Alumni sekolah swasta, Saya percaya diri dengan keilmuan saya dan bangga pada diri saya. Yang terpenting saya bisa berubah dan punya kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik.

Banyak wali murid menganggap bahwa anaknya tidak diterima sekolahan Negeri maka akan menjadi sia-sia, Karena tidak favorit malu dengan tetangganya, Memang tidak ada sekolah swasta yang bisa mendidik, Memang tidak ada sekolah swasta berkualitas, Soal bertambahnya ilmu memang hanya di pengaruhi faktor dari sekolahan saja, Bisa jadi dari individunya masing-masing para peserta didik punya kemampuan untuk menjadi lebih baik apa tidak itu yang jadi masalah utama.

Cerita dari saya ini adalah menandakan bahwa saya punya prinsip dasar bodo amat dengan sekolahan berlabel Negeri atau Favorit itu, Saya bangga dan percaya diri dengan kemampuan saya walapun hasil dari pendidikan Swasta tak akan pernah saya merasa kalah saing.

Dari kecil saya memang bersekolah di sekolahan swasta milik persyarikatan Muhammadiyah, Tidak tahu kenapa orang tua saya tidak pernah memasukan saya di sekolahan yang punya label negeri milik negara. Saya mau menanyakan nanti takut dikira tidak sopan tidak tau diri, Sudah disekolahkan tapi sekarang sudah besar sok pengen ngajari orang tua. Dalam benak saya bisa durhaka sama orang tua.

Apa karena faktor ekonomi keluarga sehingga saya harus terus sekolah di swasta, Karena pada waktu zaman saya sekolah TK, SD dan SMP sepertinya belum ada wacana sekolah negeri itu gratis seperti sekarang ini, Jadi anggapan orang tua saya nanti mahal sekolah di Negeri, Tapi sekarang sekolah Negeri itu gratis dan menurut saya justru sekolah di swasta itu bayar mahal, Walapun pada waktu itu saya jarang bayar hahaha di kasih keringanan / beasiswa oleh pihak sekolahan, Alhamdulillah. Tapi walapun bayar sekolah diswasta masih kategori murah sebetulnya.

Akhirnya saya mulai sadar sekolah di swasta atau negeri tergantung kemampuan siswanya saja, Pemikiran saya berubah setelah kuliah. Melihat bagaimana cara metode pendidikan dibangku kuliah, Misalnya kita tidak diberi pelajaran tapi tiba-tiba kita suruh membuat tugas dan cuma dikasih referensi saja habis itu presentasi, mau telat, mau tak hadir ya tak masalah, Jadi seperti kita yang rugi dengan bertambahnya kemampuan pada diri kita.

Dari metode seperti itu saya menafsirkan, Seandainya dahulu waktu saya sekolah terus saya belajar sendiri, Sampai mencari buku referensi sesuai kurikulum sekolahan, Dan saya membacanya dan memahaminya mungkin akan bertambah ilmunya jadi saya akan kelihatan pintar dikelas, Tapi sayangnya saya tidak melakukan itu karena kemampuan saya belum sampai disitu. Justru saya hanya mengandalkan pelajaran dari sekolah saja dan berpikir mungkin materi ini saja sudah cukup yang harus di pelajari, Sesuai penjelasan guru saja, Pada akhirnya ilmu saya segitu-gitu aja tidak kelihatan pandai.

Jadi kalau menurut saya walapun sekolah diswasta minimal saya mendapatkan pendidikan karakter menjadi pribadi yang lebih baik, Seperti misalnya waktu masih sekolah di MI Al Islam Kauman Sukorejo tiap pagi sebelum mulai pelajaran kita taddarus Qur'an juz amma dulu, Maka saya mulai terbiasa kalau pagi harus membaca Al Qur'an. Walapun sekarang setelah dewasa waktunya tidak harus pagi, Bisa tentatif kapan saja dan berusaha perhari harus membaca Qur'an karena sudah saya instal juga aplikasi Al Quran Di HP.

Waktu sekolah Di SMP Muhammadiyah 4 Sukorejo dari situ saya bisa mendapatakan pendidikan mental. Pada waktu itu setelah sholat dzuhur berjama'ah dimasjid komplek SMP Muhammadiyah ada kegiatan Kultum dan peserta yang mengisi kultum dari siswa bahkan sudah di jadwal , Maka selain saya harus berani maju kemimbar melatih mental, Setidaknya saya juga harus punya ilmu untuk ceramah, Mau tidak mau saya harus banyak membaca dan mengaji agar mendapatkan ilmu baru dan nantinya saya sampaikan dimimbar.

Kenapa saya harus banyak belajar ceramah karena terkadang siswa yang lain ketika mental dan ilmunya belum siap dan tidak punya materi mereka tidak berani maju kemimbar untuk kultum, Akhirnya mereka menemui saya dan meminta bantuan kepada saya untuk kultum ada tawaran seperti itu saya harus siap, Makanya saya harus menyesuaikan diri kalau begitu saya harus mampu memback up keadaan seperti itu, Secara otomatis saya harus banyak belajar dan membaca.

Tapi dilain sisi saya juga iri kepada teman teman yang bersekolah di negeri, Mereka seperti banyak teman karena sekolahan favorit, Biasanya muridnya dari berbagai penjuru desa, Kalau sekolahan swasta ditempat saya lumayan ada muridnya tapi tidak semua daerah sekitar ada yang bersekolah di SMP tempat saya bersekolah, Jadi seperti terbatas temannya dan tidak semua daerah ada yang bersekolah di SMP Muhammadiyah 04 Sukorejo.

Dulu juga saya berpikir kalau sekolah dinegeri itu bisa gaul, bisa sok-sokan karena kisaran umur masih SMP atau SMA itu masa-masa mencari jati diri, Jadi berpandangan kalau bersekolah diswasta tidak bisa gaul, Misalnya soal fashion pada zaman saya SMP celana street yang pensil itu kaya legingnya cewek mletet gitu lagi populer, Kalau ingat saya memakai celana itu agak geli, Karena saya sekolahnya dilembaga islam seperti itu tak boleh, Jadi hal berbusana juga di atur.

Tapi pola pikir saya sekarang berubah mau didikan sekolah negeri atau seperti saya didikan sekolah swasta masa bodo, Karena terinspirasi dengan cara pendidikan dibangku kuliah, Jadi kitalah yang bergerak mencari ilmu bukan kita di gerakan sekolahan untuk belajar, Agar kemampuan kita terus bertambah bukan karena faktor sekolah dimana, Tapi disekolah sudah berkembang menjadi apa.

Adis Setiawan, Manajemen Pendidikan Islam STIT Nusantara Bekasi 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x