Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Mengapa Manajemen Jiwasraya Suka Beli "Saham Gorengan"?

2 Januari 2020   09:01 Diperbarui: 16 Januari 2020   19:01 918 10 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Manajemen Jiwasraya Suka Beli "Saham Gorengan"?
Jiwasraya (sumber: indonesiainside.id)

Wajah Lee Kang Hyung terlihat sendu. Di depan awak media yang mengerubunginya, lelaki yang menjabat sebagai Vice President Samsung Indonesia ini menceritakan "pengalaman pahit" sewaktu menjadi nasabah Jiwasraya.

Lee mengaku membeli polis asuransi dari Jiwasraya pada tahun 2017 silam. Ia mendapatkan produk tersebut dari Bank Hana, yang menjadi mitra Jiwasraya dalam hal pemasaran produk.

Tanpa menaruh curiga, Lee menginvestasikan dana sebesar Rp 16 miliar untuk membeli produk asuransi tersebut. Ia berani menggelontorkan uang sebesar itu karena diyakinkan bahwa Jiwasraya adalah badan usaha milik negara, dan kalau terjadi masalah keuangan, pemerintah pasti akan turun tangan. Semua pasti "aman".

Awalnya semua investasi yang dilakukan Lee di Jiwasraya berjalan normal. Tidak ada desas-desus atau "kabar miring" yang masuk ke telinganya, sehingga ia bisa tidur nyenyak tanpa khawatir memikirkan keamanan investasinya.

Namun, sayangnya, hal itu hanya berlangsung sebentar saja. Sebab, pada tahun ini, Jiwasraya diberitakan mengalami gagal bayar polis asuransi. Sebagai nasabah, Lee tentu saja mencari kejelasan atas nasib investasinya.

Lee Kang Hyung, VP Samsung Indonesia--dok. money.kompas.com
Lee Kang Hyung, VP Samsung Indonesia--dok. money.kompas.com
Setelah melakukan berbagai upaya, akhirnya Lee berhasil mencairkan polisnya sebesar Rp 8 miliar, sementara sisanya masih "nyangkut" di Jiwasraya. Meskipun belum ada kejelasan soal lanjutan pelunasan polis, ia masih berharap uangnya bisa dikembalikan secepatnya.

Selain Lee, ada 473 warga Korea Selatan lain yang menanggung persoalan yang sama. Jika semua ditotal, jumlah dana yang terancam gagal bayar mencapai Rp 502 miliar! Jumlah ini belum termasuk nasabah lain, sehingga nominalnya akan tambah membengkak apabila dikalkulasi secara keseluruhan.

Sampai tulisan ini dibuat, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Otoritas berwenang sedang mengumpulkan data-data terkait.

Makanya, dana nasabah yang mengendap di perusahaan asuransi pelat merah itu belum bisa dipastikan nasibnya. Boleh jadi, nasabah mesti menunggu sekian bulan atau tahun untuk mendapatkan haknya kembali.

Kalau kasus ini dibiarkan tanpa kejelasan, industri asuransi di Indonesia bisa "tercoreng", dan hal itu akan berdampak buruk bagi perekonomian.

Ekuitas Negatif

Untuk menjaga kestabilan industri asuransi di tanah air, pemerintah sebetulnya bisa mengulurkan bantuan. Namun, sepertinya bantuan tersebut urung diberikan karena jumlah dana yang diperlukan untuk menyelamatkan Jiwasraya terbilang sangat besar, yakni 23 triliun rupiah!

Angka itu muncul saat kita melihat neraca Jiwasraya. Di dalam neraca, Jiwasraya tercatat mempunyai aset sebesar Rp 25 triliun, sementara liabilitasnya Rp 49 triliun!

Jelas ini bukan kondisi neraca yang baik. Dalam akuntansi, jumlah aset idealnya lebih besar daripada liabilitas.

Ilustrasi Neraca (sumber: industriuscfo.com)
Ilustrasi Neraca (sumber: industriuscfo.com)
Sebab, kalau suatu saat perusahaan mau dibubarkan, manajemen bisa menjual aset untuk membayar liabilitasnya. Uang yang tersisa kemudian dibagi rata kepada para pemegang saham.

Sementara, kalau yang terjadi justru sebaliknya, bagaimana perusahaan bisa diselamatkan? Dengan jumlah utang yang sedemikian besar dan "napas" bisnis yang sedang terengah-engah, sepertinya hampir tidak ada investor yang mau menyuntikkan modal untuk menutupi kerugian tersebut!

Itulah yang terjadi dalam neraca keuangan Jiwasraya. Kalau situasi demikian, yang dirugikan tak hanya nasabah yang mengalami gagal bayar, tetapi juga pemerintah Indonesia sebagai pemilik perusahaan.

Salah Investasi

Masalah keuangan yang menjerat Jiwasraya ibarat sebuah "gunung es". Biarpun baru terlihat sekarang, masalah ini sebetulnya telah muncul dan berakumulasi sejak bertahun-tahun silam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x