Mohon tunggu...
Aditya Rustama
Aditya Rustama Mohon Tunggu... Freelancer - Warga Sipil

penjual sepatu localpride di @sepatukiri.id suka membaca novel, kini sedang belajar nulis seneng belajar budaya Jepang

Selanjutnya

Tutup

Novel

Obrolan Sederhana (Bab 6)

14 September 2021   07:15 Diperbarui: 14 September 2021   07:18 63 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Di belahan dunia lain, masih di daerah Semarang, Didit merasakan kepuasaan yang menyimpan pertanyaan. Kepuasaan karena dia sudah berani memberikan buku yang dia tulis kepada Fara. Serta pertanyaan yang mengandung unsur "bagaimana jika".

Rekam jejak perjalanan hidup Didit, belum pernah dia mengalami kemerdekaan dalam hal berani bertindak. Selama ini hal yang dilakukannya didasari oleh tuntutan atau kewajiaban. Dalam hal menghadap dosen, misalnya, walau dia tidak berani dan malas, tetap saja dia mau melakukannya. Kewajiban terkadang memang menyiksa. Di saat kita butuh sesuatu yang memang benar-benar ingin, kewajiban melarangnya. Di sisi lain, saat kita tidak ingin, kewajiban memaksa agar melaksanakan dengan dalih tanggung jawab. Barangkali di dunia yang kita huni, tanggung jawab berarti sialan.

Ketidakberanian yang ada pada Didit membawanya dalam penyesalan. Untuk itu kesempatan ketika dia mengenal Fara secara tidak sengaja, dia mencoba memberanikan diri bertindak. Sekadar membuktikan pada dirinya bahwa dia telah banyak belajar. Didit mencari cara yang elegan. Agar keberanian yang ingin dibuktikan terhadap dirinya sendiri tidak berakhir buruk. Seringkali ketika dia berani, hal buruk telah menunggu untuk mencampakkannya.

Entah itu di-cuek-in, tidak dianggap sama sekali, dicampakkan atau hal lain yang menggambarkan ketidaknyamanan. Tapi ada juga yang mau merespon baik. Sosialisasi memang sulit. Mesti pintar rumus berbasa-basi. Saat beruntung mendapati orang yang mau diajak berbincang, ada hal lain yang mengganggu sebuah perbincangan. Yaitu topik pembicaraan. Lebih parah lagi, yang tidak menyenangkan adalah ketika topik pembicaraan tidak nyambung atau terlalu mengharukan.

Topik pembicaraan merupakan hal penting dalam komunikasi. Terkadang suatu topik yang diutarakan lawan bicara adalah boomerang yang bisa meracuni mood seseorang. Biasanya, orang yang nyaman berbincang akan berbicara panjang lebar mengenai apa pun. Dan lebih banyak soal kehidupan pribadi. Tentang perjuangan hidup, keluarga atau apa pun. Topik semacam itulah yang tidak ingin didapat Didit ketika membangun perbincangan. Lebih asik menonton kartun, atau membaca cerita. Pokoknya yang happy ending dan selalu bahagia.

Hal yang mendasari Didit tidak suka mendengar pembicaraan tentang kesedihan adalah karena hidupnya saja sudah menyedihkan. Kenapa juga dia harus mendengar kisah sedih dari orang lain. Begitulah awal kenapa dia tidak suka topik yang menyedihkan.

Dalam sebuah kesempatan, saat mencoba berbincang dengan seseorang, Didit semacam dipaksa mendengarkan kisah hidup yang mengharukan. Padahal dia sedang tidak ingin mendengar keluhan. Waktu itu dia merasa seperti berada dalam reality show yang menguras asih.

Barangkali dunia memang tempat menyedihkan, pikirnya kala itu. Kenapa hal yang kelihatan menyengsarakan selalu menuntut kita serius. Tapi tak apa. Mungkin dari kejadian orang yang bercerita kepada Didit bisa sedikit menambah pejalaran mengenai hidup.

Setelah kejadian itu Didit mencoba untuk sedikit realistis dengan hidup. Realistis mungkin upaya membohongi diri sendiri dalam kesempatan apapun. Seperti emotikon yang bisa diselipkan pada teks pesan. Ada banyak sekali mimik wajah yang bisa kita pilih untuk dikirim ke orang lain. Walau sebenarnya, yang kita alami berbeda dengan yang digambarkan emotikon. Itulah sebuah gambar sederhana dari hidup. Kenyataan sebenarnya sulit tergambarkan secara nyata.

Kali ini setelah memberi buku kepada Fara dan balik ke kos, Didit bingung memilih ekspresi wajah yang seperti apa. Senang, iya. Sedih, juga bisa. Marah, ada perasaan marah juga yang mengendap. Banyak hal yang berkecamuk di kepala Didit membuatnya lelah.

Ada berbagai spekulasi yang tidak dia mengerti. Tentang apa yang akan terjadi setelah ini. Dan apakah segala kejadian di hari ini akan merubah hidupnya. Misalnya, Fara akan menghubungi Didit dari nomor kontak yang dia cantumkan dalam buku. Lalu, mereka saling bertemu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Novel Selengkapnya
Lihat Novel Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan