Mohon tunggu...
Dimas Handi
Dimas Handi Mohon Tunggu... Yes, it's me.

Marketing buku Perguruan Tinggi, Alumni FPBS

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Menulis, Tak Harus Sempurna

3 Februari 2020   14:44 Diperbarui: 4 Februari 2020   09:15 458 7 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menulis, Tak Harus Sempurna
https://all-free-download.com/free-vector/download/letter-background-writing-hand-paper-icons-classical-design_6837888.html

Sebuah kesempurnaan dalam kehidupan sehari-hari kita, dapat menjadi suatu pemicu atau bahkan penghambat dalam kegiatan kita. Sempurna, menurut KBBI mempunyai arti: utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela); dan lengkap atau komplet, sedangkan kesempurnaan berarti perihal atau keadaan yang sempurna.

Pertanyaannya adalah, apakah ada ciptaan manusia yang sempurna di dunia ini? Ciptaan dalam bentuk apapun. Saya rasa tidak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha untuk sempurna.

Jika kita ambil pemisalan, program komputerpun, yang dibuat (mungkin) oleh banyak orang, masih tetap tidak ada yang sempurna, selalu ada bug di sana-sini yang menjadi PR untuk penyempurnaan selanjutnya. Kemudian, dalam sebuah naskah tulisan yang kita buat, dalam bentuk apapun, misalnya bentuk fiksi atau non fiksi, selalu ada ketidaksempurnaan, selalu ada yang tidak lengkap dan biasanya menjadi PR pula bagi penulis untuk merevisinya di kemudian hari.

Lalu apakah karena kata "sempurna" ini akan memicu atau menghambat seseorang untuk menulis, inilah yang harus dibahas dengan lebih rinci.

Di dalam dunia tulis menulis, apalagi jika sebuah naskah sudah dimasukkan ke dewan redaksi sebuah penerbit, lupakanlah kesempurnaan itu. Mengapa? Karena editorlah yang nantinya akan menyempurnakan tulisan kita, menambal sulam isi naskah kita, mengoreksi, mencorat-coret, bahkan sampai membuang beberapa tulisan kita, untuk diganti dengan yang lain. Dalam hal ini editor akan berfungsi sebagai penyempurna tulisan kita dan bisa sampai kepada sidang pembaca.

Jadi, pemicu dan penghambat ini tentu pada akhirnya akan berpulang kepada pribadi sang penulis itu sendiri. Jika sebuah kesempurnaan dapat memicu seseorang lebih intens menulis, sungguh sangat bagus, karena dengan itu, penulis terpacu untuk totalitas dalam menulis, mengambil banyak referensi dari tulisan-tulisan lain, mengembangkannya, memodifikasi hingga tercipta tulisan baru yang lebih sempurna (tentu dalam kacamata pribadi penulis).

Kesempurnaan ini akan menjadi suatu penghambat dalam menulis, apabila penulis hanya berorientasi kepada nilai dari tulisan itu sendiri. Misal, penulis mempunyai standar tertentu dalam menilai tulisannya. 

Jika penulis merasa belum puas akan tulisannya sendiri, taruhlah belum mencapai nilai sembilan atau sepuluh, dan oleh karenanya penulis merasa terkungkung oleh standar yang Ia buat sendiri, maka, yang kerap kali terjadi adalah apa yang Ia tulis pada akhirnya hanya akan menghias sebagian besar folder yang ada di komputer atau laptopnya.

Tanpa pernah tulisan itu ia publikasikan baik dalam bentuk artikel di blog atau bentuk buku. Atau hanya sebagian kecil teman atau kerabat yang membacanya. Hal ini acapkali terjadi pada banyak penulis pemula.

Lalu, bagaimana caranya agar kita mulai dapat menulis dengan lebih intens tanpa dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan, "sudah sempurnakah tulisan Saya ini?". Jawabannya menurut hemat saya, teruslah menulis sampai rampung untuk setiap judul yang sudah direncanakan. Sempurna atau tidak, biarkanlah pembaca yang menilai. Lebih jauh lagi biarlah para editor yang menilai. 

Sepanjang tulisan kita tidak mengundang plagiasi dari tulisan lain, tidak menyinggung SARA, tidak mendiskreditkan orang lain, tidak menyebabkan permusuhan, dan yang penting pada zaman ini, tidak mengandung unsur hoax, berbahagialah, ternyata kita sudah dapat menulis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN