Mohon tunggu...
Aditya Rustama
Aditya Rustama Mohon Tunggu... Freelancer - Warga Sipil

penjual sepatu localpride di @sepatukiri.id suka membaca novel, kini sedang belajar nulis seneng belajar budaya Jepang

Selanjutnya

Tutup

Novel

Obrolan Sederhana (Bab 8)

16 September 2021   07:15 Diperbarui: 16 September 2021   07:23 61 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Didit datang lebih awal. Setengah jam sebelum waktu yang ditentukan, dia sudah menunggu di tempat yang telah ditentukan. Memang sudah menjadi kebiasaan Didit datang lebih awal agar bisa mengantisipasi keadaan. Kebiasaan itu sudah dia lakukan saat SMA. Apalagi saat ujian. Ujian apa pun. Saat di kampus pun sama. Ketika mendapati ujian atau presentasi tugas di kelas, pasti ketika malam dia tidak bisa tidur. Hanya memikirkan keadaan atau sekadar kemungkinan yang terjadi esok harinya. Karena itu, dia menyempatkan datang lebih awal.

Tentu malam sebelum pertemuannya dengan Fara juga menjadi malam yang panjang. Pertemuan pertama secara resmi yang disepakati kedua belah pihak. Sebagai orang yang tergolong memiliki kepribadian introvert atau tertutup, momen-momen seperti itu memaksa adrenalin-nya berjalan lebih cepat, bahkan sangat cepat. Berbagai rasa berkecamuk dalam solar plexus-nya.

Kondisi seperti itu membunuh Humonculus yang hidup di dalam otaknya. Didit berubah menjadi dia yang bukan sastrawan besar lagi. Hanya kecemasan terhadap situasi yang kini hinggap dalam otaknya. Kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari ketakutan mendominasi jalannya informasi yang tertata di saraf penghubung di seluruh penjuru otak, yang terbungkus rapi di dalam tempurung bermahkota rambut ikal versi belah tengah.

Alhasil, penyesalan secara tak sengaja memenuhi sebagian besar informasi yang sebenarnya telah diantisipasi dengan baik. Dasar Didit, selalu saja kecerdasannya hilang di depan perempuan, apalagi perempuan itu memiliki daya tarik tersendiri baginya.

"Ah, kenapa sih aku melakukan kekonyolan seperti ini?" tanyanya dalam hati. Lantas dia melihat jam. Masih dua puluh delapan menit menuju waktu yang ditentukan.

"Tapi bukannya aku harus berani untuk hal semacam ini. Aku kan sudah semester delapan. Masak belum pernah mengalami hal yang bernama kencan." Si Malaikat membawa elektron positif untuk menenangkannya.

"Emang kalo semester delapan dan belum pernah berkencan adalah aib?" Si Penanya mempertanyakan kembali keberadaan Didit yang tengah dibodohi ketololannya sendiri sebagai lelaki.

"Lagian aku juga nggak berharap lebih. Aku hanya ingin bertemu saja. Bisa kenal saja sudah cukup." Didit menatap bangku kosong didepannya. Setiap hari bangku itu silih berganti diduduki orang. Bangku itu seperti memiliki kekutan jiwa yang pasrah dan nrimo,dalam hal siapa yang mendudukinya. Bangku itu dirasa Didit mengiyakan argumennya terkahir soal keinFaran kecil tentang pertemuan.

Tentu Didit tahu, filosofi bangku adalah mereka tak pernah protes dengan apa yang menimpa atau menduduki. Dan paling penting bangku hanya bisa pasrah ketika Si Penduduk pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tercampakkan dan kasihan. Barangkali pelajaran itu yang ingin diambil Didit agar bisa menenangkan dirinya jika terjadi suatu hal yang tidak dia inginkan.

"Alah. Kau malah mendengarkan bangku sialan seperti itu." Si Penanya semakin berhasrat untuk memojokkan Didit. "Apa kau tidak ingat. Pujaan hatimu saat di SMA? Dulu ketika perpisahan dia hanya mencampakkanmu dengan lelaki lain? Waktu itu kau bisa apa? Pasrah? Tidak mungkin. Karena yang perlu kau ingat, saat itu, kau adalah orang yang pulang paling awal dalam pesta perpisahan kelulusan. Mengendarai Vespa sendiri dan seolah menangis karena kau tersakiti. Huuuuu, kasihan. Apa kau tidak takut kecewa lagi dengan sosok bernama perempuan. Yang akhirnya akan membuatmu murung dan murung lagi?"

Didit merunduk. Kaku. Sulit baginya menghilangkan memori itu. Walau sudah dibantu oleh lagu dari Rocket Rockers dengan trackHilang Ingatan-nya, rehabilitasi itu tidak pernah berhasil. Benar kata Andeas Harsono, bahwa masa lalu mungkin bisa tertinggal tapi tak pernah bisa terlupa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan