R Adin Fadzkurrahman
R Adin Fadzkurrahman Mahasiswa

Tidak usah menjadi siapapun kita mengagumkan seperti ini

Selanjutnya

Tutup

Politik

Politik Cuci Tangan Amerika Serikat

7 Desember 2017   12:06 Diperbarui: 7 Desember 2017   12:37 1764 0 0
Politik Cuci Tangan Amerika Serikat
International.Kompas.com

Kondisi perpolitikan internasional kini mulai cukup memanas, khususnya antara negara-negara timur tengah dan juga negara-negara lainnya, menyikapi pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerussalem yang hanya memperkeruh penyelesaian konflik antara Palestina dengan Israel.

Pemindahan kedubes As dari Tel Aviv nyatanya adalah sebuah wacana yang telah berlangsung sejak 22 tahun silam, yang dihasilkan dari kongres pada tahun 1995. Dan untuk tetap menempatkan kedutaan tetap berada di Tel Aviv nyatanya sejak dahulu penundaan pemindahan ini terus dilakukan sampai sekarang dengan adanya penandatanganan dokumen penundaan selama enam bulan sekali dan baru yang terakhir dilakukan oleh Trump pada bulan juni lalu yang kemudian akan ditinjau kembali pada desember ini.

Dapat dilihat bahwa sejak isi kongres 1995 menjadi Hukum yang mengatur pemindahan kedutaan besar  AS dari Tel Aviv ke Yerussalem, dengan kata lain wacana-wacana pemindahan ini terus berlangsung dan digaungkan oleh para pemimpin AS setelah 1995, akan tetapi belum ada yang merasa berani untuk memindahkannya, terlihat dengan adanya penandatanganan dokumen penundaan yang dilakukan selama enam bulan sekali oleh pemerintah AS. Dikutip oleh salah satu situs berita middleeasteye.net, menyebutkan "Adalah hukum AS untuk memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem," kata Avni kepada MEE. "Sejumlah besar presiden Amerika, setelah berjanji dalam kampanye pemilihan mereka untuk melakukan ini, menunda terus menundanya selama enam  bulan dan seterusnya." Langkah yang di galangkan Trump mengindikasikan ada suatu tujuan tersembunyi dibalik itu semua, sebab ketika banyak negara dari PBB yang diantaranya adalah Arab, Turki dan Eropa menyarankan agar AS tidak memindahkan kedutaannya ke Yerussalem, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan bahwa apa alasan Amerika masih nekat merencanakan pemindahan kedubesnya ke Yerussalem.

Yerusalem, atau setidaknya bagian barat kota tersebut, telah lama menjadi rumah bagi institusi pemerintahan Israel dan sudah lama Washington dan lainnya menganggapnya sebagai ibu kota yang berfungsi dengan menugaskan perwakilan di sana, kata Avni.

Pemindahan Kedubes oleh AS ke yerusalem nyatanya juga mendapatkan berbagai tentangan dengan berbagai alasan yang mendasari pernnyataan tersebut diantaranya adalah:

1. Indonesia

Ketidak setujuan ini disampaikan oleh wakil presiden RI Jusuf Kalla, yang dikutip oleh kontan.co.id.  Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, selama ini Yerusalem merupakan bagian dari pengawasan internasional.

"Jadi, kita tak ingin AS seperti ini," katanya di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (6/12).  Indonesia mendukung Palestina yang tak setuju Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Israel di Tel Aviv dipindahkan ke wilayah atau bagian dari negaranya.  "Jelas posisi Pemerintah Indonesia sependapat mendukung Palestina agar Amerika Serikat tak memindahkan kedutaannya ke Yerusalem," kata Kalla.

Menurut Kalla, kondisi politik di Timur Tengah akan semakin rumit jika Amerika Serikat benar-benar memindahkan kedutaan besar mereka untuk Israel di Tel Aviv ke Yerusalem, Palestina.  "Risikonya lebih ruwet politik di Timur Tengah. Sebab, sumber daripada banyak keruwetan itu, ya, konflik Palestina-Israel, akan lebih memperburuk," kata Kalla. Bahkan, usaha Amerika Serikat menengahi konflik berkepanjangan antara kedua negara, yakni Palestina-Israel, akan semakin sulit terwujud.

Kebijakan yang mengalami perubahan dari kebijakan yang  dilakukan Amerika sebelumnya serta membalikkan preseden puluhan tahun lalu yang bertentangan dengan konsensus internasional.

2. Perancis

Disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Marc Ayrault, yang dimuat dalam Kompas.com menyebut rencana pemindahan kantor Kedubes AS ke Jerusalem sebagai 'provokasi'. Ayrault juga menyebutnya sebagai 'ancaman' terhadap upaya mewujudkan solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Berbicara pada akhir pertemuan perdamaian Timur Tengah di Paris, Minggu (15/1/2016), Ayrault mendesak Trump untuk tidak menerapkan rencana ini sebelum perundingan damai putaran baru disepakati. Ayrault menegaskan bahwa pemindahan Kedubes AS ke Jerusalem 'akan memicu gelombang kekerasan baru' di Timur Tengah.

Masyarakat internasional, termasuk AS, hanya mengakui Tel Aviv sebagai ibu kota Israel dan semua kantor kedutaan asing berada di kota ini. Namun pemerintah Israel telah menyatakan Jerusalem sebagai ibu kota mereka, yang mencakup Jerusalem Timur, yang ditetapkan Palestina sebagai ibu kota negara masa depan. Status Jerusalem adalah salah salah masalah paling kompleks dan paling sensitif dari keseluruhan konflik antara Israel dan Palestina.

3. Palestina

Dikutip oleh Kompas.com Presiden Otorita Palestina, Mahmoud Abbas, mengatakan, pemindahan Kedubes AS ke Jerusalem 'otomatis akan mematikan proses perdamaian dan menghapus peran AS sebagai penengah yang jujur'.

Keadaan yang sedemikian rupa tentunya akan memunculkan berbagai teori sebagai bentuk respon dari apa yang terjadi yang dimuat oleh sebuah situs middleeasteye.net, diantaranya:

  1. Shibley Telhami

Shibley Telhami, , cendekiawan di balik jajak pendapat Brookings, memahami angka-angka itu. Sementara datanya menunjukkan bahwa Demokrat menolak perpindahan kedutaan, dan orang-orang Republik "terbagi rata" dalam masalah ini, Trump mungkin mengajukan banding ke konstituen yang lebih spesifik lagi.

Di antara orang-orang Kristen Evangelis, salah satu kelompok pro-Trump yang paling setia dari pemilih Amerika, sekitar 53 persen mendukung perpindahan kedutaan ke Yerusalem, sementara 40 persen menentang relokasi tersebut, kata Telhami.

Ada pendukung lain yang perlu dipertimbangkan. Pada bulan Maret 2016, Trump menjanjikan kepada Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC) sebuah lobi yang kuat bahwa dia akan "memindahkan kedutaan besar Amerika ke ibukota abadi orang-orang Yahudi, Yerusalem."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2