Mohon tunggu...
Aditya Rustama
Aditya Rustama Mohon Tunggu... Freelancer - Warga Sipil

penjual sepatu localpride di @sepatukiri.id suka membaca novel, kini sedang belajar nulis seneng belajar budaya Jepang

Selanjutnya

Tutup

Novel

Obrolan Sederhana (Bab 7)

15 September 2021   07:15 Diperbarui: 15 September 2021   07:19 69 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Butuh satu malam Fara selesai membaca buku dari Didit. Setelah selesai membaca buku, Fara kembali mengetik pesan yang sudah dia persiapkan saat dia membaca. Namun dia belum mendapatkan alasan berbasa-basi saat memulai mengirim pesan. Dia memilih menunggu waktu yang tepat melakukan keinginannya. Sama dengan menunggu, merencanakan waktu yang tepat ternyata juga melelahkan.

Hari demi hari dilalui Fara dengan rencana yang ada di kepala. Waktu semakin beranjak. Dia belum bisa menapaki secara beriringan. Ternyata Fara belum berdamai dengan rencananya sendiri. Masih ada ketakutan mengenai dirinya yang perempuan, yang sulit mengawali. Jika seperti ini terus, barangkali Fara tak akan pernah mengirim pesan yang telah dia persiapkan cukup lama.

Satu minggu berlalu setelah hari pertemuan mereka. Pertemuan berpindahnya buku dari Didit ke tangan Fara. Diselingi dengan aktifitas kuliah dan berkumpul dengan teman-tamannya. Fara melalui hari-hari yang cukup membingungkan selama seminggu. Dalam kesibukannya sebagai mahasiswa dan kegiatan sosial, dia terlihat kurang ceria. Wajahnya tidak memperlihatkan dalam kondisi yang baik. Ada yang mengganggu di kepalanya.

Rupanya pesan yang sudah dia persiapkan selama satu minggu belum sempat dikirim untuk orang yang memberinya buku, yakni Didit. Untung Fara masih memiliki teman baik yang setia menemaninya dalam rangka menghilangkan penat kesendirian. Kesepian memang pangkal dari tindakan hal bodoh.

Barangkali Didit mengalami kondisi bodoh karena kesepian. Hingga harus membuat buku dan memberikannya pada Fara. Dia tak cukup bisa menahan hasratnya untuk merasakan sunyi. Padahal yang dulu diyakini Didit, bahwa sunyi adalah sendiri dan gagah. Dia bisa memposisiskan diri sebagai makhluk yang mampu melakukan suatu apa pun tanpa ada kekangan dari pihak lain.

Buku itu, telah menjadi saksi bisu bahwa Didit kini telah berubah. Dia tak lagi yakin dengan definisi sunyi yang dibuatnya sendiri. Jika Didit sadar, mestinya dia menyesal dengan apa yang dilakukannya dalam satu bulan ini. Dengan membuat buku dan memberikan pada Fara, dia telah menjadi makhluk yang benar-benar kesepian. Sepi dalam ruang tunggu yang penat. Dan didalamnya hanya ada penyesalan.

Begitulah penyesalan mengurung Didit. Penyesalan senantiasa menenggelamkannya pada harapan-harapan palsu. Setiap hari selalu muncul pertanyaan, jika Fara merespon baik, kenapa dia tidak segera mengirimkan pesan untuk sekadar membuat pertemuan. Ah, penantian memanglah hal yang terpanjang dalam hidup.

Hampir setiap hari ketika ponsel berdering menandakan ada pesan, Didit selalu berharap nomor baru yang mengirim pesan. Tidak salah lagi, pesan dari Fara yang dia tunggu. Pernah di suatu tengah malam, ada nomor nomor baru yang mengirim pesan. Dia seakan tidak cukup berani membuka pesan tersebut. Dengan perasaan berbunga dia membuka kotak masuk di ponselnya.

Sial benar malam itu. Ternyata setelah pesan itu dibuka, bukan pesan berbasa-basi membuka obrolan. Malah pesan iklan yang tidak jelas mengenai penawaran barang elektronik. Teknologi memang tak pernah memahami manusia. Pesan sialan, umpatnya. Pesan itu membuatnya semakin terjaga, hampir setiap malam. Dia muak. Barangkali Didit hampir atau memang telah menyerah. Lelah menunggu pesan dari Fara. Dia bertanya dalam hati, lantas di mana kebahagiaan itu, kapan dia mau datang dan mengetuk pintu?

Seolah mengerti apa yang dirasakan Didit dalam penantian, Fara meyakinkan diri bahwa malam ini adalah malam yang tepat mengirimkan pesan untuk Didit. Tujuh hari setelah Fara menyelesaikan membaca, di hari, bulan dan tahun yang sama, namun beda tanggal. Dia mencoba menguatkan diri mengirim pesan kepada Didit. Karena Fara sendiri juga tak ingin berlarut-larut dalam rasa penasarannya.

Walau Fara masih canggung dan belum mengerti. Apakah yang dilakukannya benar, sebagai perempuan tentunya. Karena dalam satu minggu ini, yang masih membayangi pikiran Fara adalah, dia masih sulit menggambarkan apa yang dia inginkan terhadap Didit atau yang Didit inginkan dari Fara. Maka dari itu, ada penundaan yang semakin berlarut-larut selama satu minggu. Mengulur begitu saja. Dan sulit dijelaskan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
Mohon tunggu...

Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan