Mohon tunggu...
Adis Setiawan
Adis Setiawan Mohon Tunggu... https://www.kompasiana.com/adissetiawan21

Penulis Lepas Dan Mahasiswa Yang Selalu Gelisah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Nisan Salib Menjadi Saksi Toleransi Saya

19 April 2019   18:20 Diperbarui: 24 April 2019   13:09 0 3 0 Mohon Tunggu...
Nisan Salib Menjadi Saksi Toleransi Saya
Foto Dokpri Adis Setiawan

Dulu waktu Saya kecil bermain bola (bal-balan) di lapangan tanah kuburan Ngebong Tlangu (kuburan Non Muslim-Soalnya ada salipnya-), Tidak sengaja bolanya di tendang ke arah kiper dan kena nisan (Pathok-an Kuburan) yang berbentuk salip yang pada waktu itu nisan-nya dibuat dari kayu kena bola untung tidak copot dari tanah kuburan betapa kenakalan saya waktu itu lewat tulisan ini saya meminta maaf kepada keluarganya seandainya membaca tulisan ini tapi ya.

Pada waktu itu kita langsung cek tidak terjadi apa dan seperti juga tidak ada kejadian apa apa karena masyarakat begitu toleransi dan sederhana ya sudah yang penting dibetulkan kalau misal ada yang rusak dan kita bertanggung jawab dan mohon ampunan karena ketidak sengajaan itu.

Kalau jaman sekarang mungkin bisa digoreng menjadi isu SARA diviralkan di media online media sosial elit politik pasti ikut komentar mengambil keuntungan agar popularitas dan elektabilitas naik, Akhirnya langsung menebar permusuhan antar agama. ini hanya "seadainya ya". Apabila kampung saya yang begitu sederhana dan toleransi itu misalkan kalau dikasih isu seperti itu bisa saling bersitegang antar tetangga, Antar teman apa lagi dengan keluarga yang di makamkan dikuburan ngebong itu jadinya musuhan dan marahan pada akhirnya kita kehilangan lapangan karena bersitegang dengan yang punya tanah lapangan iya kan, Mikir keras mau bermain bola dimana ini.

Percoyo kono, ura yo kono , dulu kampung saya begitu sederhana dan toleransi, punya sopan santun nya tingkat tinggi,

Sebenarnya lapangan itu bagian dari kuburan mungkin seandainya kalau keluarga yang di kubur disana (kuburan ngebong) tidak terima sudah dari dulu dilarang bermain bola ditanah bagian dari kuburan itu "yang kita sebut lapangan" padahal tanahnya pun berbentuk sangsekedang tinggi terus agak rendah dan lebih rendah tapi kami masih saja bermain bola dilapangan itu gawangnya saja miring bukan lurus layaknya lapangan beneran gitu, Gawang di pasang di sudut lapangan jadi ketika melakukan serangan ke arah kiper seranganya bukan lurus tapi menyilang soalnya kipernya berada di posisi sudut lapangan haha.

Di situ (ngebong) dulu sudah kita anggap sebagai tempat "Sport Center Ngebong" ee..aa yang ramai, Tanah yang di atas kuburan di bikin lapangan bola voli dan tanah yang sejajar dengan kuburan di bikin lapangan bola , Samping kanan kiri buat bermain layang layang ada kebun binatangnya juga beberapa warga ada yang (agon) mengembala sapi dan kambing di situ terkadang pulang pulang dari olahraga kita kena ranjau (telpong dan mendil ) kotoran sapi dan kambing haha.

Kuburan ini memang center dari semua kegiatan masyarakat tlangu ngebong bisa juga buat ( jaduman ) anak anak kecil bermain "duduk duduk ganteng" di daerah kuburan dan kuburan sudah di bangun menjadi Bok , Bok adalah semacam bangunan di samping kuburan layaknya pondasi lah seperti semacam monumen begitu, pernah lihat kan di kuburan Non Muslim, Sambil di situ kita melihat ada mainan bola sepak dan bola voli rame para suporter pada duduk duduk cantik di tanah itu.

Karena sesama umat beragama saling toleransi walapun yang bermain dikuburan itu kebanyakan muslim dan yang punya kuburan non muslim tidak pernah namanya dulu marah marahan atau bersitegang soal penggunaan tanah kuburan di jadikan lapangan Sport Center, Sudah biasa justru kuburan menjadi ramai dan tidak kelihatan angker hehe sangat toleransinya kan kami pada waktu itu.

Waktu saya kecil sudah mengamalkan toleransi otentik kita sering ikut pemakaman orang non muslim maksutnya melihat pemakaman yang di kubur seperti itu sudah biasa dan bukan sebagaian dari pencitraan me-naikkan popularitas , Memang warga yang di kubur punya toleransi dengan cara mengizinkan kita bermain bola ditanah kuburannya jadi kita ikut juga bertoleransi kepada mereka datang ke pemakaman keluarga mereka pada saat bermain bolah berhenti sejenak dan melihat , sambil melihat ada yang membaca kitab suci untuk berdoa, Jadi sekali lagi tolong jangan ajarin saya soal toleransi lagi ya ee..aa.

Di tempat saya pernah ada non muslim sudah biasa menyebut kata kata Ya Allah, Astagfirullah misalnya ada kejadian apa begitu mungkin karena saling rukunya tetangga muslim dan bukan saling bersaudara dan berbincang bincang bahasa temannya jadi ikut terucap , Keluarga Non Muslim di tempat saya saja pernah ada yang mempraktekkan Tahlilkan dan Yassinkan juga pernah saya lihat saling rukunya itu.

Kembali ke kuburan

Soal nisan yang dari kayu itu hanya untuk sementara ( kuburan baru ) nanti lama lama kuburanya akan dibangun oleh keluarganya , Kalau di tradisi muslim mungkin kuburan umur berapa tahun dulu baru boleh di bangun ada hitunganya bagi yang setuju dengan pendapat boleh dibangun (kijing) kuburanya ada juga yang tidak setuju dan dilarang dibangun sebenarnya ada alasanya takutnya tanahnya menjadi sempit padahal yang mau mati sudah ngantri iya kan itu kalau dikuburan muslim.

Misalnya sudah dibangun itu kuburan di kasih pagar ada yang di bangun pakai batu bata cor jadi kuat seadainya masih ada main bola di sana (ngebong) tidak apa apa kena bola sudah kokoh dan sebetulnya tidak segaja pula semoga kesalahan saya dulu waktu kecil di maafkan

Kepada keluarga yang dikubur disana saya meminta maaf seandainya membaca tulisan ini karena ini adalah kegelisahan saya akan pikiran atas kelakuan nakal saya waktu kecil, Tapi memang sekarang saya ini juga tumbuh menjadi laki laki yang selalu gelisah ee..aa

Oleh Adis Setiawan
Mahasiswa Prodi MPI STIT Nusantara Bekasi

KONTEN MENARIK LAINNYA
x