Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Mengukur Keperkasaan "Otot" IHSG pada Bulan Desember

30 November 2020   07:03 Diperbarui: 30 November 2020   10:46 628 37 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengukur Keperkasaan "Otot" IHSG pada Bulan Desember
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 80,67 poin atau 1,42% ke 5.759,92 pada akhir perdagangan Kamis (26/11) di Bursa Efek Indonesia.| Sumber: KONTAN/Carolus Agus Waluyo

Walaupun masih "dicengkeram" oleh pandemi Covid-19, namun bulan November boleh dibilang merupakan waktu terbaik bagi laju Indeks Harga Saham Gabungan alias IHSG. Betapa tidak, sejak awal November sampai hari ini IHSG sudah mengalami kenaikan sebesar 12%. 

Saat tulisan ini dibuat, IHSG "nyaman" bertengger di level 5780-an dan masih mungkin menguat pada bulan berikutnya.

Tren positif tersebut bisa terjadi bukan tanpa sebab. Meskipun laporan keuangan kuartal 3 yang dirilis sejumlah emiten berkapitalisasi "jumbo" belum menunjukkan hasil yang memuaskan karena kinerjanya masih menurun akibat pandemi Covid-19, namun ada beberapa sentimen positif yang mampu "mendongkrak" pergerakan IHSG. 

Bulan Desember/ sumber: psychologytoday.com
Bulan Desember/ sumber: psychologytoday.com
Setidaknya ada tiga sentimen yang menyebabkan hal tersebut:

1. Efek Omnibus Law Cipta Kerja 

Sejak bulan Oktober, Omnibus Law memang telah menjadi topik hangat yang begitu banyak dibicarakan di tengah masyarakat, termasuk kalangan investor saham. Maklum, kebijakan tersebut diperkirakan bakal membuka lebih lebar "keran investasi" yang berasal dari luar, membuka banyak lapangan pekerjaan, dan menyejahterakan banyak orang dalam jangka panjang.

Biarpun masyarakat sempat melakukan unjuk rasa di sejumlah daerah karena Omnibus Law dinilai lebih pro pada kepentingan investor ketimbang karyawan, namun DPR tetap kukuh meloloskan kebijakan tersebut. Draf UU Cipta Kerja kemudian diserahkan kepada Presiden Joko Widodo untuk ditandatangani. 

Presiden Joko Widodo/ sumber: bisnis.com
Presiden Joko Widodo/ sumber: bisnis.com
Sempat muncul spekulasi bahwa Presiden tidak akan menyetujui draf tersebut, mengingat penolakan masyarakat, terutama yang berasal dari buruh tampak begitu masif dilakukan. Namun, spekulasi itu tidak terbukti. 

Pada awal bulan November, Presiden akhirnya resmi memberikan tanda tangan sekaligus menunjukkan dukungan penuh terhadap kebijakan tersebut. Kepastian itulah yang kemudian turut melambungkan IHSG. Investor merasa yakin bahwa dengan diberlakukannya kebijakan tersebut, perekonomian Indonesia bakal berkembang dengan baik dalam beberapa tahun mendatang.

2. Efek Kemenangan Joe Biden 

Boleh dibilang Pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun ini berlangsung begitu "dramatis". Disebut demikian karena mulai dari masa kampanye, debat pilpres, hingga penghitungan suara, semuanya diselimuti ketidakpastian mengingat kedua kandidat, yakni Donald Trump dan Joe Biden sama-sama mempunyai peluangan yang cukup besar untuk menang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x