Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Averaging Up, Jurus Maksimalkan Untung Tanpa Bikin "Sport Jantung"

4 Juni 2020   09:01 Diperbarui: 5 Juni 2020   07:39 821 16 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Averaging Up, Jurus Maksimalkan Untung Tanpa Bikin "Sport Jantung"
Ilustrasi Averaging Up| Sumber: Andriy Popov/es.123rf.com

Di pasar saham mungkin terdapat 1001 "jurus" yang bisa dipakai untuk memaksimalkan keuntungan. Salah satu "jurus" yang cukup populer ialah Averaging Up. Jurus ini sejatinya diperkenalkan oleh Jesse Livermore.

Livermore adalah spekulan legendaris dari Amerika Serikat, yang sanggup mengeruk jutaan dollar dari kejatuhan pasar saham pada awal abad ke-20. Setelah peristiwa itu, ia pun dijuluki sebagai "The Great Bear of The Wall Street".

Pada tahun 1940, Livermore menerbitkan sebuah buku tentang strategi investasinya. Judulnya "How To Trade In Stocks".

Meskipun hanya terdiri atas 133 halaman, namun, buku ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak investor saham. Sebab di dalamnya, Livermore menjelaskan berbagai macam hal yang dilakukannya saat bertransaksi saham. Berkat "jurus-jurus" tadi, ia disebut mampu mengeruk untung yang banyak dari jual-beli saham.

Jesse Livermore/ sumber: https://medium.com
Jesse Livermore/ sumber: https://medium.com
Satu "jurus" yang kerap dipakai Livermore dalam berdagang sama ialah Sistem Piramida. Sistem ini merupakan nama lain dari Averaging Up, karena keduanya sama-sama memuat konsep "membeli saham ketika harganya bergerak naik".

Jadi, untuk pembahasan seterusnya di dalam artikel ini, maka, saya akan menggunakan istilah Averaging Up ketimbang Sistem Piramida, karena istilah tersebut sudah cukup familiar di kalangan investor.

Averaging Up cukup mudah dilakukan. Caranya, belilah saham yang beranjak naik harganya dengan cara mencicil.

Contohnya, belum lama ini, saya membeli saham sebuah perusahaan sawit dengan menggunakan "jurus" Averaging Up.

Alasan saya tertarik membeli saham tadi sebetulnya cukup sederhana. Labanya melonjak, fundamentalnya membaik, dan harganya murah. 

Meskipun tampak "menggoda", namun, saya merasa waswas. Sebab, saya tahu, harga sawit sedang hancur-hancuran akibat pandemi corona. Kalau beli saham tadi, saya khawatir, alih-alih naik, harganya bisa amblas.

Jadi, walaupun awal-awal harga sahamnya sempat naik sebesar 7% setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal 1, tapi, saya tidak bisa langsung membelinya sekaligus. Hal itu jelas terlalu berisiko. Saya pun memutuskan menunggu beberapa hari, sambil terus memantau pergerakan harganya. Kalau ada tanda-tanda bakal naik, barulah saya "serok" sahamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN