Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Berminat Beli Saham karena Faktor "Orang Dalam"?

4 Agustus 2020   08:10 Diperbarui: 5 Agustus 2020   17:11 350
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi orang dalam perusahaan/ sumber: https://www.middlemarketcenter.org

Meski begitu, saat akan berinvestasi, saya agak sulit memilih satu di antara keduanya. Masing-masing mempunyai plus-minusnya tersendiri. Yang saham ritel diketahui mencatatkan kenaikan penjualan dan laba bersih di atas 30% secara year on year, membagikan dividen dalam jumlah yang besar, dan mempunyai brand yang cukup terkenal di masyarakat.

Namun, sayang, sahamnya kurang begitu likuid diperdagangkan. Alhasil, kalau berinvestasi di saham ini, maka saya bisa susah menjualnya kalau-kalau sedang butuh uang.    

Sementara, yang saham perkapalan memiliki prospek yang bagus, terpilih menjadi salah satu "penghuni baru" IDX80, dan sangat aktif diperjual-belikan.

Namun, sayang, saya masih ragu dengan tata kelola perusahaannya, mengingat beberapa tahun lalu, sahamnya pernah disuspen karena perusahaan mengalami gagal bayar atas utang yang dimilikinya.

Oleh sebab itu, agak sulit bagi saya untuk menentukan saham mana yang layak dibeli. Namun demikian, setelah meneliti keduanya lebih dalam, saya akhirnya menemukan informasi yang cukup menarik tentang kepemilikan saham yang disimpan oleh "orang dalam". Ternyata ada perbedaan yang begitu kontras di antara keduanya.

Perbedaan tadi terletak pada transaksi saham yang dilakukan oleh "orang dalam" perusahaan tersebut. Untuk saham ritel, saya mendapati adanya pembelian yang dilakukan oleh direktur utamanya sendiri dalam dua tahun terakhir.

Dari riwayat transaksinya, sang direktur ternyata rajin membeli sahamnya sejak tahun 2019 silam. Pembelian tadi dilakukan pada bulan Maret 2019, September 2019, dan Juni 2020. Semua transaksi tadi dilakukan untuk keperluan investasi.

Sebaliknya, saham perkapalan cenderung lebih banyak dijual oleh investor mayoritasnya. Penjualan tadi bahkan begitu sering dilakukan dalam 6 bulan terakhir. Alhasil, sampai tulisan ini dibuat, jumlah saham yang dimiliki oleh investor mayoritasnya pun menyusut cukup banyak.

Dari situ, terlihat jelas bahwa saham ritel lebih layak investasi ketimbang saham perkapalan karena "orang dalam"-nya begitu percaya pada kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Pembelian saham ritel yang dilakukan oleh sang direktur tadi menegaskan hal tersebut.

Berbeda sekali dengan saham perkapalan. Meskipun disebut-sebut mempunyai prospek bisnis yang cerah selama pandemi covid-19, namun kalau investor mayoritasnya, yang notabenenya mengetahui kondisi sesungguhnya dari perusahaan tersebut, malah menjual sahamnya secara masif, bukankah itu adalah hal yang aneh?

Penjualan tersebut boleh jadi mengindikasikan bahwa ada yang kurang beres dengan bisnis yang dijalankan perusahaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun