Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of "gerairasa.com" Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno highlight headline

Mengapa Pengelola Startup Perlu Jalin "Chemistry" dengan Investor?

16 Maret 2017   08:07 Diperbarui: 16 Maret 2017   22:07 220 9 3
Mengapa Pengelola Startup Perlu Jalin "Chemistry" dengan Investor?
Pengelola Startup Perlu Jalin “Chemistry” dengan Investor / https://blog.designs.codes

Badan Ekonomi Kreatif mengirimkan startup Ahlijasa sebagai delegasi Indonesia untuk mengikuti kompetisi Grand Final Startup World Cup yang diselenggarakan di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Pada kompetisi yang akan berlangsung pada tanggal 24 Maret 2017 itu, Ahlijasa akan bertanding melawan startup dari negara lain, seperti Jepang, India, dan China, untuk memperebutkan hadiah sebesar 1 juta dollar atau setara 13 milliar rupiah.

Ahlijasa adalah sebuah startup yang menyediakan layanan berupa jasa binatu dan servis peralatan rumah tangga. Startup yang “dikomandani” oleh Jay Jayawijayaningtyas itu terpilih mengikuti ajang tersebut setelah sebelumnya sukses menjadi jawara pada kompetisi Startuppedia ASEAN Chalangge 2016.

Ahlijasa keluar sebagai pemenang sesudah menyisihkan startup dari negara lainnya. Maka, Ahlijasa pun berhak mendapat hadiah uang sebesar 50 ribu dollar Amerika Serikat.

Biarpun berstatus juara, bukan berarti bahwa Ahlijasa akan “melaju mulus” melewati babak demi babak pada kompetisi World Cup kali ini. Sejumlah tantangan sudah pasti datang menghadang. Apalagi, lawan yang bakal dihadapi terbilang kuat, seperti startup dari China dan India, yang kemajuan teknologi informatikanya sudah jauh lebih berkembang.

Apapun hasilnya nanti, kita tentunya patut bangga lantaran karya anak bangsa mendapat kesempatan untuk bersua, berkenalan, dan beradu tangkas dengan dengan startup dari negara lain. Syukur-syukur Ahlijasa bisa menjuarai kompetisi tersebut.

Apabila terjadi demikian, hal itu tentunya akan membawa dampak yang positif bagi perkembangan startup di tanah air. Sebab, para inverstor asing akan melirik Indonesia sebagai “ladang” startup yang potensial, sehingga mereka bersedia menggelontorkan uangnya untuk memodali startup lokal.

Di satu sisi, hal itu tentunya memberi “angin sejuk” bagi pendiri startup di tanah air. Dengan mendapat dana investasi yang besar, tentunya mereka tak akan lagi dipusingkan oleh biaya operasional, ongkos promosi, dan anggaran lainnya sewaktu mereka mengelola startup tersebut.

Maka, mereka pun mempunyai ruang gerak untuk menciptakan inovasi dan melakukan ekspansi, sehingga startup tersebut bakal jauh berkembang pada masa depan.

Tak cuma itu, kehadiran investor juga bisa memberi “koneksi” pada pengelola startup untuk memperoleh pengetahuan dan sumber daya manusia yang berkualitas.

Sederhananya, investor bisa menjadi guru yang mampu membimbing dan “mendongkrak” performa startup tersebut, sehingga tak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat menembus pasar di negara lain.

Namun demikian, di sisi lain, keberadaan investor juga bisa menimbulkan masalah baru apalagi kalau terdapat perbedaan visi antara pendiri startup dan para investor. Alih-alih bekerja secara akur, bisa-bisa terjadi “saling sikut” di antara pemangku kepentingan tersebut.

Hal itu pernah terjadi pada startup lokal Valadoo. Valadoo adalah startup yang bergerak pada bisnis traveling, yang didirikan oleh Jaka Wiradisuria pada tahun 2010 silam.

Sebagai startup yang masih “hijau”, Valadoo termasuk beruntung lantaran pada tahun 2012, dua tahun setelah didirikan, Valadoo mendapat suntikan modal dari Wego dengan melakukan merger dengan Social Travel Burufly.

Rupanya itulah awal dari kejatuhan Valadoo. Biarpun banyak orang yang menilai bahwa Valadoo akan mampu bertahan lantaran mendapat investasi, nyatanya perusahaan itu ambruk juga, sehingga harus tutup pada tahun 2015.

Semua itu terjadi karena timbulnya perbedaan sistem, visi, dan kepentingan para “pejabat” di perusahaan tersebut.

Apa yang terjadi pada Valadoo tentu sangat disayangkan. Betapa tidak! Startup yang digadang-gadang bakal terus “bersinar” justru harus redup cahayanya, hanya dalam waktu lima tahun sejak didirikan.

Namun, itulah bisnis!

Tak ada seorangpun yang dapat memastikan sukses-tidaknya suatu bisnis. Walaupun demikian, kita tentu bisa belajar dari situ bahwa tak semua investor bisa mendatangkan dampak positif.

Jadi, bagi kita yang ingin atau sudah mempunyai startup, hal itu harus diperhatikan betul-betul. Jangan sampai kita tergoda oleh investasi besar tanpa mempertimbangkan “chemistry” antara pengelola startup dan investor.

“Chemistry” itu harus sudah terjalin sejak awal. Kedua pihak, pengelola startup dan investor, mesti menyamakan persepsi terlebih dulu agar terhindar dari mispersepsi pada kemudian hari.

Hal itulah yang terkadang sulit dilakukan, karena kedua pihak mempunyai fokus yang berbeda. Pengelola startup, yang didominasi oleh para milenial, misalnya, bisa saja lebih berfokus pada aspek layanan dan produk.

Mereka berusaha “mati-matian” menyempurnakan layanan dan produk dengan mengesampingkan anggaran. Terkesan idealis memang, tetapi itulah yang umumnya terjadi kalau startup dikelola oleh anak muda.

Sebaliknya, investor lebih memerhatikan soal anggaran. Namanya juga investor. Mereka tentu tak ingin rugi lantaran dana yang mereka tanamkan “hangus” begitu saja lantaran pengelola startup hanya berfokus menyempurnakan produk, sehingga memakai dana yang ada secara “jor-joran”.

Hal itulah yang kemudian bisa memicu konflik. Oleh sebab itu, jauh sebelum sepakat bekerja sama, lebih baik kedua pihak membikin “aturan main” yang jelas dan mengungkapkan isi pikiran masing-masing. Dengan demikian, kasus kegagalan yang sudah-sudah tak akan terulang pada startup lainnya.

Salam.

Adica Wirawan, Founder Gerairasa.com

Referensi:

“Indonesia kirim Ahlijasa ke ajang "Startup World Cup" 2017”, antaranews.com, diakses pada tanggal 16 Maret 2017.

“Belajar dari Tutupnya Startup Lokal Valadoo”, kompas.com, diakses pada tanggal 16 Maret 2017.