Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Mengulik Fundamental Saham Milik Asabri

12 Januari 2020   09:01 Diperbarui: 17 Januari 2020   04:54 801 9 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengulik Fundamental Saham Milik Asabri
Belakangan nama Asabri sedang diterpa isu negatif setelah Menkopolhukam Mahfud MD menyebut bahwa portofolio saham yang dikelola Asabri merugi hingga 10 triliun rupiah. (Sumber gambar: industry.co.id)

Saat iseng mencari saham yang bagus dan murah, mata saya tertuju pada saham HRTA (PT Hartadinata Abadi Tbk). Sekilas saham ini punya fundamental yang bagus. Biarpun baru Go Public pada tahun 2017, keuntungan yang dicetaknya setiap tahun cenderung besar dan konsisten.

Utang yang dimiliki HRTA juga sedikit, sehingga saham ini relatif aman dipegang. Yang lebih menarik lagi ialah valuasi harganya. Saat tulisan ini dibuat, PBV-nya hanya 0.8 kali dan PER-nya cuma 6 kali. Dengan valuasi demikian, saham ini termasuk salah harga alias murah sekali!

Walaupun tampak "menggoda" baik dari segi kualitas maupun harga, saya urung membeli saham ini setelah melihat bahwa saham ini dimiliki oleh PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri).

Maklum, belakangan nama Asabri sedang diterpa isu negatif setelah Menkopolhukam Mahfud MD menyebut bahwa portofolio saham yang dikelola Asabri merugi hingga 10 triliun rupiah!

Kerugian tersebut jelas bukan jumlah yang kecil. Nilainya memang lebih sedikit daripada kerugian yang ditanggung Jiwasraya yang mencapai 23 triliun lebih, tetapi kalau didiamkan begitu, kerugian tadi bisa melebar, sebab kalau mengulik saham-saham yang dipegang Asabri, penurunan harganya sudah cukup mengkhawatirkan!

Berdasarkan data dari kontan.co.id, Asabri mengoleksi sedikitnya 12 saham di portofolionya. Keduabelas saham itu, di antaranya, ialah HRTA (KEPEMILIKAN 5%), PPRO (5%), POLA (7,6%), MYRX (5,4%), ICON (5%), IIKP (5,4%), SMRU (6,6%), NIKL (10%), FIRE (15%), SDMU (18%), dan BBYB (20%).

Jika dicermati satu per satu, kita akan mendapati bahwa tak ada satu pun "saham bluechip" di situ. Mayoritas adalah saham-saham berkapitalisasi kecil, yang pergerakan harganya cenderung "liar".

Selain itu, saham-saham tadi juga terbilang masih "hijau", karena rata-rata baru IPO antara tahun 2011-2018. Hanya terdapat sedikit saham yang berusia "lawas", seperti MYRX (IPO tahun 1990), IIKP (2002), ICON (2005), dan NIKL (2009).

Lantas, apa pengaruhnya semua hal tadi terhadap perjalanan investasi yang dilakukan Asabri? Tentu saja perjalanan tersebut menjadi penuh "risiko". Sebab, perusahaan yang masih "baru" belum mempunyai catatan prestasi yang sudah teruji dan terbukti.

Apalagi beberapa saham yang dimiliki Asabri juga susah sekali diprediksi perkembangannya karena terkadang perusahaan membukukan keuntungan, kadang pula menderita kerugian. Dengan "rapor" demikian, jangan heran, harga sahamnya pun cenderung fluktuatif.

Di antara semua saham tadi, mungkin hanya ada dua yang punya fundamental yang lumayan bagus, yakni HRTA dan ICON. Untuk saham HRTA, analisis ringkasnya sudah disebutkan di paragraf awal, sehingga saya tak akan mengulangnya lagi di paragraf ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN